Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Harga Telur Stabil dalam Satu Minggu atau 71 Dapur MBG Ditutup, Ini Ultimatum Pemerintah Indonesia

        Harga Telur Stabil dalam Satu Minggu atau 71 Dapur MBG Ditutup, Ini Ultimatum Pemerintah Indonesia Kredit Foto: Antara/Arnas Padda
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Pemerintah melalui Badan Gizi Nasional (BGN) hanya memberikan waktu satu minggu kepada seluruh dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Magetan, Jawa Timur, untuk membuktikan bahwa program tersebut benar-benar mampu membantu memperbaiki harga telur di tingkat peternak.

        Ultimatum itu disampaikan setelah BGN menerima laporan bahwa kenaikan harga telur di tingkat konsumen ternyata tidak berdampak pada kesejahteraan peternak. Harga telur di kandang masih bertahan rendah meski permintaan pasar meningkat.

        Baca Juga: Jokowi Takut Masuk Penjara Gegara Kebijakannya Saat Masih Jadi Presiden Indonesia, Ini Kata PDIP

        Kepala BGN, Nanik Sudaryati Deyang mengatakan pihaknya akan melakukan evaluasi ketat selama tujuh hari ke depan terhadap pola pembelian bahan pangan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG.

        Menurut Nanik, program MBG seharusnya menjadi penggerak ekonomi masyarakat, termasuk peternak lokal. Namun kenyataannya, keuntungan dari meningkatnya permintaan telur justru lebih banyak dinikmati rantai distribusi dan perantara.

        Karena itu, BGN kembali menginstruksikan seluruh SPPG, khususnya di Magetan agar membeli telur langsung dari peternak tanpa melalui jalur distribusi yang panjang.

        Ia menegaskan, target pemerintah sangat jelas, yakni menciptakan kenaikan harga telur di tingkat peternak dalam waktu singkat melalui peningkatan penyerapan langsung oleh dapur MBG.

        “Dalam satu minggu harus ada pergerakan harga. Kalau tidak ada pergerakan harga, 71 SPPG saya tutup. Harus memakai telur dari Magetan dan beli dari petani,” tegas Nanik, dikutip Rabu (3/6).

        Langkah tersebut diambil setelah muncul keluhan dari peternak yang mengaku belum merasakan manfaat ekonomi dari program MBG. Padahal, secara teori kebutuhan telur untuk satu dapur MBG mencapai sekitar 1,5 kuintal per hari.

        Faktanya, sebagian dapur hanya membeli satu hingga dua kotak telur atau sekitar 15 hingga 30 kilogram. Jumlah tersebut dinilai terlalu kecil untuk memberikan dampak terhadap penyerapan produksi peternak.

        Salah seorang peternak ayam petelur di Magetan, Teguh, mengungkapkan stok telur di kandang masih menumpuk meski program MBG sudah berjalan. Kondisi itu membuat harga telur di tingkat peternak tetap berada jauh di bawah Harga Acuan Pembelian (HAP).

        Saat ini harga telur di tingkat peternak Magetan berkisar Rp22.800 per kilogram, bahkan sebagian masih dijual sekitar Rp21.000 per kilogram. Angka tersebut masih terpaut cukup jauh dari HAP yang ditetapkan sebesar Rp26.500 per kilogram.

        Selain mewajibkan pembelian langsung dari peternak, BGN juga mengingatkan bahwa setiap dapur MBG harus melibatkan sedikitnya 15 pemasok lokal sesuai petunjuk teknis program. Ketentuan tersebut menjadi bagian dari strategi pemerintah agar perputaran ekonomi yang dihasilkan MBG dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat sekitar.

        Baca Juga: Prabowo Copot Dadan Hindayana, Nanik S. Deyang Ditunjuk Jadi Kepala BGN

        Dengan tenggat waktu hanya tujuh hari, Magetan kini menjadi daerah yang akan diuji apakah program MBG benar-benar mampu menjadi instrumen pengungkit ekonomi peternak, atau justru hanya meningkatkan aktivitas perdagangan di tingkat perantara.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Aldi Ginastiar

        Bagikan Artikel: