Bareng Iran, Oman Akan Kenakan Tarif Pelayaran di Selat Hormuz usai Perang Teheran-Amerika
Kredit Foto: Istimewa
Oman dan Iran bersiap memberlakukan tarif layanan bagi kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz. Hal tersebut akan dilakukan berakhirnya konflik bersenjata antara Teheran dan Washington. Rencana tersebut berpotensi mengubah sistem pelayaran di salah satu jalur energi paling penting di dunia yang selama ini dapat dilalui tanpa biaya.
Dikutip dariĀ New York Times, Rabu (1/7) sejumlah diplomat mengungkapkan bahwa negara tersebut telah menyampaikan proposal resmi atas hal terkait kepada Amerika Serikat dan Eropa. Proposal itu sendiri mengenai mekanisme pembayaran layanan bagi kapal yang menggunakan Selat Hormuz.
Baca Juga: Iran Sindir Kemampuan Amerika Jadi Tuan Rumah Piala Dunia 2026: Fair Play Itu Bukan Sekedar Slogan
Apabila diterapkan, kebijakan tersebut akan menjadi perubahan besar dibandingkan kondisi sebelum perang dari Iran-Amerika.
Selat Hormuz sebelum konflik pecah merupakan jalur pelayaran internasional yang berada di antara Iran dan Oman. Kapal-kapal pengangkut minyak dan gas dapat melintas secara bebas tanpa dikenakan biaya.
Namun situasi berubah drastis ketika perang berlangsung. Iran sempat memblokade jalur tersebut sehingga mengganggu perdagangan global dan mendorong lonjakan harga energi dunia.
Teheran sejak saat itu berkali-kali menyampaikan keinginan agar jalur pelayaran penting tersebut dapat memberikan manfaat ekonomi melalui penerapan biaya layanan bagi kapal yang melintas.
Dalam proposal yang diajukan, perusahaan pelayaran akan membayar biaya layanan untuk mendukung pengelolaan dan keamanan jalur pelayaran tersebut.
Meski demikian, masih terdapat perbedaan pandangan mengenai mekanisme pembayaran. Seorang diplomat mengatakan biaya tersebut dirancang bersifat sukarela. Sebaliknya, Iran menegaskan pembayaran akan bersifat wajib bagi seluruh kapal yang melintas.
Persoalan Selat Hormuz kini menjadi salah satu agenda utama dalam perundingan lanjutan antara Amerika Serikat dan Iran. Ia akan menjadi kunci guna mencapai kesepakatan damai permanen.
Kesepakatan kerangka damai yang ditandatangani kedua negara bulan ini memang menjamin kapal dagang dapat melintas tanpa biaya, tetapi ketentuan tersebut hanya berlaku selama 60 hari selama proses negosiasi berlangsung.
Iran dan Oman dalam periode tersebut diminta membuka dialog untuk menentukan sistem pengelolaan Selat Hormuz setelah masa transisi berakhir.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi menyatakan prioritas pihaknya saat ini adalah mencapai kesepakatan bersama Oman. Apabila Oman tidak bersedia membentuk kerangka pengelolaan bersama, ia menyatakan siap melangkah sendiri.
Adapun Amerika Serikat masih menyampaikan keberatan terhadap rencana tersebut. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump sebelumnya bahkan menyebut gagasan mengenakan tarif atau pungutan bagi kapal yang melintasi jalur itu sebagai sesuatu yang tidak dapat diterima.
Meski demikian, tim perunding dikabarkan tetap membuka ruang dialog dengan Oman. Mereka bersedia untuk berdiskusi mencari solusi teknis atas perbedaan pandangan tersebut.
Baca Juga: Harga Bensin Masih Kemahalan, Presiden Curiga Ada Permainan di Tengah Redanya Konflik Iran-Amerika
Apabila Iran dan Oman benar-benar mewujudkan rencananya setelah masa transisi berakhir, Sjalur pelayaran tersebut akan memasuki babak baru, di mana jalur pelayaran strategis yang selama puluhan tahun bebas biaya berpotensi berubah menjadi kawasan dengan sistem tarif layanan bagi kapal internasional.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Aldi Ginastiar
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait: