Kredit Foto: Antara/Muhammad Adimaja
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) langsung bergerak di zona merah pada pembukaan perdagangan pagi ini. Berdasarkan data RTI Business pada pukul 09.01 WIB, indeks utama bursa domestik tersebut ambles signifikan sebesar 3,84% atau berkurang 214,658 poin ke level 5.380,107.
Sejak bel pembukaan berbunyi, IHSG langsung tertekan ke zona bawah. Indeks dibuka di level 5.486,311, sempat menyentuh level tertinggi di 5.490,111, sebelum akhirnya terus merosot hingga menyentuh titik terendahnya di level 5.378,211.
Laju penurunan indeks pagi ini diiringi oleh aksi jual masif di pasar saham. Nilai Transaksi (Turnover) tercatat mencapai Rp977,507 miliar dengan volume transaksi sebanyak 1,373 mliar lembar saham.
Mayoritas saham yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) bergerak melemah secara kompak. Sebanyak 479 saham bergerak turun (zona merah), 67 saham berhasil menguat (zona hijau) dan 127 saham stagnan alias tidak mengalami perubahan harga.
Senior Technical AnalystMirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta, mengatakan eecara teknikal, pergerakan IHSG sudah dalam kondisi extremely oversold berdasarkan indikator RSI meskipun fase downtren terbentuk. Sementara itu, indikator Stochastics K_D dan RSI masih menunjukkan sinyal negatif, didukung penurunan volume.
"Dari domestik, para pelaku pasar mencerna beberapa rumor dan ketidakjelasan kebijakan pemerintah, termasuk kekhawatiran terkait revisi UU P2SK yang dinilai berpotensi mengganggu independensi lembaga keuangan," kata dia dalam analisanya.
Sebelumnya, realisasi defisit APBN hingga Mei 2026 yang mencatat pada Rp180,4 triliun (0,7% dari PDB) menyebabkan terjadinya capital outflow. Di sisi lain, para pelaku pasar juga mencerna data cadangan devisa per Mei 2026 yang dijadwalkan rilis pada Senin ini sangat krusial bagi Bank Indonesia dalam melakukan intervensi guna menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah yang belakangan ini bertengger di atas Rp18000 per USD.
Baca Juga: IHSG Diproyeksi Masih Tertekan, Simak Rekomendasi Saham untuk Trading Pekan Ini
Baca Juga: IHSG 2026 Sadis! 6 Bulan Berturut-turut Merah
Dari global, hasil perilisan US Nonfarm Payrolls per Mei pada akhir pekan lalu yang melonjak sebanyak 172.000 pekerjaan, jauh melampaui consensus di kisaran 85.000 pekerjaan, memperkokoh narasi bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama, sehingga menyebabkan yield obligasi AS cenderung naik.
Di sisi lain, sentimen risk-off di pasar global diperparah oleh situasi di Timur Tengah yang kembali memanas, dimana kebuntuan dalam negosiasi damai antara AS-Iran, serta penolakan gencatan senjata Israel-Lebanon oleh kelompok Hizbullah membuat investor global cenderung bersikap prudent.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: