Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        AI Gagal Total, Ford Rekrut Kembali 300 Engineer yang Telah Dipecat

        AI Gagal Total, Ford Rekrut Kembali 300 Engineer yang Telah Dipecat Kredit Foto: Reuters
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Ford Motor Company merekrut kembali lebih dari 300 inspektur kualitas dan engineer senior yang sebelumnya meninggalkan perusahaan setelah sistem kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang diterapkan untuk pemeriksaan kualitas kendaraan tidak mampu menyamai pengalaman teknis mereka.

        Langkah tersebut diambil ketika Ford memperluas penggunaan AI di sistem industrinya, termasuk melalui ratusan kamera berbasis AI di pabrik untuk mendeteksi cacat produksi dan mengurangi gangguan rantai pasok. Namun, teknologi tersebut dinilai belum cukup akurat menghasilkan standar kualitas kendaraan tanpa dukungan tenaga ahli berpengalaman.

        Wakil Presiden Teknik Perangkat Keras Kendaraan Ford Charles Poon mengatakan perusahaan sebelumnya terlalu mengandalkan kemampuan AI dengan memasukkan persyaratan desain kendaraan ke dalam sistem.

        “Artificial intelligence adalah alat yang luar biasa, tetapi hanya sebaik informasi yang Anda gunakan untuk melatihnya,” kata Poon kepada wartawan, dikutip Bloomberg, Jakarta, Kamis (2/7/2026). 

        Ia mengakui Ford sebelumnya tidak memberikan perhatian yang memadai terhadap pengalaman engineer senior yang telah melewati berbagai siklus pengembangan produk kendaraan.

        “Dalam beberapa tahun terakhir, kami tidak memberikan perhatian sebesar yang seharusnya terhadap pengalaman engineer paling berpengetahuan yang telah bersama kami melalui banyak siklus produk,” ujarnya.

        Ford mengadopsi AI di sejumlah lini operasi ketika industri otomotif global mendorong otomatisasi untuk menekan biaya dan meningkatkan produktivitas. Perusahaan sebelumnya menempatkan AI sebagai salah satu instrumen untuk memperbaiki margin usaha di tengah tekanan biaya produksi, transisi kendaraan listrik, dan persaingan teknologi.

        CEO Ford Jim Farley pada Juni tahun lalu bahkan menyatakan AI berpotensi menggantikan sebagian pekerjaan pekerja kerah putih. Sementara itu, Chief Operating Officer Ford Kumar Galhotra pada paparan kinerja Oktober mengatakan perusahaan telah menerapkan AI di seluruh sistem industri.

        Salah satu implementasinya ialah pemasangan sekitar 900 kamera berbasis AI di fasilitas produksi Ford. Kamera tersebut digunakan untuk mendeteksi masalah kualitas sejak awal proses produksi dan membantu perusahaan mengurangi risiko gangguan pasokan komponen.

        Namun, Poon mengatakan sistem pemeriksaan berbasis AI tersebut tidak menghasilkan kualitas produk sesuai ekspektasi perusahaan.

        “Secara keliru, kami berpikir bahwa hanya dengan memperkenalkan AI dan memasukkan persyaratan desain yang kami miliki, hal itu akan menghasilkan produk berkualitas tinggi,” kata Poon.

        Menurut dia, perangkat otomatis tidak memiliki pengalaman lapangan dan kemampuan analisis yang dimiliki teknisi senior. Sejumlah tenaga ahli berpengalaman sebelumnya telah meninggalkan Ford sebelum pengetahuan mereka sempat digunakan untuk melatih sistem AI perusahaan.

        Ford kemudian merekrut kembali para engineer dan inspektur kualitas senior tersebut untuk memperbaiki pelatihan sistem otomatisasi, pembelajaran mesin, dan AI. Mereka juga ditugaskan membimbing pekerja muda di lini teknik dan manufaktur.

        “Kami menyadari bahwa untuk meningkatkan sejumlah alat otomatisasi, pembelajaran mesin, dan AI, kami perlu memastikan alat tersebut dilatih oleh individu yang paling berpengalaman,” ujar Poon.

        Baca Juga: Microsoft: Indonesia Jadi Salah Satu Pengguna AI Paling Maju di Dunia Kerja

        Baca Juga: ITSEC Asia Perluas Bisnis ke AI dan Perangkat Lunak, Bidik Pendapatan Berulang

        Pengakuan Ford atas keterbatasan AI muncul ketika perusahaan mencatat perbaikan kualitas kendaraan. Ford kembali menempati posisi teratas produsen otomotif massal di Amerika Serikat dalam studi kualitas awal kendaraan JD Power, posisi yang terakhir kali diraih perusahaan pada 2010.

        Dalam keterangan resminya, Ford menyebut peningkatan kualitas tersebut membutuhkan pembaruan besar pada talenta perusahaan. Ford mengganti sejumlah pemimpin senior di bidang teknik, rantai pasok, dan manufaktur, serta merekrut sekitar 300 engineer veteran yang memiliki pengalaman desain kendaraan selama puluhan tahun.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Annisa Nurfitri
        Editor: Annisa Nurfitri

        Bagikan Artikel: