Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Sinergi Kebijakan Fiskal-Moneter Dorong Penguatan Rupiah dan Rebound IHSG

        Sinergi Kebijakan Fiskal-Moneter Dorong Penguatan Rupiah dan Rebound IHSG Ilustrasi: Wafiyyah Amalyris K
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Bank Mandiri menilai penguatan nilai tukar rupiah dan kembalinya (rebound) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam beberapa pekan terakhir dipicu oleh sinergi kebijakan fiskal dan moneter yang solid, serta respons positif pasar terhadap komitmen pemerintah.

        Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro, menyatakan bahwa kehadiran aktif pemerintah dan Bank Indonesia (BI) di pasar menjadi kunci utama dalam memperbaiki sentimen investor.

        "Penguatan rupiah dan rebound IHSG dipengaruhi oleh koordinasi fiskal dan moneter yang solid, serta langkah-langkah kebijakan yang nyata di lapangan," ujar Andry dalam keterangan tertulisnya.

        Menurut Andry, perbaikan kurva imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor panjang berhasil menarik kembali minat investor asing ke pasar obligasi. Dalam dua pekan terakhir, pasar obligasi Indonesia mencatat arus modal masuk (inflow) setelah sebelumnya sempat mengalami outflow year-to-date.

        Dari sisi fiskal, pemerintah melakukan refocusing dan realokasi anggaran ke sektor produktif seperti infrastruktur transportasi, logistik, telekomunikasi, digitalisasi, dan dukungan UMKM. Langkah ini dinilai memperkuat fondasi pertumbuhan jangka panjang dan menciptakan lapangan kerja.

        Sementara itu, Bank Indonesia (BI) turut memperkuat stabilitas melalui intervensi terukur di pasar valuta asing dan mengoptimalkan mekanisme local currency transaction (LCT) untuk mengurangi ketergantungan pada dolar AS.

        Faktor eksternal seperti meredanya tensi geopolitik dan penurunan harga minyak dunia di bawah USD 80 per barel juga memberi sentimen positif. Namun, Bank Mandiri mengingatkan pasar untuk tetap waspada terhadap potensi kenaikan suku bunga The Fed yang dapat menekan mata uang emerging markets.

        Meskipun ada tekanan global, Bank Mandiri menegaskan fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat. Pertumbuhan ekonomi diproyeksikan berada di kisaran 5 persen dengan inflasi yang terkendali. Selain itu, cadangan devisa yang mencapai USD 144–145 miliar dinilai mampu menopang stabilitas nilai tukar karena cukup untuk membiayai lebih dari lima bulan impor.

        Beberapa sektor seperti transportasi, logistik, makanan dan minuman, perdagangan, serta telekomunikasi menjadi motor utama pertumbuhan. Andry menambahkan, jika reformasi struktural berjalan konsisten dan sektor strategis mendapat insentif tepat sasaran, pertumbuhan ekonomi Indonesia berpotensi meningkat hingga melebihi 5,5 persen secara berkelanjutan.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Ferry Hidayat
        Editor: Ferry Hidayat

        Bagikan Artikel: