Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Lebih dari Sekadar Angkut Penumpang, Transportasi Publik adalah Mesin Pertumbuhan Ekonomi

        Lebih dari Sekadar Angkut Penumpang, Transportasi Publik adalah Mesin Pertumbuhan Ekonomi Kredit Foto: Antara/Fauzan
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Setiap pagi, jutaan orang bergerak menuju Jakarta.

        Sebagian berangkat ketika langit masih gelap. Sebagian lainnya harus meninggalkan rumah saat anak-anak mereka masih tertidur. Dari Bogor, Bekasi, Depok, Tangerang hingga berbagai sudut Jakarta, mereka berangkat dengan tujuan yang sama: bekerja, berbisnis, belajar, atau menjalankan aktivitas ekonomi yang membuat roda kota terus berputar.

        Namun sebelum produktivitas itu tercipta, ada satu tantangan yang harus dihadapi setiap hari: kemacetan.

        Bagi masyarakat perkotaan, kemacetan sering kali dianggap sebagai bagian normal dari kehidupan. Antrean kendaraan yang mengular di jalan tol, waktu tempuh yang sulit diprediksi, hingga perjalanan berjam-jam menuju tempat kerja seolah menjadi rutinitas yang tak terhindarkan.

        Padahal di balik kondisi tersebut, terdapat biaya ekonomi yang sangat besar.

        Ekonom dan praktisi kebijakan publik Wijayanto Samirin memperkirakan kerugian akibat kemacetan di kawasan Jabodetabek telah mencapai lebih dari Rp100 triliun per tahun. Kerugian tersebut tidak hanya berasal dari bahan bakar yang terbuang percuma saat kendaraan berhenti di tengah kepadatan lalu lintas, tetapi juga dari waktu produktif yang hilang, meningkatnya biaya operasional kendaraan, hingga penurunan produktivitas masyarakat.

        “Kalau kita berbicara Jabodetabek dan mencoba mengkuantifikasi seluruh kerugian akibat kemacetan, nilainya memang mendekati Rp100 triliun per tahun,” ujar Wijayanto.

        Angka tersebut menggambarkan betapa mahalnya harga yang harus dibayar sebuah kota ketika mobilitas tidak berjalan efisien.

        Waktu yang seharusnya dapat digunakan untuk bekerja, belajar, beristirahat, atau berkumpul bersama keluarga berubah menjadi jam-jam yang habis di jalan. Dalam skala individu, dampaknya mungkin terasa kecil. Namun ketika terjadi pada jutaan orang setiap hari, kerugiannya menjadi sangat besar bagi perekonomian kawasan.

        Ketika Waktu Menjadi Komoditas Paling Mahal

        Di kota-kota modern, waktu adalah aset ekonomi.

        Semakin cepat seseorang dapat berpindah dari satu tempat ke tempat lain, semakin tinggi pula peluang produktivitas yang dapat dihasilkan. Sebaliknya, semakin banyak waktu yang terbuang di jalan, semakin besar potensi ekonomi yang hilang.

        Wijayanto menyebut masyarakat yang tinggal di kawasan Jabodetabek rata-rata menghabiskan waktu antara dua hingga empat jam setiap hari untuk perjalanan pergi dan pulang bekerja.

        Bayangkan jika sebagian waktu tersebut dapat dipangkas melalui sistem transportasi publik yang lebih efisien.

        Dua jam yang berhasil dihemat setiap hari bukan hanya berarti seseorang bisa pulang lebih cepat. Waktu tersebut dapat digunakan untuk bekerja lebih produktif, mengembangkan usaha sampingan, meningkatkan keterampilan, atau sekadar beristirahat agar dapat bekerja lebih optimal keesokan harinya.

        Dalam konteks ekonomi perkotaan, efisiensi waktu pada akhirnya bertransformasi menjadi peningkatan produktivitas.

        Karena itu, pembangunan transportasi publik tidak semata-mata berbicara mengenai perpindahan orang dari satu titik ke titik lain, melainkan tentang bagaimana sebuah kota mengelola produktivitas warganya.

        Menghemat Lebih Banyak daripada yang Disadari

        Masih banyak masyarakat yang menganggap kendaraan pribadi sebagai pilihan yang lebih ekonomis dibanding transportasi publik.

        Padahal jika dihitung secara menyeluruh, biaya penggunaan kendaraan pribadi jauh lebih besar daripada yang terlihat.

        Selama ini sebagian besar pengguna kendaraan hanya menghitung pengeluaran bahan bakar. Padahal terdapat berbagai biaya lain yang sering luput dari perhatian, seperti biaya parkir, tol, servis berkala, penggantian suku cadang, asuransi, hingga depresiasi kendaraan.

        Menurut Wijayanto, pengguna transportasi publik di Jabodetabek rata-rata mengalokasikan sekitar 8%-15% pendapatannya untuk kebutuhan transportasi. Sementara pengguna sepeda motor menghabiskan sekitar 10%-20% pendapatan, dan pengguna mobil dapat mengalokasikan hingga 15%-30% pendapatannya.

        Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa transportasi publik bukan hanya lebih efisien bagi kota, tetapi juga lebih hemat bagi rumah tangga.

        Ketika biaya transportasi dapat ditekan, masyarakat memiliki ruang lebih besar untuk mengalokasikan pendapatan mereka ke kebutuhan lain seperti pendidikan, kesehatan, tabungan, maupun konsumsi yang berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi.

        Menciptakan Pusat-Pusat Ekonomi Baru

        Dampak transportasi publik tidak berhenti pada efisiensi biaya dan waktu.

        Di berbagai kota dunia, jaringan transportasi massal terbukti mampu mengubah pola pertumbuhan ekonomi kawasan. Kehadiran stasiun, halte, maupun titik transit sering kali menjadi magnet baru yang menarik aktivitas masyarakat.

        Fenomena serupa mulai terlihat di Jakarta.

        Kawasan-kawasan yang terhubung dengan jaringan MRT seperti Blok M, Fatmawati, dan Cipete berkembang menjadi ruang ekonomi yang lebih hidup dibanding beberapa tahun lalu. Restoran, kafe, toko ritel, hingga berbagai pelaku UMKM tumbuh mengikuti arus manusia yang datang dan pergi setiap hari.

        Menurut Wijayanto, titik transit transportasi publik pada dasarnya merupakan simpul ekonomi.

        Semakin banyak orang berkumpul dan berpindah melalui suatu kawasan, semakin besar peluang transaksi yang tercipta di sekitarnya.

        Transportasi publik menjadi semacam pembuluh darah yang mengalirkan energi ekonomi ke berbagai titik kota.

        Bagi pelaku usaha kecil, kondisi tersebut membuka peluang baru. Arus penumpang yang konsisten menciptakan pasar yang lebih stabil dan memungkinkan tumbuhnya berbagai jenis usaha yang sebelumnya sulit berkembang.

        Investasi yang Memberikan Efek Berantai

        Selain mendorong aktivitas ekonomi lokal, investasi pada transportasi publik juga menghasilkan dampak ekonomi yang lebih luas.

        Wijayanto mengutip studi LPEM FEB UI yang menunjukkan bahwa setiap investasi Rp1 triliun pada layanan Transjakarta mampu menghasilkan multiplier effect ekonomi hingga 3,5 kali lipat.

        Artinya, manfaat ekonomi yang dihasilkan jauh melampaui nilai investasi awal yang dikeluarkan.

        Efek berantai tersebut muncul dari meningkatnya aktivitas perdagangan, terbukanya lapangan kerja, bertambahnya mobilitas tenaga kerja, hingga meningkatnya nilai ekonomi kawasan yang terhubung dengan jaringan transportasi.

        Berbeda dengan pembangunan jalan yang sering kali kembali dipenuhi kendaraan beberapa tahun setelah dibangun, kapasitas transportasi publik dapat terus ditingkatkan melalui penambahan armada dan peningkatan frekuensi layanan.

        Karena itu, banyak kota besar dunia menjadikan transportasi publik sebagai fondasi utama pembangunan ekonomi jangka panjang.

        Selain itu, kemajuan investasi transportasi publik juga mulai terlihat di sejumlah daerah yang sebelumnya mendapatkan dukungan pemerintah pusat melalui program Buy The Service (BTS). Awalnya, program yang dikembangkan oleh Kementerian Perhubungan tersebut dirancang sebagai stimulus agar pemerintah daerah memiliki kesempatan membangun dan mengoperasikan layanan angkutan umum massal perkotaan. Melalui skema ‘beli layanan’ tersebut, alhasil pemerintah pusat membantu daerah menghadirkan akomodasi publik yang tertata dan membangun kapasitas pengelolaannya.

        Perlahan, seiring berjalannya waktu, sejumlah daerah mulai mandiri untuk menunjukkan kemampuannya sendiri melanjutkan layanan tersebut. Kota-kota besar seperti Makassar, Denpasar, dan Purwokerto kini tidak lagi bergantung pada dukungan operasional pemerintah pusat karena layanan BTS sudah diambil alih oleh pemerintah daerah.

        Dengan dukungan kebijakan yang konsisten, transportasi publik diharapkan dapat berkembang menjadi infrastruktur ekonomi yang mendukung aktivitas masyarakat sekaligus memperkuat daya saing daerah. Bagi daerah lain, pengalaman tersebut bisa menjadi gambaran bahwa pengembangan angkutan umum bukan hanya sebuah kebutuhan namun juga dapat menjadi peluang.

        Lebih dari Sekadar Moda Transportasi

        Dalam beberapa tahun terakhir, cara pandang terhadap transportasi publik mulai berubah.

        Jika sebelumnya transportasi publik dianggap hanya sebagai layanan mobilitas, kini semakin banyak pihak melihatnya sebagai instrumen pembangunan ekonomi.

        Transportasi publik menghubungkan tenaga kerja dengan pusat pekerjaan. Menghubungkan konsumen dengan pelaku usaha. Menghubungkan kawasan permukiman dengan pusat pertumbuhan ekonomi.

        Pada akhirnya, setiap perjalanan yang menjadi lebih cepat, lebih murah, dan lebih efisien bukan hanya menguntungkan individu yang melakukannya.

        Perjalanan tersebut ikut menentukan bagaimana sebuah kota tumbuh, bagaimana pelaku usaha berkembang, dan bagaimana daya saing ekonomi kawasan dapat terus meningkat di masa depan.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Azka Elfriza
        Editor: Annisa Nurfitri

        Bagikan Artikel: