Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Tak Menghasilkan Pendapatan, Saham COAL Sudah Terpangkas 75% Sejak Awal Tahun

        Tak Menghasilkan Pendapatan, Saham COAL Sudah Terpangkas 75% Sejak Awal Tahun Kredit Foto: Antara/Muhammad Adimaja
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        PT Black Diamond Resources Tbk (COAL) tidak menghasilkan pendapatan pada kuartal I/2026, berbalik dari penjualan batu bara Rp126,52 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Ketiadaan pendapatan membuat emiten batu bara tersebut mencatatkan rugi bersih Rp8,29 miliar, sementara pada kuartal I/2025 masih membukukan laba bersih Rp5,39 miliar.

        Laporan keuangan per 31 Maret 2026 menunjukkan COAL tidak mencatatkan penjualan batu bara sepanjang Januari–Maret 2026. Pada periode yang sama tahun sebelumnya, pendapatan perseroan berasal dari penjualan kepada Hineni Resources Pte Ltd sebesar Rp57,71 miliar dan Sentosa Laju Energy senilai Rp68,81 miliar.

        Meski tidak mencatatkan penjualan dan beban pokok penjualan, COAL masih menanggung beban umum dan administrasi Rp4,84 miliar. Perseroan juga membukukan beban keuangan Rp2,87 miliar serta rugi selisih kurs Rp595,30 juta.

        Kondisi tersebut menyebabkan rugi sebelum pajak mencapai Rp8,29 miliar. Rugi bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat Rp8,23 miliar atau rugi per saham Rp1,32. Pada kuartal I/2025, COAL masih mencetak laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp5,35 miliar atau laba per saham Rp0,86.

        Tekanan likuiditas juga terlihat dari kas dan bank yang turun menjadi Rp233,03 juta per 31 Maret 2026, dari Rp14,29 miliar pada akhir 2025. Selama kuartal I/2026, perseroan mencatat arus kas operasi negatif Rp13,79 miliar, terutama akibat pembayaran kepada pemasok Rp12,29 miliar dan pembayaran beban keuangan Rp2,87 miliar.

        Di sisi neraca, persediaan COAL meningkat menjadi Rp264,99 miliar dari Rp222,34 miliar pada akhir 2025. Perseroan juga mencatat piutang usaha pihak ketiga Rp36,99 miliar dan uang muka penjualan Rp92,87 miliar.

        Total liabilitas COAL meningkat menjadi Rp466,94 miliar per akhir Maret 2026, dibandingkan Rp436,87 miliar pada akhir 2025. Liabilitas tersebut mencakup utang bank jangka pendek Rp195 miliar, utang usaha pihak ketiga Rp101,86 miliar, utang pajak Rp55,64 miliar, serta uang muka penjualan Rp92,87 miliar.

        Sementara itu, total ekuitas perseroan turun menjadi Rp357,86 miliar dari Rp366,16 miliar pada akhir 2025, sejalan dengan rugi yang dibukukan pada kuartal pertama tahun ini.

        Di tengah kinerja tersebut, masyarakat nonwarkat menguasai 4,99 miliar saham COAL atau 79,32% dari total saham perseroan. Pemegang saham di atas 5% terdiri atas Sujaka Lays dengan 542,79 juta saham atau 8,68% dan Komisaris COAL Arie Rinaldi dengan 375 juta saham atau 6%.

        Baca Juga: Laba Bersih MDKA Melonjak 4.523% pada Kuartal I 2026, Ditopang Emas dan Nikel

        Baca Juga: Bakrie Dapat Proyek Batu Bara Rp22 Triliun Lewat Darma Henwa (DEWA)

        Harga saham COAL berada di Rp22 per saham pada perdagangan 29 Juni 2026 atau turun 75,28% sejak awal tahun. Kapitalisasi pasar perseroan tercatat sekitar Rp137,50 miliar.

        COAL menjalankan usaha melalui anak usaha PT Dayak Membangun Pratama yang memiliki izin usaha pertambangan operasi produksi seluas 4.883 hektare di Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah. Izin tersebut berlaku hingga 28 November 2031. Perseroan mencatat cadangan batu bara sebesar 25 juta ton, terdiri atas 9 juta ton cadangan terbukti dan 16 juta ton cadangan terkira.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Annisa Nurfitri
        Editor: Annisa Nurfitri

        Bagikan Artikel: