Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        BEI Kebanjiran IPO, Kaesang hingga Jejak Prajogo Pangestu Warnai Antrean Emiten Baru

        BEI Kebanjiran IPO, Kaesang hingga Jejak Prajogo Pangestu Warnai Antrean Emiten Baru Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Bursa Efek Indonesia (BEI) memasuki periode padat penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO). Sedikitnya enam perusahaan dari berbagai sektor usaha tengah menjalani proses bookbuilding dan menargetkan pencatatan saham pada awal hingga pertengahan Juli 2026.

        Berdasarkan prospektus masing-masing emiten, total dana yang berpotensi dihimpun dari enam IPO tersebut mencapai lebih dari Rp2,14 triliun. Di antara antrean tersebut, perhatian pasar tertuju pada PT Rans Entertainmen Indonesia Tbk yang mencantumkan nama Kaesang Pangarep dan Chief Executive Officer Danantara Indonesia Dony Oskaria sebagai pemegang saham, serta PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL) yang dikaitkan dengan kepemilikan saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) milik Prajogo Pangestu pada induk usahanya.

        Mayoritas perusahaan menargetkan memperoleh pernyataan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada akhir Juni 2026 sebelum memasuki masa penawaran umum dan pencatatan saham di BEI pada pekan pertama Juli.

        Kaesang dan Dony Oskaria Masuk Sebelum RANS IPO

        Salah satu IPO yang paling menyita perhatian datang dari PT Rans Entertainmen Indonesia Tbk. Selain didirikan Raffi Ahmad dan Nagita Slavina, perseroan juga mengungkap sejumlah nama publik dalam struktur pemegang saham menjelang IPO.

        Dalam prospektus ringkas yang diterbitkan pada 23 Juni 2026, perseroan mencatat Chief Executive Officer Danantara Indonesia Dony Oskaria memiliki 345,25 juta saham atau setara 3,42% kepemilikan sebelum IPO. Sementara itu, Kaesang Pangarep tercatat menguasai 115,25 juta saham atau sekitar 1,14%.

        Selain kedua nama tersebut, terdapat Soultan Ariq Rachman dengan kepemilikan 3,43% dan Sutanto Hartono sebesar 1,43%.

        RANS menawarkan sebanyak-banyaknya 2,525 miliar saham baru atau setara 20,02% modal setelah IPO dengan kisaran harga Rp135-Rp170 per saham. Perseroan berpotensi menghimpun dana hingga Rp429,25 miliar dan menargetkan pencatatan saham di Bursa Efek Indonesia pada 10 Juli 2026.

        Jejak Prajogo Pangestu Muncul dalam IPO PRDL

        Selain RANS, pasar juga menyoroti rencana IPO PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL) yang memiliki keterkaitan dengan grup usaha Prajogo Pangestu melalui kepemilikan saham pada induk usahanya.

        Data pemegang saham di atas 1% yang diterbitkan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) menunjukkan PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) memiliki sekitar 13,89 juta saham atau setara 1,48% saham PT Prodia Widyahusada Tbk (PRDA) per Mei 2026.

        PRDA merupakan induk usaha PRDL yang saat ini tengah mempersiapkan pencatatan saham anak usahanya di Bursa Efek Indonesia.

        Dalam prospektus awal yang diterbitkan pada 18 Juni 2026, PRDL menawarkan sebanyak-banyaknya 522,9 juta saham baru atau setara 30% modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO. Perseroan menetapkan kisaran harga penawaran Rp100-Rp120 per saham sehingga berpotensi menghimpun dana segar hingga Rp62,75 miliar.

        PRDL yang bergerak di bidang pembuatan dan pengolahan alat kesehatan terkait diagnosis medis menargetkan pencatatan saham di Bursa Efek Indonesia pada 9 Juli 2026.

        JEC Menjadi IPO Terbesar dalam Antrean

        Dari sisi nilai emisi, PT Nitrasanata Dharma Tbk, operator jaringan rumah sakit dan klinik mata JEC, menjadi calon emiten dengan target penghimpunan dana terbesar dalam gelombang IPO kali ini.

        Perseroan menawarkan sebanyak-banyaknya 487,98 juta saham yang terdiri atas 325,32 juta saham baru dan 162,66 juta saham divestasi milik pemegang saham eksisting. Jumlah saham yang ditawarkan setara 15% dari modal ditempatkan dan disetor setelah IPO.

        Dengan kisaran harga Rp1.200-Rp1.400 per saham, nilai penawaran umum mencapai maksimal Rp683,18 miliar. Dari jumlah tersebut, sekitar Rp455,45 miliar berasal dari penerbitan saham baru dan Rp227,73 miliar berasal dari saham divestasi.

        Perseroan menjadwalkan pencatatan saham di BEI pada 7 Juli 2026.

        INACO dan Bach Multi Global Bidik Dana Ratusan Miliar Rupiah

        Dari sektor konsumer, PT Niramas Utama Tbk, produsen makanan dan minuman penutup dengan merek INACO, menawarkan sebanyak-banyaknya 350 juta saham baru atau 25,93% dari modal setelah IPO.

        Perseroan menetapkan kisaran harga penawaran Rp900-Rp1.120 per saham sehingga berpotensi menghimpun dana hingga Rp392 miliar. Saham perseroan dijadwalkan tercatat di BEI pada 7 Juli 2026.

        Pada saat yang sama, PT Bach Multi Global Tbk yang bergerak di bisnis penjualan dan penyewaan genset serta jasa konstruksi dan pemeliharaan infrastruktur telekomunikasi menawarkan 615 juta saham baru atau 15,06% modal setelah IPO.

        Dengan kisaran harga Rp400-Rp500 per saham, perseroan berpotensi menghimpun dana Rp246 miliar hingga Rp307,5 miliar.

        Prospektus juga mengungkap adanya perjanjian opsi yang berpotensi mengubah struktur pengendalian perseroan setelah IPO. Setelah transaksi opsi diselesaikan, PT Global Telekomunikasi Prima diproyeksikan menguasai 51% saham perusahaan.

        Saham Bach Multi Global dijadwalkan tercatat di BEI pada 7 Juli 2026.

        Sektor Kesehatan Turut Diramaikan Esa Medika

        Selain PRDL dan JEC, sektor kesehatan juga diramaikan oleh PT Esa Medika Mandiri Tbk.

        Perusahaan distribusi alat laboratorium, alat farmasi, dan alat kedokteran tersebut menawarkan sebanyak-banyaknya 522,86 juta saham baru atau setara 30% modal setelah IPO.

        Dengan kisaran harga Rp446-Rp515 per saham, perseroan berpotensi menghimpun dana hingga Rp269,27 miliar. Selain itu, perseroan mengalokasikan maksimal 10% saham yang ditawarkan untuk program Employee Stock Allocation (ESA).

        Saham Esa Medika dijadwalkan tercatat di Bursa Efek Indonesia pada 8 Juli 2026.

        Dengan antrean enam calon emiten tersebut, pasar akan kedatangan perusahaan dari berbagai sektor dengan total potensi penghimpunan dana lebih dari Rp2,14 triliun dalam rentang waktu kurang dari dua pekan.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Annisa Nurfitri
        Editor: Annisa Nurfitri

        Bagikan Artikel: