Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Chatib Basri Sebut Rupiah Tidak Seburuk 1998, tapi Ada Satu Kelompok Paling Menderita

        Chatib Basri Sebut Rupiah Tidak Seburuk 1998, tapi Ada Satu Kelompok Paling Menderita Kredit Foto: Biro Pers Sekretariat Presiden
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Pelemahan nilai tukar rupiah yang terjadi belakangan ini memicu kekhawatiran publik. Tidak sedikit yang mulai membandingkan kondisi saat ini dengan krisis moneter 1998 yang pernah mengguncang Indonesia dan membuat perekonomian terpuruk.

        Namun, mantan Menteri Keuangan era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Chatib Basri, memastikan situasi saat ini jauh berbeda dengan krisis yang terjadi hampir tiga dekade lalu. Bahkan, ia secara tegas menepis anggapan bahwa Indonesia sedang menuju krisis serupa.

        "My answer is no (jawaban saya adalah tidak)," katanya singkat.

        Menurut Chatib, faktor paling mendasar yang membedakan kondisi saat ini dengan 1998 adalah sistem nilai tukar yang kini lebih fleksibel. Ia menilai fleksibilitas tersebut membuat ekonomi Indonesia memiliki kemampuan beradaptasi yang jauh lebih baik dibandingkan masa lalu.

        "Yang membedakan paling besar 1998 dengan 2026 itu adalah flexible exchange rate," ujarnya.

        Ia menjelaskan bahwa pada masa krisis 1998 banyak perusahaan Indonesia memiliki utang dalam dolar AS, sementara pendapatan mereka diperoleh dalam rupiah. Ketika nilai tukar rupiah anjlok, beban utang langsung melonjak drastis dan memicu masalah besar di sektor keuangan.

        Baca Juga: Indonesia Baik-Baik Saja, Eks Menkeu Chatib Basri: Kita Gak akan Resesi

        Kondisi tersebut, kata Chatib, berbeda dengan saat ini. Perusahaan maupun kelompok masyarakat yang memiliki kebutuhan valuta asing umumnya sudah lebih siap menghadapi risiko gejolak kurs melalui berbagai strategi mitigasi, seperti lindung nilai (hedging) dan diversifikasi aset.

        Meski demikian, Chatib mengingatkan bahwa dampak pelemahan rupiah tetap akan dirasakan oleh masyarakat. Salah satunya melalui kenaikan harga barang impor dan bahan baku yang masih bergantung pada pasar global.

        Ia mencontohkan komoditas seperti kedelai dan gandum yang berpotensi mengalami kenaikan harga. Dampaknya bisa merembet ke berbagai produk konsumsi sehari-hari, mulai dari tahu, tempe hingga mi instan.

        Dalam situasi seperti ini, Chatib menilai kelompok masyarakat berpenghasilan tinggi relatif lebih aman karena memiliki instrumen keuangan dan aset yang lebih beragam untuk menghadapi tekanan ekonomi. Sementara masyarakat berpenghasilan rendah masih memiliki penunjang berupa berbagai program perlindungan sosial dari pemerintah.

        Namun, menurutnya, ada satu kelompok yang justru berada di posisi paling rentan menghadapi pelemahan rupiah saat ini.

        Baca Juga: Profil Chatib Basri, Pernah Hadapi Taper Tantrum di Era SBY

        Kelompok tersebut adalah masyarakat kelas menengah yang harus menghadapi kenaikan biaya hidup tanpa memiliki perlindungan sosial yang cukup, sekaligus tidak memiliki fleksibilitas finansial sebesar kelompok berpenghasilan tinggi.

        Karena itu, meski Indonesia diyakini tidak sedang menuju krisis seperti 1998, Chatib mengingatkan bahwa tekanan terhadap daya beli masyarakat, terutama kelas menengah, tetap menjadi tantangan serius yang perlu diwaspadai di tengah pelemahan rupiah saat ini.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Belinda Safitri
        Editor: Belinda Safitri

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: