Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Masih Rawan, Investasi Keselamatan di Perlintasan Kereta Api Bisa Pangkas Kerugian Ekonomi

        Masih Rawan, Investasi Keselamatan di Perlintasan Kereta Api Bisa Pangkas Kerugian Ekonomi Kredit Foto: Rahmat Saepulloh
        Warta Ekonomi, Bandung -

        KAI Daop 2 Bandung mencatat sepanjang Tahun 2025 telah terjadi 14 kejadian temperan di perlintasan sebidang (JPL) di wilayah Daop 2 Bandung. Dari jumlah tersebut, 11 kejadian melibatkan kendaraan roda dua dan 3 kejadian melibatkan kendaraan roda empat

        Melihat kondisi tersebut,PT Wijaya Karya Beton Tbk (WIKA Beton) dan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Jawa Barat, PT Agronesia, menilai bahwa investasi infrastruktur keselamatan mampu menciptakan efisiensi ekonomi sekaligus melindungi masyarakat dari risiko kecelakaan di perlintasan sebidang kereta api.

        Kolaborasi kedua perusahaan tersebut menghadirkan modernisasi Perlintasan Kereta Api Sebidang JPL 177 Gedebage, Kota Bandung. Proyek ini tidak hanya meningkatkan standar keselamatan transportasi, tetapi juga mengurangi kemacetan, memperlancar mobilitas masyarakat, serta menekan potensi kerugian materiil akibat kecelakaan lalu lintas.

        Direktur PT Agronesia, Deddy Gamawan, menegaskan bahwa keselamatan transportasi tidak boleh hanya bergantung pada kedisiplinan pengguna jalan. Menurutnya, kualitas infrastruktur memegang peran penting dalam menjaga produktivitas ekonomi.

        "Di sejumlah titik, area jalan yang bersinggungan langsung dengan rel kerap mengalami kerusakan, berlubang, dan tidak rata. Kondisi ini memicu dampak ekonomi negatif berupa keterlambatan arus logistik, risiko kendaraan tergelincir, hingga kerusakan armada bertransportasi," ujar Deddy Gamawani, Selasa (9/6/2026).

        Deddy menjelaskan, pembenahan infrastruktur di perlintasan sebidang dapat menekan berbagai eksternalitas negatif yang selama ini membebani masyarakat maupun pelaku usaha. Ketika kendaraan melintas dengan aman dan lancar, aktivitas distribusi barang menjadi lebih efisien, biaya operasional dapat ditekan, dan produktivitas ekonomi ikut meningkat.

        Secara teknis, proyek ini mengintegrasikan dua produk unggulan dari dua entitas bisnis berbeda. Industri Karet Bandung (Inkaba), unit usaha PT Agronesia, menghadirkan Rubber Concrete Line Crossing berbasis material karet yang mampu menstabilkan permukaan jalan, meredam getaran, serta mengurangi polusi kebisingan saat kendaraan melintas.

        Sementara itu, WIKA Beton memasang teknologi Concrete Level Crossing (CLC), yakni beton modular pracetak dengan sistem knock-down yang memungkinkan proses instalasi berlangsung lebih cepat dibanding metode konvensional.

        Teknologi tersebut memangkas waktu pengerjaan sehingga meminimalkan opportunity cost akibat gangguan operasional perjalanan kereta api maupun arus kendaraan bermotor. Efisiensi waktu itu menjadi faktor penting dalam menjaga kelancaran aktivitas ekonomi di kawasan dengan tingkat mobilitas tinggi.

        Petugas JPL 177 Gedebage mengonfirmasi bahwa sebelum pembaruan dilakukan, kerusakan aspal di sekitar rel kerap memicu kecelakaan dan menghambat lalu lintas. Setelah pemasangan sistem terintegrasi tersebut, kondisi jalan menjadi lebih stabil, arus kendaraan lebih lancar, dan tingkat keselamatan meningkat.

        Keberhasilan proyek Gedebage kini membuka peluang lahirnya standar baru infrastruktur perlintasan sebidang di Indonesia. Implementasi teknologi yang menjadi bagian dari ekosistem Danantara dan BUMN itu diharapkan dapat direplikasi di berbagai titik rawan kecelakaan di Tanah Air.

        "Inovasi ini sekaligus menunjukkan pentingnya kolaborasi antarentitas dalam menghadirkan infrastruktur yang lebih aman, nyaman, dan bermanfaat bagi masyarakat luas," kata Deddy.

        Modernisasi perlintasan sebidang di Gedebage memperlihatkan bahwa investasi keselamatan bukan sekadar biaya, melainkan instrumen strategis untuk menjaga kelancaran mobilitas, meningkatkan efisiensi logistik, dan menekan kerugian ekonomi makro di sektor transportasi.

        Tantangan berikutnya terletak pada kemampuan pemerintah dan para pemangku kepentingan untuk memperluas penerapan standardisasi tersebut secara masif.

        "Semakin banyak titik rawan yang dibenahi, semakin besar pula peluang Indonesia menjaga produktivitas masyarakat sekaligus menurunkan angka kecelakaan yang selama ini menimbulkan biaya sosial dan ekonomi yang tidak sedikit,"pungkasnya

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Rahmat Saepulloh
        Editor: Annisa Nurfitri

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: