Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Harga LNG Naik, INDEF Dorong Pemerintah Cari Jalan Tengah untuk Industri

        Harga LNG Naik, INDEF Dorong Pemerintah Cari Jalan Tengah untuk Industri Ilustrasi: Wafiyyah Amalyris K
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Kenaikan harga liquefied natural gas (LNG) yang dirasakan sebagian pelanggan industri perlu disikapi secara objektif. Kepala Pusat Energi dan Pangan INDEF, Abra Talattov, menilai tekanan harga tersebut tidak terlepas dari dinamika pasar energi global dan penurunan pasokan gas pipa untuk industri dalam negeri.

        Abra mengatakan, kenaikan harga LNG tidak terjadi secara tiba-tiba. Perubahan harga dipengaruhi oleh kenaikan biaya perolehan LNG di sisi hulu yang mengikuti perkembangan harga energi global.

        "Kenaikan harga LNG di tingkat konsumen industri tidak terjadi dalam ruang kosong. Ada tekanan besar dari pasar energi global akibat krisis geopolitik, sehingga biaya perolehan LNG di sisi hulu juga meningkat," ujar Abra dalam keterangannya, Kamis (25/6/2026).

        Menurut Abra, persoalan pasokan gas industri semakin kompleks karena ketersediaan gas pipa terus mengalami penurunan. Ia mencatat pasokan gas pipa untuk industri turun dari sekitar 479 billion british thermal unit per day (BBTUD) pada 2024 menjadi sekitar 400 BBTUD pada 2025 dan kembali turun menjadi sekitar 327 BBTUD pada 2026.

        Penurunan tersebut, kata Abra, tidak hanya dipengaruhi oleh penurunan alamiah produksi gas, tetapi juga berkaitan dengan prioritas alokasi gas yang menempatkan sektor kelistrikan pada posisi lebih tinggi dibandingkan sejumlah kebutuhan industri.

        "Ketika pasokan gas pipa menurun, sementara kebutuhan industri tetap tinggi, maka harus ada sumber alternatif agar kegiatan produksi tidak terganggu. LNG menjadi salah satu opsi untuk menutup kekurangan pasokan tersebut," jelasnya.

        Namun, Abra menegaskan harga LNG memang memiliki struktur biaya yang berbeda dibandingkan gas pipa. LNG membutuhkan rantai pasok lebih panjang, mulai dari proses pencairan, pengangkutan, penyimpanan, regasifikasi, hingga distribusi ke pelanggan.

        "Gas pipa dan LNG tidak bisa dibandingkan secara apple to apple. LNG membutuhkan proses tambahan sehingga struktur biayanya memang lebih tinggi dibandingkan gas pipa," kata Abra.

        Meski demikian, ia mengingatkan kenaikan harga LNG tetap berpotensi menekan industri pengguna gas. Beban energi yang meningkat dapat memengaruhi biaya produksi, utilisasi pabrik, hingga daya saing industri.

        "Kita tidak boleh menutup mata bahwa kenaikan harga gas, terutama bagi industri yang menggunakan LNG atau gas non-HGBT, dapat menekan biaya produksi," ujarnya.

        Baca Juga: Ikuti Harga Minyak Dunia, Naik Turun Harga LNG Dinilai Wajar

        Baca Juga: Wujudkan Aksi Lingkungan di Luar Area Operasi, DSLNG Perkuat Ketahanan Pesisir Jakarta

        Karena itu, Abra mendorong pemerintah mengambil langkah yang menjaga keseimbangan antara kepentingan industri pengguna gas dan keberlanjutan rantai pasok gas nasional.

        Menurutnya, solusi tidak cukup hanya dengan menekan harga di sisi hilir, tetapi perlu menyentuh persoalan utama seperti ketersediaan pasokan gas pipa, kebijakan alokasi gas domestik, hingga penguatan infrastruktur gas.

        "Pemerintah harus masuk dari sisi hulu, alokasi pasokan gas, fiskal, infrastruktur, dan tata kelola HGBT," pungkas Abra.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
        Editor: Dwi Aditya Putra

        Bagikan Artikel: