Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

IHSG Tertekan 0,69% ke Level 6.365, Sebanyak 340 Saham Melemah

IHSG Tertekan 0,69% ke Level 6.365, Sebanyak 340 Saham Melemah Kredit Foto: Antara/Hafidz Mubarak A
Warta Ekonomi, Jakarta -

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan Senin (10/8/2026) dengan pelemahan. Padahal, indeks sempat bergerak positif pada awal perdagangan sebelum akhirnya berbalik ke zona merah.

IHSG ditutup di level 6.365,37, turun 44,28 poin atau 0,69% dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.

Sepanjang perdagangan, IHSG sempat naik hingga menyentuh level tertinggi 6.462,74. Namun, penguatan tersebut tidak bertahan lama. Indeks kemudian berbalik melemah dan sempat berada di level terendah 6.362,76 sebelum ditutup pada posisi 6.365,37.

Pergerakan mayoritas saham juga menunjukkan tekanan. Sebanyak 306 saham tercatat menguat, sementara 340 saham melemah dan 317 saham lainnya tidak mengalami perubahan.

Dari sisi aktivitas transaksi, volume perdagangan mencapai 45,25 miliar saham dengan nilai transaksi sekitar Rp18,09 triliun. Adapun frekuensi perdagangan mencapai kurang lebih 2,60 juta transaksi.

Di tengah pergerakan IHSG, investor masih menghadapi sejumlah sentimen dari pasar global. Salah satu yang menjadi perhatian utama adalah arah kebijakan suku bunga bank sentral utama dunia.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), David Kurniawan, menilai kebijakan moneter global masih menjadi salah satu faktor penting yang dapat menentukan pergerakan pasar saham sepanjang pekan ini.

Menurut David, Federal Reserve (The Fed) Amerika Serikat dan European Central Bank (ECB) masih menghadapi tantangan untuk menjaga keseimbangan antara mengendalikan inflasi dan mengantisipasi potensi perlambatan ekonomi.

"Bank sentral utama, seperti US Federal Reserve dan European Central Bank (ECB) terus menyeimbangkan antara upaya meredam ketahanan inflasi yang melandai secara bertahap dan risiko perlambatan pertumbuhan ekonomi," ujar David dalam riset hariannya, Senin (10/8/2026).

Pasar juga masih memperhatikan kemungkinan suku bunga bertahan tinggi dalam waktu yang lebih lama atau dikenal dengan istilah higher for longer. Kekhawatiran ini muncul karena kondisi pasar tenaga kerja masih cukup ketat, sementara inflasi di sektor jasa belum sepenuhnya terkendali.

Perubahan ekspektasi terhadap suku bunga global dapat berdampak pada pasar obligasi, terutama US Treasury. Jika imbal hasil obligasi pemerintah AS meningkat, selisih keuntungan dibandingkan aset di negara berkembang bisa semakin kecil.

Situasi tersebut berpotensi membuat investor global mengurangi alokasi dana di pasar negara berkembang. Dana investasi kemudian dapat dialihkan ke aset di negara maju yang dianggap memiliki risiko lebih rendah.

Meski tekanan dari pasar global masih membayangi, kondisi ekonomi Indonesia dinilai tetap cukup solid.

Baca Juga: Danantara Mau Serok Saham BEI, Perintahkan DIM untuk Siapkan Dana Investasi

Baca Juga: IHSG Pekan Ini Dibayangi Sikap Wait and See, Investor Menanti Sinyal The Fed

Baca Juga: OJK Kejar Aturan Demutualisasi BEI, Targetkan Rampung Akhir Agustus 2026

Ekonomi Indonesia pada kuartal II 2026 tercatat tumbuh 5,2% secara tahunan (year on year/yoy). David menilai pertumbuhan tersebut menunjukkan bahwa perekonomian nasional masih mampu bertahan di tengah berbagai tekanan dari luar negeri.

Pertumbuhan ekonomi tersebut didukung oleh beberapa faktor, di antaranya konsumsi rumah tangga yang tetap kuat, inflasi yang terjaga, serta peningkatan investasi.

"Keberhasilan ini menjadi bukti efektivitas sinergi kebijakan moneter dan fiskal dalam menggerakkan sektor industri manufaktur, perdagangan, dan jasa, sekaligus memperkokoh posisi Indonesia sebagai salah satu motor pertumbuhan paling atraktif di kawasan emerging markets," jelasnya.

Dengan kondisi tersebut, pelaku pasar diperkirakan masih akan mencermati perkembangan kebijakan bank sentral global. Arah suku bunga dan kondisi ekonomi dunia akan menjadi sejumlah faktor penting yang dapat memengaruhi sentimen investor dan pergerakan IHSG dalam perdagangan berikutnya.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Dian Ihsan
Editor: Annisa Nurfitri