Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Jelang Putusan UNESCO, Industri Tempe Kejar Peluang ke Pasar Dunia

        Jelang Putusan UNESCO, Industri Tempe Kejar Peluang ke Pasar Dunia Kredit Foto: Dokumentasi Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Forum Tempe Indonesia (FTI) menggagas pembentukan Global Tempe Forum sebagai wadah kolaborasi internasional untuk memperkuat riset, pengembangan industri, dan posisi tempe sebagai instrumen diplomasi budaya Indonesia di tingkat global.

        Inisiatif tersebut diperkenalkan dalam rangkaian peringatan Hari Tempe Nasional 2026 yang berlangsung sepanjang Juni. Forum internasional itu diharapkan menjadi ruang pertukaran pengetahuan dan inovasi guna mendukung pengembangan ekosistem tempe yang kini telah berkembang menjadi pangan global.

        Ketua Umum Forum Tempe Indonesia (FTI), Hardinsyah, mengatakan tempe tidak lagi sekadar komoditas pangan, tetapi telah menjadi representasi kearifan lokal Indonesia yang memiliki nilai ekonomi, budaya, dan keberlanjutan.

        “Peran tempe tidak hanya sebagai sumber pangan dan gizi, atau pewarisan kearifan nilai tradisional Indonesia. Tempe juga memiliki potensi yang sangat besar untuk merepresentasikan kearifan lokal Indonesia dalam mengelola pangan secara berkelanjutan,” kata Hardinsyah di Jakarta Selatan, Rabu (17/6/2026).

        Penguatan posisi tempe di panggung internasional juga berjalan seiring proses pengusulan budaya tempe sebagai warisan budaya takbenda dunia kepada UNESCO. Pemerintah Indonesia telah menyerahkan dokumen nominasi secara resmi pada 29 Maret 2025 dan kini menunggu keputusan yang dijadwalkan pada akhir tahun ini.

        Ketua Umum Pergizi Pangan Indonesia, Ahmad Sulaeman, mengatakan budaya tempe menunjukkan kemampuan masyarakat Nusantara dalam mengembangkan teknologi fermentasi jauh sebelum bioteknologi modern dikenal luas.

        “Budaya tempe mencerminkan bahwa bangsa Indonesia telah mengenal dan menerapkan teknologi fermentasi (bioteknologi) jauh sebelum bioteknologi modern dikenal dunia,” ujar Ahmad.

        Sementara itu, Direktur Jenderal Diplomasi, Promosi dan Kerja Sama Kebudayaan Kementerian Kebudayaan, Endah T.D. Retnoastuti, mengatakan pemerintah terus memperkuat kampanye dan literasi budaya tempe, termasuk melalui berbagai platform digital untuk memperluas jangkauan edukasi kepada masyarakat.

        Baca Juga: Ringankan Beban Pengrajin Tempe, Pemerintah Resmi Beri Subsidi Kedelai Impor Rp2.000 per Kilogram

        Baca Juga: Pedagang Tahu-Tempe Tertekan, Pemerintah Pilih Jaga Rupiah Ketimbang Beri Bantuan

        “Tempe bukan hanya produk pangan, tetapi juga cerminan kearifan lokal Indonesia dalam pengelolaan sumber daya secara berkelanjutan, sekaligus mengandung nilai gotong royong yang kuat, dan proses fermentasi tempe dipandang sebagai bentuk adaptasi masyarakat terhadap lingkungan dengan memanfaatkan bahan baku dan kearifan lokal,” kata Endah.

        Seiring meningkatnya tren konsumsi protein nabati dan pola makan berkelanjutan, tempe kini telah diproduksi dan dikonsumsi di berbagai negara di Asia, Eropa, Amerika Utara, hingga Australia. Perkembangan tersebut memperluas peran tempe tidak hanya sebagai produk pangan, tetapi juga sebagai instrumen diplomasi budaya dan penguatan identitas Indonesia di pasar global.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Muhammad Farhan Shatry
        Editor: Annisa Nurfitri

        Bagikan Artikel: