Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Israel Siap Menentang Amerika, Tegaskan Ogah Mundur dari Lebanon: 200.000 Warga Tidak Akan Kembali

        Israel Siap Menentang Amerika, Tegaskan Ogah Mundur dari Lebanon: 200.000 Warga Tidak Akan Kembali Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Israel menunjukkan sikap keras terhadap tekanan internasional terkait kehadiran militernya di Lebanon Selatan. Pihaknya menekankan tidak akan mundur meski dituntut oleh sekutunya, Amerika Serikat.

        Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz menegaskan pasukan negaranya tidak akan meninggalkan zona keamanan yang telah dibentuk di wilayah tersebut, bahkan jika permintaan penarikan datang dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.

        Baca Juga: Masyarakat Sedang Ditipu, Harga Bensin Seharusnya Turun Drastis Menyusul Redanya Perang Iran-Amerika

        Menurut Katz, keberadaan pasukannya di zona keamanan tersebut berkaitan langsung dengan faktor keamanan dan pengalaman masa lalu yang dinilai membahayakan tentara Israel.

        “Bahkan jika ada tuntutan dari Amerika, kami tidak akan mundur,” kata Katz, dikutip dari The Times of Israel, Kamis (25/6).

        Ia menambahkan bahwa pihaknya tidak akan mengizinkan kembali ratusan ribu warga Lebanon ke wilayah yang saat ini berada di dalam zona keamanan tersebut karena hanya akan menimbulkan kekacauan bagi prajurit dari Israel.

        “Sebanyak 200.000 warga Lebanon tidak akan kembali. Karena apa yang terjadi pada masa lalu di zona keamanan, ketika ada populasi sipil di sana adalah munculnya bom pinggir jalan dan serangan terhadap para prajurit,” ujarnya.

        Katz menilai keberadaan warga sipil di area yang berdekatan dengan aktivitas kelompok bersenjata berpotensi menciptakan ancaman baru bagi pasukan Israel.

        “Kami tidak akan mundur,” tegasnya kembali.

        Pernyataan itu menjadi sinyal terbaru bahwa Tel Aviv tidak berniat mengubah kebijakan militernya di Lebanon dalam waktu dekat, meskipun Washington tengah berupaya mendorong penyelesaian diplomatik dan memperkuat peran pemerintah Lebanon dalam mengamankan wilayahnya sendiri.

        Pernyataan tersebut juga muncul di tengah meningkatnya perbedaan pandangan antara Israel dan Amerika Serikat terkait masa depan operasi militer di Lebanon.

        Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio menyatakan bahwa kehadiran Israel di Lebanon seharusnya berkurang apabila pemerintah dan militer Lebanon mampu mengendalikan wilayahnya sendiri serta membatasi pengaruh Hizbullah.

        Namun sikap yang disampaikan Katz menunjukkan Israel belum siap menerima skenario tersebut. Tel Aviv masih memandang ancaman dari Hezbollah sebagai alasan utama mempertahankan pasukan di Lebanon selatan.

        Dalam beberapa pekan terakhir, bentrokan antara Israel dan Hizbullah terus terjadi meskipun berbagai upaya diplomatik sedang dijalankan untuk meredakan ketegangan kawasan. Di sisi lain, Iran juga terus mendesak agar Israel menarik seluruh pasukannya dari wilayah Lebanon sebagai bagian dari syarat menuju stabilitas regional.

        Baca Juga: Prabowo Klaim Sudah Kantongi Nama-nama yang Biayai Demo di Indonesia: Mereka Saya Kasih Peringatan

        Dengan pernyataan terbaru Katz, peluang penarikan pasukan Israel dalam waktu dekat tampaknya semakin kecil. Pemerintah Israel justru menegaskan bahwa kepentingan keamanan nasional akan tetap menjadi prioritas utama, bahkan jika hal itu berseberangan dengan keinginan sekutu terdekatnya, Amerika Serikat.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Aldi Ginastiar
        Editor: Aldi Ginastiar

        Bagikan Artikel: