- Home
- /
- EkBis
- /
- Agribisnis
Nilai Tukar Rupiah Tembus Rp18.000, Amran Malah Anggap Jadi Peluang untuk Dongkrak Pendapatan Petani
Kredit Foto: Muhammad Farhan Shatry
Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) hingga menembus level Rp18.000 dipandang Kementerian Pertanian (Kementan) sebagai peluang untuk meningkatkan ekspor sektor perkebunan dan hortikultura.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan depresiasi rupiah tidak hanya harus dilihat sebagai tantangan bagi perekonomian, tetapi juga sebagai momentum untuk memperkuat daya saing produk pertanian Indonesia di pasar global.
"Nah, untuk sektor perkebunan, kami dorong ekspor," ujar Amran kepada wartawan, Senin (8/6/2026).
Menurutnya, pelemahan rupiah dapat menjadi keuntungan bagi komoditas berorientasi ekspor karena meningkatkan nilai penerimaan dalam rupiah dari hasil penjualan di pasar internasional.
"Setiap ada masalah pasti ada sisi positif. Ini momentum yang baik bagi ekspor dari sektor perkebunan," katanya.
Amran menegaskan pemerintah akan mempercepat dorongan ekspor berbagai komoditas pertanian, mulai dari perkebunan, hortikultura, hingga pangan yang memiliki pasar di luar negeri.
"Sisi positifnya untuk perkebunan adalah seluruh komoditas perkebunan, hortikultura, dan pangan yang diekspor akan kami dorong lebih cepat," ujarnya.
Baca Juga: Amran Murka! Harga Sawit Turun Saat Dolar Naik, Minta TBS Naik 10 Persen
Baca Juga: Amran Cabut 2.231 Izin Distributor Pupuk Nakal, Mafia Pangan Disikat!
Menurut Amran, langkah tersebut diharapkan dapat meningkatkan pendapatan petani dan memperbesar penerimaan devisa dari sektor pertanian.
"Kita dorong lebih cepat sehingga petani mendapatkan keuntungan," tegasnya.
Di sisi lain, pelemahan rupiah diperkirakan masih berlanjut dalam jangka pendek. Nilai tukar rupiah diproyeksikan bergerak di kisaran Rp18.180 hingga Rp18.230 per dolar AS pada perdagangan Selasa (9/6/2026), seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan sejumlah faktor domestik yang memengaruhi sentimen pasar.
Pada perdagangan Senin (8/6/2026), rupiah ditutup melemah 151 poin ke level Rp18.187 per dolar AS, dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di level Rp18.036 per dolar AS.
Pengamat pasar uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan pelemahan rupiah dipengaruhi kombinasi faktor eksternal dan domestik.
Baca Juga: Tekanan Terus Berlanjut, Rupiah Diproyeksi Sentuh Rp18.200 Pada Perdagangan Besok
Baca Juga: Pasar Keuangan Kacau! IHSG Jeblok, Rupiah Rekor Terburuk, Said Didu Angkat Tangan
Baca Juga: Rupiah Diproyeksi Tembus Rp19.000 dan IHSG Berpotensi Anjlok ke 4.000 di Akhir Juni 2026
Dari sisi eksternal, ketegangan geopolitik meningkat setelah serangan yang melibatkan Israel, Lebanon, dan Iran kembali memicu kekhawatiran pasar terhadap stabilitas pasokan energi global.
"Suara ledakan terdengar di Teheran, Tabriz, dan Isfahan menurut laporan media lokal pada Senin pagi, yang mengikis harapan akan segera berakhirnya perang yang lebih luas dan dimulainya kembali aliran minyak mentah melalui Selat Hormuz," kata Ibrahim dalam keterangannya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Muhammad Farhan Shatry
Editor: Annisa Nurfitri