Memo Gedung Putih Bocor, Amerika Tengah Ketar-ketir Soal Stok Senjata Usai Perang Iran
Kredit Foto: Reuters/Carlos Barria
Di tengah klaim bahwa Amerika Serikat (AS) berhasil mengakhiri konflik dengan Iran melalui jalur diplomasi, kekhawatiran baru justru muncul dari dalam negeri. Gedung Putih mengeluarkan peringatan terkait kondisi industri persenjataan AS yang dinilai rentan dan berpotensi mengganggu kesiapan pertahanan negara.
Pemerintahan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump mengakui adanya berbagai kendala sistemik dalam industri amunisi dan rudal AS, mulai dari kapasitas produksi yang terbatas, rantai pasok yang rapuh, ketergantungan pada komponen yang memerlukan waktu lama untuk diproduksi hingga berbagai hambatan produksi lainnya.
Baca Juga: 'Tak Mengalir Sepeser Pun,' Amerika Ogah Kucurkan Uang Demi Berdamai dengan Iran
Dalam memorandum presiden yang diterbitkan pada 11 Juni dan dijadwalkan masuk Federal Register pada 17 Juni, Gedung Putih menyebut persoalan tersebut dapat menjadi ancaman langsung terhadap kesiapan pertahanan nasional.
"Secara khusus, kendala sistemik dalam basis industri amunisi, termasuk kapasitas produksi yang terbatas, rantai pasok yang rapuh, ketergantungan jangka panjang, dan hambatan produksi lainnya dapat mengganggu kemampuan Amerika Serikat untuk memproduksi, mempertahankan dan meningkatkan ketersediaan amunisi, rudal serta peralatan yang dibutuhkan untuk pertahanan nasional," demikian bunyi memorandum tersebut, dikutip dari Fox News, Rabu (17/6).
Peringatan ini muncul setelah Menteri Perang AS Pete Hegseth berulang kali membantah adanya krisis stok amunisi di negaranya.
Sebelumnya, Hegseth menyebut isu kekurangan persenjataan sebagai "cerita yang dibuat-buat" dan menegaskan bahwa persediaan militer AS berada dalam kondisi sangat baik.
"Stok kami hebat dan terus menjadi lebih kuat," kata Hegseth.
Ia juga membantah operasi militer AS terhadap Iran telah menguras persediaan amunisi dan rudal negaranya.
Menurut Hegseth, stok senjata ofensif dan defensif Amerika masih cukup untuk mempertahankan operasi militer selama diperlukan.
Namun, isi memorandum presiden justru menunjukkan gambaran berbeda. Pemerintah mengakui bahwa kerentanan industri pertahanan dapat mempengaruhi kemampuan AS dalam mengisi ulang dan memperluas persediaan senjata-senjata kritis.
Kondisi ini memicu spekulasi bahwa konflik berkepanjangan di Timur Tengah, termasuk operasi militer terhadap Iran, telah memberikan tekanan besar terhadap rantai produksi persenjataan Amerika.
Sebagai langkah antisipasi, Trump mendelegasikan kewenangan kepada Menteri Perang berdasarkan Pasal 708 Defense Production Act untuk menyusun perjanjian sukarela dan rencana aksi bersama industri pertahanan guna memperkuat kapasitas produksi nasional.
Dokumen yang tercatat sebagai Presidential Determination No. 2026-15 tersebut secara tidak langsung menunjukkan bahwa Washington kini mulai mengkhawatirkan kemampuan industri militernya sendiri dalam memenuhi kebutuhan persenjataan di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global.
Baca Juga: Pemerintah Klaim Stok Beras Tertinggi Sepanjang Indonesia Merdeka, Gudang Sampai Tak Cukup Menampung
Meski pemerintahan Trump menegaskan tidak ada kekurangan stok senjata, pengakuan resmi Gedung Putih mengenai keterbatasan produksi, rapuhnya rantai pasok, dan hambatan industri amunisi mengindikasikan bahwa perang dan ketegangan dengan Iran telah menjadi alarm serius bagi kesiapan pertahanan Amerika Serikat di masa mendatang.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait: