'Otak Saya Dicuci', Relawan Prabowo Beber Alasan Dulu Benci Jokowi tapi Kini Jatuh Hati
Kredit Foto: Istimewa
Perjalanan politik seseorang terkadang berubah seiring waktu. Hal itulah yang diakui Syafrudin Budiman atau Gus Din, relawan Prabowo-Gibran, yang mengungkap pernah menjadi salah satu sosok yang sangat membenci mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada masa Pemilu 2014.
Ia menceritakan bagaimana pandangannya terhadap Jokowi berubah total, dari dipenuhi prasangka hingga akhirnya mengaku menaruh simpati kepada mantan orang nomor satu di Indonesia itu.
Menurut Gus Din, kebencian itu muncul ketika dirinya aktif sebagai relawan pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa pada Pemilu 2014.
Saat itu, ia mengaku ikut mempercayai berbagai tudingan yang dialamatkan kepada Jokowi, mulai dari isu komunisme hingga dianggap tidak berpihak kepada umat Islam.
"Saya sebelumnya sempat terdogma juga tercuci otak bahwa dia anti Islam lah" ungkap Gus Din dikutip dari tayangan YouTube Cumicumi.
Baca Juga: Jokowi Drama! PDIP: Dia Melakukan Semua Cara untuk Memelihara Dinastinya
Namun, pandangan tersebut mulai berubah setelah dirinya mendengarkan sebuah ceramah yang ditayangkan di salah satu stasiun televisi Islam. Dalam dakwah itu, ia mengaku mendapat pemahaman bahwa mengkritik pemimpin memiliki adab dan tata cara yang sesuai ajaran Islam.
"Selama pemimpin negeri itu memperbolehkan masih salat tidak dilarang. Saya kan aktivis muslim. Bahwa itu pemimpin itu tidak boleh dikritik dan dihajar," ucap dia.
"Kalau kritik harus dengan sopan di situ saya eh enggak boleh ternyata. Hm baru tahu oposisi itu ada caranya kalau dalam Islam" lanjut dia.
Meski demikian, momen yang benar-benar mengubah sikapnya terjadi saat Jokowi menghadiri rangkaian aksi 212 di kawasan Monas. Menurut Gus Din, kehadiran Jokowi dalam acara tersebut membuat seluruh prasangka buruk yang selama ini diyakininya runtuh.
Ia mengaku mulai melihat sosok Jokowi dari sudut pandang yang berbeda. Baginya, mantan Presiden itu justru menunjukkan sikap religius sekaligus nasionalis yang selama ini tidak ia sadari.
Baca Juga: Wow! Survei Ungkap 74,2% Masyarakat Percaya pada Pemerintahan Prabowo
"Jokowi masih salat bersama, takbiran bersama datang di puncaknya ketika 212 malah Pak Jokowi nggak takut datang kan ketemu di Monas itu. Di situ saya semakin simpati, ternyata tidak seperti yang dituduhkan Pak Jokowi itu agamis, nasionalis, tradisionalis, dan juga abangan. Makanya figur beliau dicintai rakyat dan saya termasuk yang sadar diri bahwa oh tidak seperti yang dituduhkan" tutur dia.
Kini, Gus Din mengaku menyadari bahwa fanatisme politik yang pernah dimilikinya membuat dirinya mudah mempercayai berbagai tuduhan tanpa melihat fakta secara utuh.
Pengalaman itu, menurutnya, menjadi pelajaran bahwa perbedaan pilihan politik tidak seharusnya membuat seseorang kehilangan objektivitas dalam menilai sosok pemimpin.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Belinda Safitri
Editor: Belinda Safitri
Tag Terkait: