Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        'Tak Bisa dalam Sebulan,' Prabowo Butuh Kesempatan untuk Stabilkan Rupiah dan IHSG

        'Tak Bisa dalam Sebulan,' Prabowo Butuh Kesempatan untuk Stabilkan Rupiah dan IHSG Kredit Foto: Sufri Yuliardi
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dinilai berada di jalur yang tepat dalam upaya menjaga stabilitas ekonomi nasional meski masih menghadapi berbagai tantangan global dan domestik. Sejumlah kalangan dunia usaha pun mengajak masyarakat memberikan kesempatan kepada pemerintah untuk menjalankan program-program strategis yang membutuhkan waktu sebelum memberikan hasil optimal.

        Bendahara Umum Tidar Jakarta Barat sekaligus Pengusaha, Noverizky Tri Putra, menilai berbagai indikator pasar keuangan mulai menunjukkan sinyal positif terhadap arah kebijakan ekonomi pemerintah.

        Baca Juga: Pengusaha MBG Kritik Penghapusan Insentif Saat Libur Sekolah: Kurang Masuk Akal, Perjanjian Dilanggar

        Menurutnya, kepercayaan investor terhadap Indonesia masih terjaga, tercermin dari pergerakan pasar modal yang tetap mampu bertahan di tengah ketidakpastian global.

        "Penguatan rupiah dan membaiknya IHSG merupakan sinyal positif bahwa kepercayaan investor terhadap Indonesia tetap terjaga. Ini menunjukkan pasar melihat adanya arah kebijakan yang jelas dan optimisme terhadap masa depan ekonomi nasional," ujar Noverizky dalam keterangan tertulis, Jumat (19/6/2026).

        Ia menilai pemerintahan Prabowo saat ini sedang membangun fondasi pertumbuhan ekonomi jangka panjang melalui berbagai program strategis, mulai dari hilirisasi industri, penguatan ketahanan pangan, peningkatan investasi, pembangunan sumber daya manusia hingga kebijakan yang bertujuan menjaga daya beli masyarakat.

        Menurut Noverizky, program-program tersebut tidak dapat diukur keberhasilannya hanya dalam hitungan bulan.

        "Kita tidak bisa menilai keberhasilan sebuah pemerintahan hanya dalam hitungan beberapa bulan. Kebijakan ekonomi membutuhkan proses, konsistensi, dan stabilitas agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat," katanya.

        Ia menambahkan Indonesia masih memiliki berbagai keunggulan yang membuat prospek ekonomi nasional tetap menjanjikan di mata investor global. Mulai dari besarnya pasar domestik, bonus demografi, kekayaan sumber daya alam hingga posisi strategis Indonesia di kawasan Asia.

        Sebagai pelaku usaha, Noverizky mengaku masih melihat peluang pertumbuhan ekonomi yang besar dalam beberapa tahun ke depan apabila stabilitas politik dan kepastian regulasi terus terjaga.

        "Investor pada dasarnya mencari kepastian. Ketika pemerintah mampu menjaga stabilitas politik, kepastian regulasi, dan konsistensi kebijakan, maka kepercayaan akan terus meningkat. Kita mulai melihat tanda-tanda ke arah sana," ujarnya.

        Karena itu, ia mengajak masyarakat untuk tidak terburu-buru memberikan penilaian negatif terhadap berbagai dinamika ekonomi yang terjadi saat ini.

        Menurutnya, setiap pemerintahan pasti menghadapi tantangan dalam menjalankan agenda pembangunan, terlebih ketika melaksanakan program-program besar yang membutuhkan penyesuaian di banyak sektor.

        "Masyarakat tentu boleh memberikan kritik dan masukan. Namun kita juga perlu memberikan kesempatan kepada pemerintah untuk bekerja. Program-program strategis tidak mungkin menghasilkan dampak instan. Dibutuhkan waktu agar hasilnya benar-benar terlihat," katanya.

        Di sisi lain, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menutup perdagangan Jumat (19/6/2026) di zona hijau. IHSG menguat 0,08 persen atau naik 4,799 poin ke level 6.177,139.

        Meski penguatannya terbatas, pergerakan tersebut menunjukkan pasar masih mampu bertahan di tengah beragam sentimen global. Sebanyak 332 saham tercatat menguat, sementara 342 saham melemah dan 141 saham lainnya stagnan.

        Aktivitas perdagangan juga terbilang tinggi dengan volume transaksi mencapai 31,5 miliar saham dan nilai transaksi sebesar Rp25,4 triliun.

        Pelaku pasar masih mencermati sejumlah faktor eksternal seperti arah kebijakan suku bunga Federal Reserve, perkembangan ekonomi global, serta pergerakan harga komoditas dunia.

        Sementara itu, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat pada penutupan perdagangan Jumat berada di level Rp17.804 per dolar AS, atau melemah tipis 10 poin dibandingkan posisi sebelumnya di Rp17.794 per dolar AS.

        Meski demikian, Noverizky menilai berbagai indikator yang mulai membaik saat ini harus menjadi momentum untuk memperkuat optimisme terhadap perekonomian nasional.

        "Yang dibutuhkan saat ini adalah kolaborasi. Pemerintah bekerja menjalankan programnya, dunia usaha terus berinvestasi dan menciptakan lapangan pekerjaan, sementara masyarakat tetap produktif dan optimistis. Dengan cara itu, saya percaya ekonomi Indonesia akan semakin baik ke depan," tuturnya.

        Ia menegaskan bahwa pergerakan pasar bukan sekadar angka, melainkan cerminan harapan dan ekspektasi terhadap masa depan ekonomi Indonesia.

        Baca Juga: 'Kami Tunggu Pembuktian Trump,' Khamenei Tiba-Tiba Muncul Beri Pesan usai Kesepakatan Iran-Amerika

        "Penguatan rupiah dan IHSG bukan sekadar angka. Itu mencerminkan harapan, kepercayaan, dan ekspektasi terhadap masa depan Indonesia. Kita patut optimistis bahwa dengan kerja keras dan konsistensi kebijakan, ekonomi Indonesia akan terus bergerak ke arah yang lebih baik," pungkasnya.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Aldi Ginastiar

        Bagikan Artikel: