Kredit Foto: Andi Hidayat
Menteri Kebudayaan Fadli Zon menilai pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang kini menembus Rp18.000 per dolar merupakan konsekuensi dari sistem pasar terbuka.
Menurutnya, depresiasi rupiah adalah risiko dari sistem akun modal terbuka (open capital account) yang membuat aliran modal bebas keluar-masuk sehingga rentan terhadap tekanan nilai tukar.
"Kalau dolar, dolar ini kita itu konsekuensi dari satu sistem yang menggunakan open capital account. Setiap kali kita mempunyai sistem open capital account itu selalu rawan terhadap yang namanya depresiasi," ungkapnya, dikutip dari YouTube Refly Harun, Jumat (5/6).
Fadli menegaskan tekanan terhadap mata uang tidak hanya terjadi di Indonesia, melainkan fenomena global yang juga memukul mata uang negara lain seperti India dan Turki.
"Tapi kalau dibandingkan dengan lira Turki, enggak ada apa-apanya kita ini. Saya satu lembar bisa Rp1 juta itu pernah... maksud saya depresiasinya sampai berapa ratus persen," ujarnya.
Baca Juga: Bukan Retorika Lagi, Prabowo Eksekusi Pasal 33 Secara Radikal
"Dulu itu 10 tahun yang lalu saya masih ingat Turki Lira itu kalau tidak salah di bawah dua digit ya, 8-10, saya belum ngecek gitu ya... kemarin ini minggu lalu 45 lira, dari 1 dolar tadinya 8 lira. Coba bayangin berapa kali lipat itu," imbuh Fadli.
Sebagai informasi, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pagi ini terpantau berada di kisaran Rp18.003 hingga Rp18.014 per dolar AS. Mata uang Garuda secara resmi telah menembus batas psikologis baru di level Rp18.000 per dolar AS sejak kemarin.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Editor: Ulya Hajar Dzakiah Yahya