Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Bahlil Sebut Program E20 Butuh 4 Juta KL Bioetanol

        Bahlil Sebut Program E20 Butuh 4 Juta KL Bioetanol Kredit Foto: Kementerian ESDM
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengatakan implementasi Program E20 akan membutuhkan sekitar 4 juta kiloliter (KL) etanol per tahun. Kebutuhan tersebut muncul seiring upaya pemerintah mengurangi impor bensin melalui pencampuran etanol ke dalam bahan bakar.

        Bahlil menjelaskan konsumsi bensin nasional saat ini mencapai sekitar 40 juta KL per tahun. Sementara itu, kapasitas produksi dalam negeri baru mencapai 14,3 juta KL. Setelah Kilang Balikpapan beroperasi penuh pada awal 2026, produksi bensin diperkirakan bertambah 5,5 juta KL sehingga impor masih berada di kisaran 20 juta KL.

        "Kebutuhan bensin kita itu kurang lebih sekitar 40 juta kiloliter, dan dari 40 juta kiloliter itu, kapasitas produksi kita itu hanya 14,3 juta kiloliter. Begitu Kilang Balikpapan kita resmikan pada Januari 2026, produksinya bertambah 5,5 juta kiloliter sehingga menyisakan impor bensin sekitar 20 juta kiloliter," ujar Bahlil dalam Sarasehan Kebangsaan Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI) 2026 di Jakarta, Sabtu (27/6).

        Menurut Bahlil, sisa impor tersebut akan ditekan melalui implementasi Program E20. Etanol untuk program itu akan diproduksi dari komoditas seperti tebu, singkong, dan jagung.

        "Untuk mengurangi impor yang tersisa 20 juta kiloliter maka kita akan menerapkan Program E20 yang idenya berangkat dari kesuksesan Program B10 hingga B50. Kita bikin etanol dengan bahan bakunya dari tebu, singkong dan jagung dengan total produksi yang diperlukan 4 juta kiloliter. Pemerintah akan menjadi off taker produksi etanol yang dihasilkan petani," katanya.

        Dalam kesempatan yang sama, Bahlil mengajak perguruan tinggi berkolaborasi dalam implementasi Program E20. Menurutnya, keterlibatan kalangan akademisi diperlukan untuk mendukung pengembangan teknologi sekaligus memperkuat ekosistem produksi bioetanol di dalam negeri.

        Baca Juga: Bahlil Sebut Mini LNG Plant Tuban Jadi Solusi Kurangi Impor LPG

        Baca Juga: BBM Subsidi Tak Naik Meski Harga Minyak Meledak, Bahlil Bongkar Rahasia

        "Saya mengajak pihak-pihak perguruan tinggi bersama berkolaborasi pada Program E20, negara yang akan menjadi opteker (penjamin pasar) untuk beli, karena E20 kita butuh 4 juta kiloliter. Jadi ini bisa kita bikin plasma inti dengan rakyat, ini jauh lebih jelas optekernya negara daripada kita impor dari Amerika atau Eropa," ujarnya.

        Selain Program E20, Bahlil mengatakan Kementerian ESDM juga menyiapkan program pengadaan kompor listrik pada 2027 dengan nilai anggaran sekitar Rp600 miliar. Ia mengatakan perguruan tinggi berpeluang ikut mengembangkan produk tersebut.

        "Di Kementerian ESDM tahun 2027 mendatang ada program pengadaan kompor listrik Rp600 miliar dan kampus siapa yang mau bikin langsung akan kita pesan pengadaannya di kampus itu saja,"tutup Bahlil.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
        Editor: Dwi Aditya Putra

        Bagikan Artikel: