Harga BBM Naik, AISMOLI Dorong Pemerintah Lakukan Percepatan Adopsi Kendaraan Listrik
Kredit Foto: Rahmat Saepulloh
Asosiasi Industri Sepeda Motor Listrik Indonesia (AISMOLI) mendorong percepatan transisi kendaraan listrik setelah survei menunjukkan dukungan publik terhadap kendaraan listrik mencapai 98% di tengah kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) sekitar 37% yang berlaku sejak 10 Juni 2026.
Ketua Umum AISMOLI Budi Setiyadi mengatakan kenaikan harga BBM dan pelemahan nilai tukar rupiah menjadi momentum penting untuk mempercepat peralihan dari kendaraan berbasis bahan bakar fosil ke kendaraan listrik.
Menurutnya, setiap kendaraan listrik yang menggantikan kendaraan konvensional berpotensi mengurangi ketergantungan terhadap BBM impor sekaligus menekan beban subsidi energi pemerintah.
“Hasil survei ini menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia sudah siap, memahami manfaatnya, dan menantikan percepatan transisi energi di bidang transportasi. Bagi Pemerintah, ini jangan diposisikan sebagai beban, melainkan peluang untuk memimpin perubahan yang didukung dan diharapkan oleh mayoritas masyarakat. Efek jangka panjangnya kita akan mengurangi subsidi BBM yang tinggi,” ujar Budi.
Dorongan tersebut merujuk pada hasil Survei Dampak Penggunaan Kendaraan Listrik yang dilakukan Litbang Kompas pada April 2026 melalui wawancara tatap muka di Jakarta, Surabaya, Bandung, Medan, dan Makassar.
Survei tersebut menunjukkan 98% responden mendukung penggunaan kendaraan listrik di Indonesia, sementara 94,8% menilai pemerintah perlu mempercepat transisi kendaraan listrik secara aktif.
Selain itu, tingkat pengenalan masyarakat terhadap kendaraan listrik mencapai rata-rata 8,04 dari skala 10, menunjukkan tingkat pemahaman yang relatif tinggi terhadap teknologi tersebut.
Dari sisi potensi permintaan, sebanyak 81,1% responden yang belum memiliki kendaraan listrik menyatakan bersedia beralih apabila kendaraan listrik terbukti memberikan manfaat ekonomi, kesehatan, dan lingkungan yang lebih baik.
Sementara itu, 96,8% pengguna kendaraan listrik menyatakan bersedia merekomendasikan penggunaan kendaraan listrik kepada orang lain berdasarkan pengalaman penggunaan sehari-hari.
AISMOLI menilai hasil survei tersebut menunjukkan kesiapan pasar yang semakin kuat. Namun, organisasi tersebut menilai percepatan adopsi tetap membutuhkan dukungan kebijakan yang konsisten dan berkelanjutan.
Data survei juga menunjukkan 89,2% responden berharap pemerintah membuat harga kendaraan listrik lebih terjangkau, sedangkan 95,8% mendukung peningkatan produksi kendaraan rendah emisi di dalam negeri.
Sebanyak 79,4% responden juga mengharapkan pemerintah memperketat aturan agar produsen kendaraan meningkatkan produksi kendaraan listrik, sementara 97,4% menilai regulasi pengendalian emisi kendaraan masih perlu diperkuat.
Sekretaris Jenderal AISMOLI Hanggoro Ananta Khrisna mengatakan kepastian regulasi menjadi faktor penting dalam menjaga momentum pertumbuhan industri kendaraan listrik nasional.
“Industri dan konsumen telah menunjukkan kesiapan yang sama. Kini saatnya Pemerintah mengambil peran kepemimpinan, tidak hanya untuk momen ini, tetapi untuk membangun ekosistem kebijakan yang memberi industri kepastian jangka panjang. Kebijakan yang konsisten dan berkelanjutan adalah fondasi yang memungkinkan investasi tumbuh, lapangan kerja tercipta, dan manfaat nyata dirasakan masyarakat melalui penghematan biaya transportasi dan peningkatan daya beli,” ujar Hanggoro.
AISMOLI menilai konsistensi kebijakan fiskal dan regulasi menjadi faktor utama yang menentukan keberlanjutan investasi industri kendaraan listrik, mulai dari skema dukungan pembelian, kebijakan perpajakan kendaraan, hingga standar produksi nasional.
Baca Juga: Harga BBM Nonsubsidi Tak Bisa Langsung Turun Meski Harga Minyak Dunia Melandai, Ini Alasannya
Baca Juga: Bahlil Tegaskan BBM dan LPG Subsidi Tidak Naik, Ini Perintah Langsung Presiden Prabowo
Di sisi rumah tangga, tekanan biaya transportasi juga dinilai semakin relevan. Berdasarkan riset INDEF 2025, hampir 20% pengeluaran rumah tangga dialokasikan untuk kebutuhan kendaraan, termasuk pembelian, perawatan, pajak, dan bahan bakar.
Sementara itu, data Institute for Transportation and Development Policy (ITDP) yang dipaparkan dalam AISMOLI Annual Meeting 2026 menunjukkan biaya operasional sepeda motor listrik 74%-83% lebih murah dibandingkan sepeda motor berbahan bakar minyak.
AISMOLI menilai kombinasi dukungan masyarakat yang tinggi, kesiapan industri, serta tekanan biaya energi akibat kenaikan BBM menjadi momentum penting untuk mempercepat transisi kendaraan listrik nasional.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Annisa Nurfitri