- Home
- /
- New Economy
- /
- Energi
INDEF Ungkap Warganet Khawatir Kenaikan Pertamax Menular ke Harga Kebutuhan Pokok
Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Kenaikan harga Pertamax memicu kekhawatiran masyarakat terhadap potensi kenaikan harga barang dan biaya hidup. Analisis Big Data Continuum Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) menemukan mayoritas percakapan publik di media sosial mengaitkan kenaikan BBM nonsubsidi tersebut dengan risiko efek domino terhadap kondisi ekonomi rumah tangga.
Data Scientist Big Data Continuum INDEF, Wahyu Tri Utomo, mengatakan hasil pemantauan percakapan digital mencatat sekitar 648 ribu perbincangan atau exposure terkait kenaikan harga Pertamax di berbagai platform media sosial dan kanal digital.
Menurutnya, salah satu topik yang paling banyak dibicarakan masyarakat adalah kekhawatiran bahwa kenaikan harga bahan bakar akan mendorong kenaikan harga barang dan jasa lainnya.
“Banyak yang menilai kondisi sekarang, mungkin secara ekonomi banyak yang mengeluhkan tidak baik-baik saja. Sehingga, kenaikan harga bahan bakar ini semacam menjadi pukulan tambahan yang pasti dilihat semakin memberatkan,” ujar Wahyu dalam pemaparannya di Jakarta, Minggu (14/6/2026).
Berdasarkan analisis percakapan digital, banyak warganet mengaitkan kenaikan harga Pertamax dengan meningkatnya biaya hidup serta potensi bertambahnya tekanan terhadap pengeluaran rumah tangga.
INDEF menemukan kekhawatiran tersebut muncul karena masyarakat menilai kenaikan harga BBM berpotensi menimbulkan efek berantai terhadap biaya distribusi dan harga berbagai kebutuhan sehari-hari.
Selain kekhawatiran terhadap inflasi, masyarakat juga menyoroti kemungkinan terjadinya perpindahan konsumsi dari Pertamax ke Pertalite akibat selisih harga yang semakin lebar.
“Ada kekhawatiran bahwa kenaikan harga Pertamax ini untuk kenaikan harga Pertalite. Menurut mereka kenaikan 30% itu akan menyebabkan penggunaan kembali ke Pertalite,” kata Wahyu.
Menurutnya, banyak pengguna media sosial memperkirakan peralihan konsumsi BBM tersebut dapat memicu antrean yang lebih panjang di SPBU dan meningkatkan tekanan terhadap pasokan Pertalite.
Baca Juga: Ribut-ribut Pertamax Naik, Seskab Teddy Kasih Paham: Lebih Murah dari Negara Lain
Baca Juga: Soal Kenaikan Pertamax, Ekonom Sebut Dana Talangan Pertamina Tak Bisa Terus Menahan Harga
Analisis jaringan percakapan juga menunjukkan isu kenaikan Pertamax tidak berdiri sendiri. Warganet menghubungkannya dengan kondisi ekonomi masyarakat, daya beli, hingga kritik terhadap kebijakan pemerintah.
Dari sisi sentimen, mayoritas percakapan bernada negatif. INDEF menemukan emosi yang paling dominan adalah kemarahan dan kekhawatiran.
“Ketika kita coba turunkan dari segi emosi, dominan utama adalah emosi marah. Jadi, sangat marah tentang inconsistencypemerintah, karena katanya awal-awal itu aman, dan sebagainya,” ujar Wahyu.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Yulisha Kirani Rizkya Pangestuti
Editor: Annisa Nurfitri