Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Chatib Basri Tak Sepakat Indonesia Menuju Resesi, Ekonomi RI Dinilai Masih Tumbuh Positif

        Chatib Basri Tak Sepakat Indonesia Menuju Resesi, Ekonomi RI Dinilai Masih Tumbuh Positif Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Mantan Menteri Keuangan sekaligus ekonom senior Chatib Basri menilai kondisi ekonomi Indonesia saat ini belum mengarah pada resesi meskipun nilai tukar rupiah mengalami tekanan dalam beberapa waktu terakhir.

        Menurut Chatib, perekonomian nasional masih menunjukkan pertumbuhan positif yang relatif baik jika dibandingkan dengan kondisi ekonomi global yang sedang menghadapi berbagai ketidakpastian.

        Ia menegaskan pelemahan rupiah yang terjadi saat ini tidak serta-merta menjadi indikator bahwa Indonesia akan memasuki masa resesi.

        Chatib mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berada di kisaran 4,5 persen hingga 5 persen masih tergolong kuat dalam situasi global yang penuh tekanan.

        Karena itu, ia tidak sependapat dengan pandangan yang menyebut Indonesia sedang bergerak menuju krisis ekonomi atau resesi seperti yang pernah terjadi pada masa lalu.

        Menurutnya, kondisi saat ini berbeda dengan krisis moneter 1998 karena Indonesia telah memiliki sistem nilai tukar yang lebih fleksibel sehingga mampu menyerap berbagai gejolak eksternal dengan lebih baik.

        “Nah, sekarang pertanyaannya adalah ini, ini selalu pertanyaan yang diajuin ke saya, sama enggak 1998 dengan 2026? My answer is no. Kenapa yang membedakan paling besar 1998 dengan 2026 itu adalah flexible exchange rate,” kata Chatib di Jakarta, Selasa (9/6/2026).

        Ia menjelaskan bahwa pada masa krisis 1998 banyak pelaku usaha dan masyarakat yang belum memahami mekanisme nilai tukar fleksibel sehingga terjebak dalam utang berdenominasi dolar AS saat rupiah terpuruk.

        Kondisi tersebut menyebabkan tekanan besar terhadap sektor keuangan dan mendorong lonjakan kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL).

        Berbeda dengan saat ini, perusahaan maupun masyarakat dinilai sudah jauh lebih siap menghadapi fluktuasi nilai tukar.

        Sebagian perusahaan telah melakukan strategi lindung nilai atau hedging untuk mengurangi risiko pelemahan rupiah.

        Kelompok masyarakat menengah atas juga dinilai memiliki kemampuan melakukan penyesuaian keuangan, termasuk menyimpan sebagian aset dalam mata uang asing untuk kebutuhan tertentu seperti pendidikan di luar negeri.

        Meski optimistis terhadap prospek ekonomi nasional, Chatib mengingatkan bahwa tekanan akibat pelemahan rupiah tetap perlu diwaspadai, terutama bagi kelompok masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah.

        Menurut dia, kenaikan harga bahan baku impor seperti kedelai dan gandum berpotensi memengaruhi harga sejumlah kebutuhan pokok yang dikonsumsi masyarakat sehari-hari.

        Karena itu, pemerintah dinilai perlu memperkuat program perlindungan sosial guna menjaga daya beli kelompok rentan.

        “Jadi sebetulnya yang perlu dijaga itu adalah bagaimana memberikan social protection kepada lower middle income group untuk address issue ini,” ujarnya.

        Chatib juga menilai dampak depresiasi rupiah terhadap inflasi secara umum masih relatif terbatas.

        Mengacu pada perhitungan Bank Indonesia, setiap pelemahan rupiah sebesar 1 persen diperkirakan hanya menambah inflasi sekitar 0,13 persen.

        Dengan depresiasi rupiah yang saat ini berada di kisaran 8 persen, dampaknya terhadap inflasi nasional diperkirakan masih berada di bawah 1 persen.

        Meski demikian, beberapa sektor tertentu seperti industri plastik dan besi diperkirakan akan merasakan tekanan biaya yang lebih besar dibanding sektor lainnya.

        Di tengah berbagai tantangan tersebut, Chatib menilai persoalan yang perlu mendapat perhatian serius saat ini adalah menjaga kredibilitas fiskal pemerintah.

        Ia menyoroti kenaikan indikator credit default swap (CDS) Indonesia yang menurutnya telah terjadi sejak awal tahun, bahkan sebelum meningkatnya konflik di Timur Tengah.

        Baca Juga: Chatib Basri Temui Prabowo di Tengah Isu Purbaya Dicopot, Eks Menkeu Buka Suara

        Menurut Chatib, kondisi tersebut menunjukkan pasar sedang mencermati kondisi fiskal Indonesia, termasuk perkembangan defisit anggaran dan persepsi risiko terhadap perekonomian nasional.

        Meski begitu, ia tetap berpandangan bahwa fondasi ekonomi Indonesia saat ini masih cukup kuat untuk menghadapi tekanan global yang sedang berlangsung.

        Dengan pertumbuhan ekonomi yang masih positif dan sistem keuangan yang lebih siap menghadapi gejolak, Chatib menilai Indonesia belum berada pada jalur menuju resesi seperti yang dikhawatirkan sebagian pihak.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Wahyu Pratama
        Editor: Wahyu Pratama

        Bagikan Artikel: