Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Mengurangi Jejak Karbon, Satu Perjalanan dalam Satu Waktu

Mengurangi Jejak Karbon, Satu Perjalanan dalam Satu Waktu Kredit Foto: Antara/Aditya Pradana Putra
Warta Ekonomi, Jakarta -

Pagi hari di kota-kota besar Indonesia selalu dimulai dengan pemandangan yang hampir serupa.

Ribuan kendaraan bergerak bersamaan menuju pusat aktivitas. Jalan-jalan utama dipenuhi mobil dan sepeda motor yang saling berebut ruang. Di balik hiruk pikuk tersebut, ada sesuatu yang tidak selalu terlihat oleh mata: emisi yang terus dilepaskan ke udara setiap detik.

Bagi banyak orang, polusi udara sering dianggap sebagai persoalan yang abstrak. Sulit dilihat secara langsung dan dampaknya tidak selalu terasa dalam waktu singkat. Namun bagi jutaan warga perkotaan, kualitas udara yang menurun perlahan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Dalam beberapa dekade terakhir, pertumbuhan kendaraan bermotor berjalan beriringan dengan meningkatnya tantangan lingkungan di kawasan perkotaan. Kota-kota besar menghadapi tekanan yang semakin besar akibat emisi gas rumah kaca, polusi udara, dan konsumsi energi berbasis bahan bakar fosil.

Di tengah tantangan tersebut, transportasi publik semakin dipandang sebagai salah satu solusi paling nyata yang dapat dilakukan masyarakat untuk membantu memperbaiki kondisi lingkungan.

Ketika Setiap Kendaraan Menyumbang Emisi

Transportasi darat merupakan salah satu penyumbang utama emisi gas rumah kaca di kawasan perkotaan.

Setiap kendaraan yang menggunakan bahan bakar fosil menghasilkan emisi karbon selama beroperasi. Ketika jumlah kendaraan terus bertambah setiap tahun, jumlah emisi yang dilepaskan ke atmosfer juga ikut meningkat.

Persoalan ini menjadi semakin kompleks di kota-kota besar seperti Jakarta dan kawasan penyangganya yang setiap hari menampung jutaan perjalanan.

Ekonom dan praktisi kebijakan publik Wijayanto Samirin menilai pengurangan emisi tidak bisa hanya bergantung pada inovasi teknologi atau kebijakan pemerintah semata. Perubahan pola mobilitas masyarakat juga menjadi faktor penting.

“Kita harus mengkonversi penggunaan kendaraan pribadi menjadi kendaraan umum. Dampaknya sangat besar terhadap kualitas udara dan pengurangan emisi,” ujarnya.

Menurut Wijayanto, setiap masyarakat yang beralih dari kendaraan pribadi ke transportasi massal sesungguhnya ikut berkontribusi mengurangi jejak karbon kota.

Semakin banyak orang yang menggunakan transportasi publik, semakin sedikit kendaraan pribadi yang memenuhi jalan. Konsekuensinya, konsumsi bahan bakar berkurang dan emisi yang dihasilkan juga menurun.

Kota yang Lebih Hijau Dimulai dari Cara Warganya Bergerak

Di berbagai kota dunia, keberhasilan menciptakan lingkungan perkotaan yang lebih sehat hampir selalu berjalan beriringan dengan keberhasilan membangun sistem transportasi publik yang kuat.

Kota-kota seperti Tokyo, Seoul, Singapura, hingga berbagai kota di Eropa menunjukkan bahwa transportasi publik bukan hanya alat mobilitas, tetapi juga instrumen penting untuk menjaga kualitas lingkungan.

Ketika masyarakat memiliki akses terhadap transportasi publik yang nyaman, tepat waktu, dan mudah dijangkau, ketergantungan terhadap kendaraan pribadi secara alami akan berkurang.

Dampaknya tidak hanya terlihat pada kelancaran lalu lintas.

Jumlah kendaraan yang lebih sedikit berarti tingkat kebisingan yang lebih rendah, konsumsi energi yang lebih efisien, dan kualitas udara yang lebih baik bagi masyarakat.

Di Indonesia, transformasi tersebut mulai terlihat melalui pengembangan MRT, LRT, BRT, KRL, hingga bus listrik yang mulai digunakan di sejumlah kota.

Meski masih menghadapi berbagai tantangan, pembangunan transportasi publik menunjukkan arah baru menuju sistem mobilitas yang lebih ramah lingkungan.

Menghubungkan Transportasi Publik dan Target Iklim Indonesia

Bagi Indonesia, isu transportasi tidak lagi berdiri sendiri.

Transportasi kini menjadi bagian dari strategi yang lebih besar dalam menghadapi perubahan iklim.

Pemerintah Indonesia telah menetapkan target penurunan emisi melalui komitmen Nationally Determined Contribution (NDC) yang menjadi bagian dari upaya global menahan laju pemanasan bumi.

Untuk mencapai target tersebut, berbagai sektor harus berkontribusi, termasuk sektor transportasi.

Menurut Wijayanto, peningkatan penggunaan transportasi publik merupakan salah satu langkah paling konkret yang dapat dilakukan dalam jangka pendek karena dampaknya dapat langsung dirasakan.

Berbeda dengan berbagai program yang membutuhkan waktu panjang untuk menunjukkan hasil, pengurangan penggunaan kendaraan pribadi dapat memberikan efek lingkungan sejak hari pertama perubahan perilaku terjadi.

Karena itu, pembangunan transportasi publik bukan sekadar proyek infrastruktur, melainkan bagian dari strategi nasional untuk menciptakan pembangunan yang lebih berkelanjutan.

Kementerian Perhubungan mengembangkan program Buy The Service (BTS) sebagai stimulus awal bagi pemerintah daerah untuk menghadirkan layanan angkutan umum massal perkotaan. Melalui skema pembelian layanan itu, pemerintah pusat bergandeng tangan dengan pemerintah daerah untuk membangun ekosistem transportasi massal yang bisa menjadi alternatif kendaraan pribadi.

Perlahan, perubahan mulai terlihat di beberapa daerah seperti Makassar, Denpasar, dan Purwokerto yang mulai secara mandiri mengambil alih pengelolaan program BTS untuk memajukan kota mereka.

Dengan dorongan perkembangan tersebut, perluasan layanan transportasi publik bisa lebih dari sekedar agenda mobilitas, namun juga sebagai peluang untuk berbagai daerah untuk mengurangi pemakaian kendaraan pribadi yang selama ini menjadi salah satu sumber emisi perkotaan.

Generasi Baru dan Kesadaran Lingkungan

Perubahan menuju mobilitas yang lebih ramah lingkungan juga didorong oleh perubahan cara pandang masyarakat, terutama generasi muda.

Kesadaran terhadap isu perubahan iklim, kualitas udara, dan keberlanjutan kini semakin meningkat dibanding satu dekade lalu.

Menurut Wijayanto, generasi muda memiliki kepedulian yang lebih tinggi terhadap lingkungan dan cenderung lebih terbuka terhadap penggunaan transportasi publik.

Namun kesadaran tersebut perlu didukung oleh sistem yang memadai.

Keinginan untuk hidup lebih ramah lingkungan akan sulit diwujudkan apabila transportasi publik belum mampu memberikan kenyamanan, keamanan, dan keandalan yang dibutuhkan masyarakat.

Karena itu, pembangunan transportasi publik harus berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas layanan agar pilihan yang ramah lingkungan juga menjadi pilihan yang paling praktis.

Setiap Perjalanan Memiliki Dampak

Ketika seseorang memilih naik MRT, KRL, LRT, atau bus dibanding menggunakan kendaraan pribadi, dampaknya mungkin tidak langsung terlihat.

Namun jika keputusan yang sama diambil oleh ribuan bahkan jutaan orang setiap hari, hasilnya dapat mengubah wajah sebuah kota.

Udara menjadi lebih bersih.

Konsumsi energi menjadi lebih efisien.

Emisi karbon berkurang.

Dan kota memiliki peluang lebih besar untuk tumbuh secara berkelanjutan.

Pada akhirnya, masa depan lingkungan perkotaan tidak hanya ditentukan oleh kebijakan besar atau teknologi canggih. Ia juga ditentukan oleh pilihan-pilihan kecil yang dilakukan masyarakat setiap hari tentang bagaimana mereka bergerak dari satu tempat ke tempat lain.

Karena setiap perjalanan sesungguhnya memiliki arti yang lebih besar daripada sekadar mencapai tujuan.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Azka Elfriza
Editor: Annisa Nurfitri