Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Trump Pilih Hadapi Risiko Depresi Global Demi Cegah Iran Miliki Senjata Nuklir

        Trump Pilih Hadapi Risiko Depresi Global Demi Cegah Iran Miliki Senjata Nuklir Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Ancaman depresi ekonomi global ternyata bukan hal yang paling dikhawatirkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump setelah konflik dengan Iran mereda.

        Trump justru menegaskan bahwa mencegah Iran memiliki senjata nuklir jauh lebih penting dibanding risiko perlambatan ekonomi yang bisa muncul akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

        Pernyataan itu disampaikan Trump ketika menjawab pertanyaan wartawan mengenai kemungkinan dampak ekonomi dunia jika ketegangan antara Washington dan Teheran kembali meningkat.

        Menurut Trump, ancaman senjata nuklir memiliki konsekuensi yang jauh lebih berbahaya dibanding gejolak ekonomi apa pun yang mungkin terjadi.

        "Senjata nuklir lebih penting daripada depresi. Depresi itu sangat buruk. Senjata nuklir akan menyebabkan depresi jauh lebih cepat," kata Trump kepada wartawan, Senin (22/6/2026).

        Pernyataan tersebut menjadi sinyal bahwa pemerintahan Trump masih menempatkan isu nuklir Iran sebagai prioritas utama kebijakan luar negeri Amerika Serikat.

        Sikap itu muncul meskipun konflik yang sempat memanas antara kedua negara kini mulai memasuki fase deeskalasi setelah tercapainya kesepakatan terbaru.

        Trump menegaskan Amerika Serikat tetap akan mengambil langkah yang dianggap perlu apabila Iran tidak menjalankan komitmen yang telah disepakati bersama.

        "Jika Iran tidak mematuhi ketentuan memorandum yang telah ditandatangani, AS akan melakukan apa yang harus dilakukan," ujar Trump.

        Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Gedung Putih belum sepenuhnya menurunkan kewaspadaan terhadap langkah-langkah yang akan diambil Teheran ke depan.

        Di sisi lain, kesepakatan yang dicapai antara kedua negara sebenarnya sempat memberikan harapan baru bagi stabilitas kawasan dan perekonomian global.

        Pekan lalu, Iran dan Amerika Serikat menandatangani sebuah memorandum secara daring yang mengatur penghentian konflik militer yang telah berlangsung sejak 28 Februari 2026.

        Dokumen tersebut memuat sejumlah poin penting yang menjadi dasar normalisasi hubungan kedua negara setelah berbulan-bulan berada dalam situasi tegang.

        Salah satu poin utama dalam kesepakatan itu adalah tenggat waktu bagi Amerika Serikat untuk mencabut blokade angkatan laut terhadap sejumlah pelabuhan Iran.

        Sebagai bagian dari komitmen yang sama, Iran juga diwajibkan memulihkan aktivitas pelayaran di Selat Hormuz yang selama ini menjadi jalur perdagangan energi paling strategis di dunia.

        Kesepakatan tersebut lahir setelah perundingan intensif yang melibatkan Iran dan Amerika Serikat dengan bantuan mediasi dari Pakistan dan Qatar.

        Baca Juga: Trump Gigit Jari, Tidak Ada Kewajiban Beli Produk Amerika dalam Kesepakatan dengan Iran

        Pembicaraan berlangsung di kawasan resor Burgenstock, Swiss, pada 21 Juni 2026 dan menjadi salah satu momentum diplomatik paling penting dalam hubungan kedua negara dalam beberapa tahun terakhir.

        Meski jalur diplomasi mulai menunjukkan hasil, pernyataan Trump memperlihatkan bahwa kekhawatiran terhadap program nuklir Iran belum sepenuhnya hilang dari agenda Washington.

        Bagi Trump, ancaman yang ditimbulkan oleh kemungkinan kepemilikan senjata nuklir oleh Iran dinilai memiliki dampak yang jauh lebih besar dibanding potensi krisis ekonomi yang bisa terjadi akibat konflik geopolitik.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Wahyu Pratama
        Editor: Wahyu Pratama

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: