Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Trump Ubah Strategi Hadapi Iran, AS Kembali Andalkan 'Senjata' Ekonomi

Trump Ubah Strategi Hadapi Iran, AS Kembali Andalkan 'Senjata' Ekonomi Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mulai mengubah strategi menghadapi Iran. Setelah sempat mengancam serangan militer besar-besaran, Trump kini memilih menggunakan tekanan ekonomi untuk menekan Teheran.

Dalam wawancara dengan Axios pada Minggu (9/8/2026), Trump mengatakan pemerintahannya mengambil pendekatan yang lebih hati-hati terhadap Iran. Ia menyebut AS akan memanfaatkan kondisi ekonomi Iran yang sedang terpuruk.

"Kami akan melakukannya secara diam-diam. Kami hanya melakukan negosiasi setengah-setengah dengan mereka. Kami hanya mengamati Iran dengan inflasi yang sangat tinggi dan kenyataan bahwa mereka tidak memiliki uang," kata Trump.

Perubahan strategi tersebut muncul setelah Iran menetapkan sejumlah syarat untuk mencabut blokade di Selat Hormuz. Jalur perairan tersebut menjadi salah satu titik penting dalam konflik karena mengangkut sekitar seperlima pengiriman minyak dunia.

Trump sebelumnya sempat mengancam akan melancarkan serangan militer besar-besaran terhadap Iran. Namun, ancaman tersebut kemudian ditarik setelah Trump menyebut terdapat perkembangan dalam pembicaraan antara Washington dan Teheran.

Kini, AS tampaknya kembali mengandalkan tekanan ekonomi untuk menghadapi Iran. Strategi tersebut menyasar kondisi ekonomi Iran yang telah tertekan akibat konflik, sanksi Amerika Serikat, serta gangguan terhadap aktivitas perdagangan.

Ekonomi Iran memang mengalami tekanan berat selama konflik dengan AS dan Israel. Kondisi tersebut semakin sulit akibat embargo ekonomi yang telah berlangsung selama puluhan tahun.

Harga berbagai kebutuhan di Iran juga mengalami kenaikan tajam. Makanan, obat-obatan, mobil, peralatan listrik, hingga produk petrokimia dilaporkan mengalami peningkatan harga dibandingkan sebelumnya.

Tekanan ekonomi tersebut diperburuk oleh sejumlah persoalan lain. Salah satunya adalah kombinasi salah urus domestik, serangan terhadap infrastruktur, sanksi AS, blokade laut, serta pemadaman internet yang disebut telah berlangsung selama enam bulan.

Mata uang Iran, rial, juga mengalami tekanan besar. Nilainya di pasar terbuka dilaporkan mencapai sekitar 1,84 juta rial per dolar AS yang menjadi salah satu level terendah sepanjang sejarah.

Meski demikian, kondisi ekonomi tersebut belum menunjukkan bahwa pemerintahan Iran akan segera runtuh. Teheran masih memiliki sejumlah cara untuk mempertahankan aktivitas ekonominya di tengah tekanan internasional.

Iran antara lain mengandalkan produksi domestik, ekspor minyak secara terselubung ke China, serta jaringan perbankan bayangan. Sistem tersebut digunakan untuk memindahkan uang, menjual minyak, dan memperoleh mata uang asing dengan menghindari sejumlah pembatasan akibat sanksi.

China menjadi salah satu tujuan utama ekspor minyak Iran. Negeri Tirai Bambu disebut menyerap sekitar 80 hingga 90 persen ekspor minyak Iran atau sekitar 1,4 juta barel per hari.

Gangguan terhadap pelayaran melalui Selat Hormuz membuat Iran juga mencari jalur alternatif untuk mempertahankan aktivitas perdagangan. Salah satu opsi yang mulai digunakan adalah jalur darat melalui Asia Tengah menuju China.

Pada Maret lalu, Iran dilaporkan mengekspor sekitar 1,84 juta barel minyak per hari kepada pelanggan di Asia. Sebagian besar ekspor tersebut ditujukan ke China.

Namun, kemampuan Iran mengirimkan minyak tetap terbatas akibat gangguan pelayaran. Sejumlah kapal memang masih dapat menghindari blokade, tetapi volumenya belum mampu menyamai kapasitas produksi minyak Iran.

Baca Juga: Trump: AS Kuasai 100 Persen Selat Hormuz, Iran Disebut Tak Lagi Berdaya

Iran kemudian meningkatkan penggunaan jalur kereta api melalui Asia Tengah sebagai alternatif perdagangan dengan China. Langkah tersebut menjadi salah satu cara Teheran mempertahankan aliran barang dan minyak ketika jalur laut menghadapi tekanan.

Kondisi itu menunjukkan bahwa tekanan ekonomi AS memang dapat memperberat situasi Iran. Namun, kemampuan Teheran memanfaatkan jalur perdagangan alternatif dan jaringan ekonomi tidak resmi membuat strategi tersebut belum tentu cukup untuk memaksa Iran menyerah.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Christian Andy
Editor: Christian Andy

Tag Terkait: