Kemenperin Bidik Pasar Haji dan Umrah untuk Perluas Penjualan Batik Nasional
Kredit Foto: Istimewa
Industri batik nasional terus didorong untuk memperluas pasar, termasuk dengan memanfaatkan peluang dari ekosistem haji dan umrah yang dinilai memiliki potensi besar bagi pelaku usaha dalam negeri.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, pemerintah saat ini tengah memperkuat berbagai strategi guna meningkatkan daya saing sekaligus memperluas akses pasar produk batik Indonesia. Salah satu langkah yang menjadi fokus adalah membuka peluang pemasaran baru melalui kebutuhan jamaah haji dan umrah.
Menurut Agus, pasar haji dan umrah dapat menjadi saluran yang menjanjikan bagi industri batik nasional, terutama bagi pelaku usaha yang telah memiliki sertifikasi Batikmark sebagai jaminan keaslian dan kualitas produk.
“Pemerintah terus memperkuat ekosistem industri batik melalui peningkatan kapasitas pelaku usaha, penguatan daya saing produk, serta perluasan akses pasar yang berkelanjutan,” kata Agus di Jakarta, Senin (8/6).
Ia menambahkan, upaya perluasan pasar tersebut dilakukan seiring dengan masih positifnya kinerja industri batik nasional. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan nilai ekspor batik Indonesia sepanjang 2025 mencapai US$30,62 juta atau meningkat 13,03 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar US$26,63 juta.
Baca Juga: Dukung Hilirisasi Daerah, Kemenperin Dekatkan Layanan Sertifikasi ke Pelaku Usaha
Peluang dari sektor haji dan umrah dinilai semakin terbuka setelah batik mulai digunakan sebagai bagian dari seragam maupun perlengkapan jamaah sejak 2024. Kehadiran batik dalam ekosistem tersebut menjadi salah satu bukti bahwa produk wastra Indonesia semakin diterima oleh berbagai segmen pasar.
Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kementerian Perindustrian, Reni Yanita, mengatakan meningkatnya minat masyarakat terhadap batik juga menjadi modal penting bagi pelaku industri untuk terus berkembang.
Menurutnya, batik kini tidak lagi identik dengan acara formal atau tradisional, tetapi telah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat sehari-hari. Kondisi ini membuka peluang bagi pelaku IKM untuk meningkatkan kapasitas usaha sekaligus memperluas jangkauan pemasaran.
Meski demikian, industri batik masih menghadapi sejumlah tantangan, salah satunya persaingan dengan produk tekstil bermotif batik yang diproduksi menggunakan teknik printing. Produk tersebut kerap dianggap sebagai batik oleh konsumen, padahal tidak melalui proses pembatikan menggunakan lilin atau malam.
Untuk memperkuat daya saing pelaku usaha, Kemenperin bersama Yayasan Batik Indonesia (YBI) terus menjalankan berbagai program pembinaan. Salah satunya melalui bimbingan teknis peningkatan efisiensi produksi bagi IKM batik di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur.
Baca Juga: Kenakan Barong Bermotif Batik, Presiden Prabowo Hadiri Jamuan Makan Malam KTT ke-48 ASEAN
Program tersebut difokuskan pada penerapan teknologi sederhana yang dapat menekan biaya produksi, seperti pemanfaatan kembali lilin batik bekas dan penggunaan cap batik alternatif berbahan kertas. Langkah ini diharapkan membantu pelaku usaha menghasilkan produk yang lebih kompetitif tanpa mengurangi kualitas maupun nilai budaya yang terkandung di dalamnya.
Pemerintah berharap berbagai upaya tersebut dapat memperkuat posisi batik Indonesia, baik di pasar domestik maupun internasional, termasuk memaksimalkan peluang dari sektor haji dan umrah yang terus berkembang setiap tahunnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Ilham Nurul Karim
Editor: Fajar Sulaiman
Tag Terkait: