Kredit Foto: Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI)
Badai Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) masih terus membayangi sektor ketenagakerjaan Indonesia. Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) mencatat, sepanjang periode Januari hingga Mei 2026, jumlah pekerja yang terkena PHK di seluruh Indonesia telah mencapai 23.470 orang.
Provinsi Jawa Barat menempati posisi teratas dengan jumlah korban PHK terbanyak, yakni mencapai 5.044 pekerja. Kondisi ini disusul oleh Banten di posisi kedua dengan 2.596 orang, dan Jawa Timur sebanyak 2.332 pekerja.
Berikut rincian 10 provinsi dengan angka PHK tertinggi pada awal 2026:
1. Jawa Barat: 5.044 pekerja.
2. Banten: 2.596 pekerja.
3. Jawa Timur: 2.332 pekerja.
4. Kalimantan Selatan: 1.841 pekerja.
5. Kalimantan Timur: 1.831 pekerja.
6. DKI Jakarta: 1.746 pekerja.
7. Jawa Tengah: 1.515 pekerja.
8. Sumatera Selatan: 920 pekerja.
9. Sumatera Utara: 906 pekerja.
10. Provinsi lainnya: sisa akumulasi nasional.
Imbas Lonjakan Harga Gas: Pabrik Besar di Bekasi Mulai Tutup
Tingginya angka PHK di Jawa Barat berkorelasi kuat dengan krisis operasional yang dialami sektor manufaktur. Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI), Andi Gani Nena Wea, mengungkapkan bahwa dua perusahaan besar di kawasan industri Bekasi terpaksa menghentikan operasional akibat lonjakan harga gas industri.
Salah satu perusahaan yang dipastikan berhenti beroperasi adalah PT Granito. Sementara itu, Mulia Keramik dan Mulia Glass dilaporkan berpotensi menyusul.
"Dua pabrik anggota saya terbesar di Bekasi tutup. Granito, satu lagi menyusul Mulia Keramik dan Mulia Glass, karena gas industri. Ini bahaya sekali. Manajemen Granito sudah mengumpulkan pekerja dan memastikan akan me-PHK seluruh karyawan," ujar Andi Gani saat memberikan sambutan dalam Rakernas KSPI di Jakarta Pusat.
Harga Gas Meroket, 55 Ribu Buruh Terancam PHK dalam 10 Hari
Andi Gani menjelaskan, pemicu utama krisis tersebut adalah lonjakan harga gas industri yang dinilai tidak wajar. Harga gas yang sebelumnya sekitar 6 dolar AS per MMBTU kini melonjak hingga 23 dolar AS per MMBTU.
Kenaikan biaya produksi yang hampir empat kali lipat membuat perusahaan yang bergantung pada gas industri, seperti sektor keramik, kaca, dan tekstil, kesulitan mempertahankan operasionalnya.
KSPSI memperingatkan pemerintah agar segera membenahi regulasi dan tata kelola harga gas industri. Jika tidak, gelombang PHK dalam jumlah yang lebih besar dikhawatirkan akan terjadi dalam waktu dekat.
"Dapat dipastikan minggu depan, maksimal 10 hari ke depan, 55.000 orang di-PHK. Ini menjadi kekhawatiran kita semua," tegasnya.
Terkait persoalan tersebut, pihak serikat pekerja mengaku telah menggelar pertemuan dengan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Pemerintah disebut akan segera mengambil keputusan strategis terkait kebijakan harga gas industri pada awal pekan ini.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Ferry Hidayat
Editor: Ferry Hidayat