Profil Dino Patti Djalal yang Disebut Teddy 'Wamenlu 3 Bulan', Pendidikannya dari Sarjana hingga PhD Dihabiskan di Luar Negeri
Kredit Foto: Dok. BPMI
Seskab Teddy Indra Wijaya memberikan reaksi keras menanggapi kritik mantan Wakil Menteri Luar Negeri, Dino Patti Djalal, terkait intensitas perjalanan luar negeri Presiden Prabowo Subianto.
Dalam responsnya, Teddy secara terbuka menyentil rekam jejak karier Dino Patti Djalal yang disebutnya sebagai diplomat hebat, namun hanya berkesempatan menjabat sebagai Wamenlu selama kurang lebih tiga bulan.
Sentilan ini mencuat saat Teddy meluruskan tudingan Dino terkait efisiensi anggaran dan jumlah rombongan kepresidenan.
"Terima kasih atas masukan dari Pak Dino Patti Djalal, saya pikir (beliau) diplomat hebat, pernah jadi Wamenlu walau hanya diberi kesempatan sekitar 3 bulan," ujar Teddy dalam video resmi di akun Sekretaris Kabinet.
Profil Dino Patti Djalal
Dino Patti Djalal lahir di Belgrade, Yugoslavia pada 10 September 1965, putra dari diplomat senior Hasjim Djalal.
Dunia diplomasi bukanlah hal baru bagi Dino Patti Djalal. Sejak kecil, ia sudah akrab dengan lingkungan hubungan internasional melalui sang ayah, Hasjim Djalal, seorang pakar hukum laut internasional sekaligus tokoh kunci di balik lahirnya United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS) pada 10 Desember 1982.
Pendidikan tingginya dari jenjang sarjana hingga S3 ia tempuh di luar negeri. Ia meraih gelar Sarjana Ilmu Politik dari Carleton University, Kanada, disusul gelar Magister dari Simon Fraser University, Kanada, dan menuntaskan gelar PhD bidang Hubungan Internasional di London School of Economics and Political Science (LSE), Inggris.
Dino resmi bergabung dengan Departemen Luar Negeri (sekarang Kementerian Luar Negeri) pada tahun 1987 dalam usia yang tergolong sangat muda, yakni 21 tahun. Di awal kariernya, ia sempat ditugaskan di berbagai pos diplomatik penting seperti London, Dili, hingga Washington DC.
Nama Dino mulai mencuri perhatian publik secara luas pada tahun 1999. Saat itu, ia dipercaya mengemban posisi krusial sebagai juru bicara pemerintah Indonesia dalam pelaksanaan referendum yang diorganisasi PBB di Timor Timur.
Karier diplomatik Dino terus meroket memasuki era reformasi. Saat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) terpilih menjadi Presiden RI, Dino langsung ditarik ke istana untuk menjabat sebagai Staf Khusus Presiden Bidang Internasional.
Rekam jejaknya di birokrasi kian mentereng lewat sejumlah jabatan strategis berikut:
Tahun 2010: Dilantik menjadi Duta Besar RI untuk Amerika Serikat di Washington DC.
Juni 2014: Diangkat menjadi Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) RI.
Oktober 2014: Menyelesaikan masa baktinya sebagai Wamenlu seiring bergantinya rezim pemerintahan.
Setelah mengabdi selama hampir tiga dekade di lingkungan birokrasi, Dino Patti Djalal akhirnya memutuskan untuk pensiun dini dari aparatur sipil negara pada pertengahan tahun 2015 guna melanjutkan pengabdian di sektor non-pemerintah.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Ferry Hidayat
Tag Terkait: