Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

APBN Semester I Dinilai Tetap Kuat di Tengah Gejolak Global

APBN Semester I Dinilai Tetap Kuat di Tengah Gejolak Global Kredit Foto: (Istimewa)
Warta Ekonomi, Jakarta -

Di tengah ketidakpastian global, kondisi fiskal Indonesia dinilai tetap kuat. Tercatat, hingga semester I-2026, pendapatan negara mencapai Rp1.459,4 triliun atau 46,3% dari target APBN, tumbuh 21,4% secara tahunan (yoy). Hal itu menjadi sinyal positif bagi pasar terhadap kemampuan pemerintah menjaga kesehatan fiskal.

Wakil Direktur PT Samuel Sekuritas, Suria Dharma, mengatakan capaian tersebut menunjukkan APBN masih mampu menopang stabilitas ekonomi di tengah tekanan eksternal.

"Capaian tersebut menjadi sinyal positif bagi pasar karena menunjukkan kemampuan pemerintah menjaga kesehatan fiskal di tengah dinamika ekonomi global. Ini perkembangan yang cukup positif bagi pasar," ujarnya dalam Investortrust Discussion Forum: Membedah Resiliensi dan Kredibilitas Ekonomi-Fiskal di Jakarta, Kamis (9/7/2026).

Suria mengatakan, realisasi pendapatan negara terutama ditopang penerimaan perpajakan yang mencapai Rp1.187,8 triliun atau 44,1% dari target APBN. Ia menilai, implementasi sistem Coretax mulai menunjukkan hasil yang positif.

"Sebelumnya sempat muncul kekhawatiran akibat implementasi sistem Coretax. Ternyata dalam dua bulan terakhir kinerjanya cukup bagus. Ini yang membuat pencapaian penerimaan perpajakan menjadi lebih baik," katanya.

Selain penerimaan pajak, penerimaan negara bukan pajak (PNBP) mencapai Rp271 triliun atau 59% dari target APBN, meningkat 21,6% (yoy).

Sementara itu, penerimaan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) hingga Mei 2026 tercatat Rp315,7 triliun atau naik 41,3%, yang dinilai masih mencerminkan aktivitas konsumsi masyarakat.

Meski begitu, Suria mengingatkan tantangan masih membayangi pasar modal. Samuel Sekuritas sendiri mencatat arus keluar dana asing dari pasar saham telah mencapai Rp75 triliun hingga pertengahan 2026, terutama akibat pembekuan (freeze) review saham Indonesia oleh MSCI.

Pada momen yang sama, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef M. Rizal Taufiqurrahman menilai fundamental ekonomi Indonesia masih berada di jalur yang sehat.

Pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 sebesar 5,61% (yoy), kata Rizal, menunjukkan fondasi ekonomi tetap kuat dan berpeluang berlanjut pada kuartal II bertahan di level 5,4% berkat stimulus fiskal pemerintah senilai Rp26,84 triliun selama April-Juni 2026.

Baca Juga: PDIP Ungkap 'PR Besar' APBN 2025, Defisit Jebol hingga Utang Rp9.658 Triliun Jadi Sorotan!

Baca Juga: Defisit APBN Nyaris Tembus Batas, Subsidi BBM Dianggap Jadi Biang Kerok

Namun, Rizal mengingatkan pemerintah tidak boleh lengah karena inflasi sebesar 3,34% pada Juni 2026 belum sepenuhnya mencerminkan pemulihan daya beli masyarakat.

"Yang ideal adalah inflasi naik karena konsumsi masyarakat meningkat. Namun saat ini justru permintaan agregat atau konsumsi rumah tangga masih cenderung melambat," ujar Rizal.

Hingga kini, konsumsi rumah tangga masih menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi Indonesia dengan kontribusi sebesar 80% terhadap produk domestik bruto (PDB) sehingga penguatan daya beli tetap menjadi faktor penting dalam menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Azka Elfriza
Editor: Dwi Aditya Putra