Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Kondisi Internal Pertahanan AS Disebut Banyak Tergerus, Bingung Menentukan Prioritas Pendanaan

Kondisi Internal Pertahanan AS Disebut Banyak Tergerus, Bingung Menentukan Prioritas Pendanaan Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Kesiapan pertahanan Amerika Serikat menghadapi tekanan di tengah meningkatnya kebutuhan untuk menangkal ancaman serangan udara dan rudal balistik Iran. Persoalan tersebut tidak hanya berkaitan dengan biaya pengadaan rudal, tetapi juga keterbatasan kapal perang yang menjadi bagian penting dalam sistem pertahanan.

Brigjen RJ Mikesh, pejabat pengadaan senjata Angkatan Darat AS, menilai efisiensi biaya menjadi semakin penting dalam menghadapi ancaman serangan udara modern. Kemampuan memproduksi rudal dengan biaya yang efisien sekaligus dalam jumlah memadai dinilai dapat menjadi salah satu faktor yang menentukan dalam perang modern.

Tekanan terhadap kesiapan militer AS juga terlihat dari keterbatasan kapal perusak kelas Arleigh Burke yang digunakan untuk menghadapi ancaman serangan rudal balistik Iran.

Jumlah kapal perusak yang terbatas membuat militer AS harus menyesuaikan prioritas dalam menjaga keamanan nasional. Seorang pejabat komando militer AS menyebut kekurangan kapal perusak untuk menghadapi serangan rudal balistik Iran berpotensi memengaruhi prioritas pertahanan Amerika Serikat.

Kondisi tersebut bahkan dapat mendorong kepala Komando Eropa AS untuk lebih memprioritaskan perlindungan wilayah daratan Amerika Serikat. Artinya, keterbatasan armada dapat memengaruhi bagaimana AS membagi kekuatan pertahanannya di tengah kebutuhan menghadapi ancaman rudal balistik.

Selain kapal perang, persediaan rudal pencegat juga menjadi perhatian. Departemen Pertahanan AS mengonfirmasi stok rudal pencegat Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) kini tersisa kurang dari 300 unit.

Baca Juga: Iran Bertahan Lama, AS Disebut Butuh Ratusan Triliun untuk Kembali Produksi Amunisi yang Menipis

Keterbatasan tersebut menambah tantangan dalam mempertahankan kemampuan pertahanan terhadap serangan rudal balistik. Pemulihan kemampuan THAAD membutuhkan penguatan sistem pertahanan sekaligus dukungan terhadap kebutuhan produksi.

Sebagai bagian dari upaya memperkuat kembali kemampuan sistem tersebut, Departemen Pertahanan AS memberikan kontrak senilai US$211 juta kepada Lockheed Martin untuk memproduksi peluncur sistem THAAD Konfigurasi 3 bagi Uni Emirat Arab.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Amry Nur Hidayat
Editor: Amry Nur Hidayat

Tag Terkait: