Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Iran Menang Besar? Eks Penasihat Keamanan AS Sebut Trump Sedang Dipermainkan

        Iran Menang Besar? Eks Penasihat Keamanan AS Sebut Trump Sedang Dipermainkan Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Kesepakatan terbaru antara Amerika Serikat dan Iran memicu kontroversi. Kritikan tajam itu datang dari mantan Penasihat Keamanan Nasional AS, John Bolton, yang menilai Teheran berhasil memanfaatkan keinginan Presiden Donald Trump untuk segera mencapai kesepakatan demi kepentingan politik dan ekonomi dalam negeri.

        Bolton bahkan menyebut Iran sukses mengendalikan arah negosiasi dan memperoleh keuntungan yang lebih besar dibandingkan Washington.

        "Mereka mempermainkannya seperti biola. Itulah mengapa mereka mendapatkan kesepakatan yang mereka inginkan," kata Bolton dalam wawancaranya dengan EuroNews. 

        Mantan pejabat Gedung Putih itu menilai Trump lebih fokus pada stabilitas harga energi dibandingkan mempertimbangkan dampak strategis jangka panjang dari kesepakatan tersebut.

        Menurutnya, kepentingan utama Trump adalah memastikan jalur perdagangan minyak tetap terbuka dan harga bahan bakar tidak melonjak menjelang pemilu.

        "Trump tidak memikirkan implikasi geostrategis dari kesepakatan itu. Dia hanya memikirkan satu hal. Dia ingin selat itu terbuka. Dia ingin minyak Teluk masuk ke pasar internasional. Dia ingin harga bensin di SPBU turun. Hanya itu yang dia pedulikan," ujarnya.

        Baca Juga: 'Kami Tunggu Pembuktian Trump,' Khamenei Tiba-Tiba Muncul Beri Pesan usai Kesepakatan Iran-Amerika

        Persoalan apakah pendekatan itu sama saja dengan menukar kepentingan keamanan nasional demi harga bahan bakar yang lebih murah, Bolton memberikan jawaban yang tak kalah tajam.

        "Saya pikir pada dasarnya memang seperti itulah intinya," tegasnya.

        Bolton juga menolak anggapan bahwa kepemimpinan Iran telah berubah secara fundamental setelah serangan AS dan Israel. Menurutnya, yang berubah hanya sosok-sosok yang duduk di pemerintahan, sementara ideologi rezim tetap sama.

        "Perubahan kepemimpinan ini hanya karena kita telah membunuh empat atau lima ratus orang terpenting dalam rezim yang ada dan sekarang yang tersisa hanyalah para wakil dan pengikut mereka. Jadi, ya, orang-orangnya berbeda, tetapi rezim fanatiknya tetap sama," katanya.

        Tak berhenti di situ, Bolton juga meragukan komitmen Iran terkait program nuklirnya. Ia mengingatkan bahwa Teheran telah berulang kali memberikan janji serupa selama puluhan tahun.

        "Iran telah berkomitmen untuk tidak memperoleh senjata nuklir selama 56 tahun sejak bergabung dengan Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir pada tahun 1970. Tapi mereka tidak sungguh-sungguh," ujar Bolton. 

        Menurutnya, kesepakatan yang disetujui Trump justru menghilangkan salah satu alat tekanan terbesar yang dimiliki Amerika Serikat terhadap Iran. Ia menilai Teheran berhasil membaca keinginan Trump yang sangat besar untuk segera mencapai kesepakatan.

        Baca Juga: Wakilnya Trump Batal Hadir, Kelanjutan Negosiasi Damai Iran-Amerika Jadi Tak Pasti

        "Itu akan menghilangkan senjata terbesar yang kita miliki, pengaruh terbesar yang kita miliki atas Iran. Hanya itu yang akan mereka pahami," kata Bolton.

        Menutup kritiknya, Bolton kembali melontarkan tudingan keras bahwa Iran telah mengetahui titik lemah Trump sejak awal proses negosiasi.

        "Dia sangat menginginkan kesepakatan. Dan mereka telah memanipulasinya," pungkasnya.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Belinda Safitri
        Editor: Belinda Safitri

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: