Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Lahan Salin Disulap Jadi Sumber Ekonomi Baru, PGN-BRIN Luncurkan Minapadi Salin

        Lahan Salin Disulap Jadi Sumber Ekonomi Baru, PGN-BRIN Luncurkan Minapadi Salin Kredit Foto: PGN
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGN) bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Pemerintah Kabupaten Batang meluncurkan Program Minapadi Salin di kawasan Pantai Sicepit, Kelurahan Kasepuhan, Kabupaten Batang. Program ini menjadi pengembangan dari program padi biosalin yang sebelumnya dijalankan di Semarang dan Jepara untuk meningkatkan produktivitas lahan pesisir sekaligus memperbesar nilai ekonomi masyarakat.

        Program yang dijalankan melalui tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) PGN tersebut mengintegrasikan budidaya padi biosalin, ikan nila salin, dan rumput laut dalam satu ekosistem produksi pada lahan salin yang selama ini memiliki keterbatasan produktivitas.

        Corporate Secretary PGN Fajriyah Usman mengatakan pengembangan Minapadi Salin merupakan bagian dari upaya menciptakan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat pesisir melalui pemanfaatan lahan terdampak salinitas.

        “Program Minapadi Salin merupakan wujud nyata komitmen tersebut, dengan mengintegrasikan inovasi pertanian dan perikanan, termasuk pengembangan komoditas rumput laut, untuk meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional,” ujar Fajriyah.

        Program tersebut dijalankan di lahan seluas 32,26 hektare yang dikelola Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Sido Barokah Mulyo, Poktan Intani, dan Poktan Dewi Sri VI.

        Sebagai penanda dimulainya implementasi program, dilakukan pelepasan 10.000 benih ikan nila salin serta penanaman benih padi biosalin bersama petani setempat.

        Berbeda dengan program sebelumnya, model Minapadi Salin di Batang menambahkan budidaya rumput laut sebagai sumber pendapatan tambahan bagi masyarakat pesisir. Komoditas yang dikembangkan adalah Gracilaria verrucosa, jenis rumput laut yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan mampu beradaptasi pada perairan dengan tingkat salinitas tinggi.

        Pada tahap awal, penebaran dilakukan menggunakan sekitar 30 kilogram bibit rumput laut. Panen perdana ditargetkan berlangsung dalam waktu tiga bulan dengan potensi produktivitas hingga 5 kilogram hasil panen untuk setiap 1 kilogram bibit yang ditebar. Setelah panen awal, budidaya dapat dilanjutkan secara bertahap setiap tiga hingga empat minggu.

        Dari sisi produktivitas pertanian, program ini ditargetkan mampu menghasilkan padi biosalin sebanyak 6-7 ton per hektare dengan dukungan teknologi berbasis riset yang dikembangkan BRIN. Sementara benih ikan nila salin yang ditebar diharapkan menghasilkan ikan dengan bobot rata-rata sekitar 300 gram per ekor saat panen.

        Deputi Bidang Riset dan Inovasi Daerah BRIN, Yopi, mengatakan program tersebut menjadi contoh implementasi hasil riset untuk menjawab tantangan produktivitas lahan pesisir.

        “BRIN tidak ingin hasil riset hanya berhenti di laboratorium, tetapi harus hadir di tengah masyarakat dan menjadi solusi nyata bagi persoalan daerah,” kata Yopi.

        Bupati Batang M. Faiz Kurniawan menilai program tersebut membuka peluang pemanfaatan lahan salin yang selama ini kurang produktif menjadi kawasan pertanian dan perikanan bernilai ekonomi.

        “Kami mengapresiasi kolaborasi antara PGN, BRIN, dan berbagai pihak dalam menghadirkan Program Minapadi Salin di Kabupaten Batang. Program ini tidak hanya mendukung ketahanan pangan nasional, tetapi juga membuka peluang peningkatan kesejahteraan petani dan masyarakat pesisir melalui pemanfaatan lahan salin yang lebih produktif,” ujar Faiz.

        Program Minapadi Salin merupakan kelanjutan dari pengembangan padi biosalin yang sebelumnya diterapkan di wilayah pesisir Mangunharjo, Semarang, dan Kabupaten Jepara.

        Baca Juga: PGN Gandeng BKKBN dan DLH Perkuat Pengasuhan Anak Usia Dini

        Baca Juga: PGN Salurkan Layanan Kesehatan untuk Ribuan Warga dan Pelajar

        Di Semarang, luas pengembangan lahan meningkat dari 20 hektare menjadi lebih dari 115 hektare. Sementara di Jepara, realisasi panen mencapai 22 hektare dari target 20 hektare dengan nilai ekonomi sekitar Rp1,23 miliar.

        Secara kumulatif, program Padi Biosalin yang telah dijalankan PGN dan BRIN menghasilkan nilai ekonomi sekitar Rp7,66 miliar.

        Ke depan, program di Batang juga akan diperkuat dengan penanaman mangrove di sekitar kawasan budidaya sebagai upaya mitigasi abrasi sekaligus menjaga keberlanjutan ekosistem pesisir.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Annisa Nurfitri

        Bagikan Artikel: