Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Bappenas Buka S-LCA 2026, Dorong Penguatan Standar Dampak Sosial

        Bappenas Buka S-LCA 2026, Dorong Penguatan Standar Dampak Sosial Kredit Foto: Japfa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Indonesia untuk pertama kalinya menjadi tuan rumah The 10th International Conference on Social Life Cycle Assessment (S-LCA 2026), konferensi internasional yang membahas pengukuran dampak sosial dan keberlanjutan. Forum yang diselenggarakan oleh Life Cycle Indonesia (LCI) bersama JAPFA tersebut berlangsung pada 17-19 Juni 2026 di JAPFA The Learning Centre (JTLC), Megamendung, Bogor.

        Penyelenggaraan S-LCA 2026 menandai pertama kalinya konferensi tersebut digelar di kawasan Asia-Pasifik sejak pertama kali diselenggarakan pada 2010. Sebelumnya, konferensi secara bergantian diselenggarakan di kawasan Eropa dan Amerika.

        Konferensi ini mempertemukan lebih dari 400 peserta dari 25 negara yang berasal dari kalangan industri, akademisi, pemerintah, dan organisasi masyarakat sipil. Sebanyak 55% peserta berasal dari sektor industri, 36% dari akademisi, dan sisanya dari pemerintah serta organisasi non-pemerintah.

        Selain itu, panitia menerima lebih dari 160 abstrak dari lebih dari 30 negara yang mencakup partisipasi dari Asia, Afrika, Eropa, Amerika, hingga Oseania.

        Forum internasional tersebut dibuka oleh Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas, Rachmat Pambudy. Kehadiran pemerintah dalam pembukaan konferensi menunjukkan meningkatnya perhatian terhadap penggunaan data ilmiah dalam penyusunan kebijakan pembangunan berkelanjutan.

        S-LCA atau Social Life Cycle Assessment merupakan metodologi yang digunakan untuk mengukur dampak sosial suatu produk, layanan, atau aktivitas ekonomi sepanjang rantai nilainya. Dalam konferensi ini, para peserta membahas pengembangan standar dan metodologi yang dapat diterapkan pada berbagai sektor ekonomi.

        Tema “Unity in Diversity” diangkat untuk mendorong harmonisasi metodologi penilaian keberlanjutan global dengan mempertimbangkan perspektif negara-negara berkembang atau Global South, termasuk Asia, Afrika, dan Amerika Latin.

        Konferensi menghadirkan sekitar 20 sesi yang membahas berbagai sektor strategis, mulai dari pertanian dan pangan, transisi energi, mobilitas, pembangunan infrastruktur, rantai pasok industri, hingga keuangan berkelanjutan dan tata kelola perusahaan.

        Conference Chair S-LCA 2026, Jessica Hanafi, mengatakan konferensi tersebut bertujuan memperkuat pengembangan standar sosial yang relevan bagi berbagai sektor industri.

        “Tujuan dari konferensi adalah untuk mengembangkan standar sosial yang relevan bagi sektor dan pentingnya menjembatani kesenjangan antara teori dan praktik serta pentingnya kolaborasi untuk mendorong perubahan sistemik dalam ekosistem,” ujar Jessica Hanafi.

        Baca Juga: Konferensi Republik di UGM Hasilkan Tiga Tuntutan Penguatan Masyarakat Sipil

        Baca Juga: Kemenperin Buka Jalan Pelaku Industri Kecil Masuk Rantai Pasok Kendaraan Listrik

        Menurut penyelenggara, hasil diskusi dalam konferensi diharapkan dapat menjadi masukan bagi pengembangan standar Social LCA sektoral dan mendukung penyusunan standar internasional, termasuk ISO 14075, agar lebih mencerminkan keragaman kondisi di berbagai negara.

        Selama tiga hari penyelenggaraan, peserta mengikuti berbagai sesi diskusi dan pemaparan yang melibatkan akademisi, lembaga internasional, pelaku industri, serta pembuat kebijakan. Beberapa pembicara yang hadir antara lain Prof. Matthias Finkbeiner dari TU Berlin, Prof. Marzia Traverso dari RWTH Aachen, perwakilan Global Reporting Initiative (GRI), United Nations Industrial Development Organization (UNIDO), serta United Nations Environment Programme (UNEP).

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Annisa Nurfitri

        Bagikan Artikel: