Kalau AS-Iran Saling Welas Asih dan Rukun, Ekonomi Global Diproyeksi Rebound ke 3,1 Persen dan Harga Minyak Sudah Pasti Turun
Kredit Foto: Istimewa
Nasib perekonomian dunia kini bergantung pada perkembangan tensi geopolitik di Timur Tengah, jika Amerika Serikat (AS) dan Iran saling rukun dan saling welas asih, Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) pulih ke level 3,1 persen pada 2027.
Namun, sebaliknya jika masih saling tarung, diproyeksikan pertumbuhan ekonomi global akan melambat menjadi 2,8 persen pada 2026.
Dalam laporan Economic Outlook terbaru yang dirilis pada Rabu (3/6/2026), OECD menyebut momentum perdamaian antara AS dan Iran menjadi faktor utama dalam skenario pemulihan tersebut.
Jika kesepakatan damai kedua negara menunjukkan perkembangan positif, harga energi global diperkirakan mulai menurun pada pertengahan 2026.
"Meskipun perekonomian global membuka awal tahun 2026 dengan lebih solid dari perkiraan, konflik di Timur Tengah tetap menjadi kekuatan dominan yang membentuk prospek ekonomi saat ini," tulis OECD dalam laporannya.
OECD mengakui arah perkembangan konflik di Timur Tengah masih diliputi ketidakpastian tinggi. Dampak ekonominya bahkan diperkirakan tetap terasa dalam jangka waktu tertentu meskipun konflik nantinya mereda atau berakhir.
Untuk memetakan risiko tersebut, OECD menyiapkan dua skenario utama.
Skenario pertama adalah gangguan sementara, di mana dampak konflik berlangsung relatif singkat sehingga pemulihan ekonomi dapat terjadi lebih cepat.
Skenario kedua adalah gangguan berkepanjangan, yakni kondisi ketika ketegangan terus berlanjut dan memicu dampak negatif yang lebih luas terhadap rantai pasok serta aktivitas ekonomi global.
Jika skenario dasar perdamaian berjalan sesuai harapan dan harga energi berhasil terkendali pada paruh kedua 2026, OECD memperkirakan pertumbuhan ekonomi global berada pada jalur berikut:
- Tahun 2025: 3,4 persen.
- Tahun 2026: 2,8 persen, fase perlambatan akibat tekanan konflik.
- Tahun 2027: 3,1 persen, fase pemulihan ekonomi global.
Laporan tersebut menjadi sinyal bagi pelaku pasar dan pembuat kebijakan bahwa stabilitas politik di Timur Tengah tidak lagi sekadar isu regional.
Kondisi kawasan itu kini menjadi salah satu faktor penting yang memengaruhi investasi, perdagangan, dan pertumbuhan ekonomi global dalam beberapa tahun mendatang.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Ferry Hidayat
Tag Terkait: