Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Media Internasional Soroti Cara Bertahan Warteg dari Naiknya Harga Bahan Baku, Akal-Akalan Main Pengurangan Porsi Lauk

        Media Internasional Soroti Cara Bertahan Warteg dari Naiknya Harga Bahan Baku, Akal-Akalan Main Pengurangan Porsi Lauk Kredit Foto: WKB
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Media internasional asal Jepang, Nikkei menangkap fenomena shrinkflation atau pengurangan ukuran porsi hidangan/lauk tanpa mengubah harga.

        Dalam laporan "Indonesia's shrinkflation belies government's 'strong' fundamentals claim", Nikkei menyebut fenomena ini semakin nyata terjadi di tengah masyarakat Indonesia.

        Langkah shrinkflation ini terpaksa diambil para pemilik warung tegal (warteg) demi menyiasati lonjakan biaya bahan baku akibat melemahnya nilai tukar rupiah, sekaligus menjaga daya beli konsumen yang kian merosot.

        Ketua Komunitas Warteg Indonesia, Mukroni, mengungkapkan bahwa para pengusaha warteg kini berada di posisi dilematis. Menaikkan harga makanan berisiko membuat mereka kehilangan pelanggan yang saat ini tengah mengalami tekanan ekonomi.

        Demi menyiasati kenaikan harga bahan baku, pemilik warteg memilih mengurangi porsi lauk alih-alih menaikkan harga. Langkah ini diambil untuk menjaga pelanggan yang daya belinya sedang merosot.

        "Harga bahan makanan naik. Pemilik warteg harus bertahan. Awalnya kami memilih menyerap kenaikan biaya dengan mengorbankan margin. Namun, karena margin terus menyusut, kami harus menyesuaikan ukuran porsi meskipun hal itu mengecewakan pelanggan," kata Mukroni kepada Nikkei.

        Tekanan di sektor riil ini sejalan dengan kondisi makroekonomi Indonesia yang sedang bergejolak. Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sempat menembus level psikologis baru di angka Rp18.000 per dolar AS pada pekan lalu.

        Catatan ini menempatkan rupiah sebagai mata uang dengan kinerja terburuk di Asia sepanjang tahun ini.

        Laporan itu juga menyebut kondisi di lapangan dinilai kontras dengan retorika optimistis para pejabat di Jakarta yang menyatakan fundamental ekonomi Indonesia tetap "kuat".

        Pemerintah kerap merujuk pada pertumbuhan ekonomi kuartal I sebesar 5,61% (yoy) dan angka inflasi Mei yang diklaim terkendali di posisi 3,08%.

        "Jangan khawatir. Fondasi ekonomi kuat, dan kebijakan sudah ditempatkan dengan mantap. Konsumsi rumah tangga tetap sehat dan aktivitas ekonomi terus berkembang," ujar Menteri Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa. Pemerintah juga menyoroti kenaikan penjualan mobil ritel sebesar 8,8% pada lima bulan pertama tahun 2026 yang didorong insentif kendaraan listrik.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Ferry Hidayat

        Bagikan Artikel: