Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        'Tidak Pernah Berhasil,' Presiden Amerika Nyerah Berusaha Ganti Rezim Khamenei di Iran

        'Tidak Pernah Berhasil,' Presiden Amerika Nyerah Berusaha Ganti Rezim Khamenei di Iran Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengakui bahwa upaya penggantian rezim (regime change) di Iran selama bertahun-tahun terbukti gagal. Pernyataan itu menjadi sinyal penting bahwa Washington kini lebih memilih jalur diplomasi dan kerja sama dengan para pemimpin Iran ketimbang mendorong perubahan pemerintahan di Teheran.

        Pernyataan tersebut disampaikan Trump saat menghadiri pertemuan bilateral dengan Qatar di tengah menghangatnya hubungan AS dan Iran pasca-tercapainya kesepakatan damai antara kedua negara.

        Baca Juga: 'Trump Harus Kendalikan Netanyahu,' Israel Dituding Jadi Tantangan Besar Perdamaian Iran dan Amerika

        "Saya tidak pernah peduli dengan perubahan rezim. Saya sudah melihat perubahan rezim selama bertahun-tahun. Itu tidak pernah berhasil," kata Trump, dikutip dari Fox News, Rabu (17/6).

        Pernyataan itu sekaligus menandai perubahan pendekatan Washington terhadap Iran. Jika sebelumnya isu perubahan rezim kerap menjadi bagian dari tekanan politik AS terhadap Teheran, kini Trump justru menilai dialog dengan pemerintahan yang ada lebih realistis dan produktif.

        Trump mengungkapkan bahwa AS telah membahas berbagai persoalan hak asasi manusia dengan Iran, termasuk kasus pembunuhan terhadap para pengunjuk rasa oleh rezim di negara tersebut.

        "Kami membicarakannya dengan mereka. Itu adalah hal yang mengerikan," ujarnya.

        Meski mengakui adanya catatan kelam dalam penanganan demonstrasi di Iran, Trump menilai para pejabat Iran yang kini menjadi mitra negosiasi memiliki karakter berbeda dibanding kelompok-kelompok sebelumnya.

        Menurutnya, para negosiator Iran saat ini merupakan sosok yang rasional, kuat, dan cerdas.

        "Kelompok pertama semuanya sudah tidak ada. Kelompok kedua juga sudah tidak ada. Sebagian dari kelompok ketiga juga sudah pergi. Sekarang kami berurusan dengan orang-orang yang menurut saya sangat rasional," kata Trump.

        Ia bahkan menyebut para pemimpin Iran yang sekarang lebih cerdas dibanding generasi sebelumnya dan tidak lagi bersikap terlalu radikal.

        "Mereka adalah orang-orang yang kuat dan pintar. Saya pikir mereka sebenarnya lebih pintar daripada kelompok pertama dan kedua, tetapi mereka tidak radikal dan mereka ingin membantu negara mereka," ujarnya.

        Pandangan Trump tersebut memperlihatkan keyakinannya bahwa stabilitas di Iran lebih mungkin dicapai melalui keterlibatan diplomatik dibanding upaya menggulingkan pemerintahan yang ada.

        Pernyataan itu juga muncul di tengah upaya AS dan Iran membangun babak baru hubungan kedua negara melalui kesepakatan damai yang mengakhiri permusuhan selama berbulan-bulan.

        Baca Juga: 'Cukup Tunjukkan Aja,' Kubu Roy Suryo Mengaku Tak Mau Berkonflik Hukum dengan Jokowi

        Dengan mengakui kegagalan strategi perubahan rezim dan memilih bernegosiasi dengan pemimpin Iran yang dinilainya lebih rasional, Trump tampaknya ingin mengarahkan kebijakan Timur Tengah AS ke jalur yang lebih pragmatis, yakni menjaga stabilitas kawasan melalui dialog dan kerja sama, bukan pergantian kekuasaan secara paksa.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Aldi Ginastiar

        Bagikan Artikel: