Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Daripada Beras Bulog Turun Mutu, CORE Sarankan Anggaran Dialihkan ke Irigasi Modern

        Daripada Beras Bulog Turun Mutu, CORE Sarankan Anggaran Dialihkan ke Irigasi Modern Kredit Foto: Antara/Muhammad Bagus Khoirunas
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Fenomena merebaknya hama di kawasan pemukiman warga yang berdekatan dengan gudang Perum Bulog di Karawang, Jawa Barat, diduga lantaran menumpuknya stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang lama. Isu penumpukan CBP ini bahkan sempat disinggung oleh Ketua Komisi IV DPR RI, Titiek Soeharto, perihal penyaluran beras yang harus disegerakan secara efektif.

        Peneliti Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Eliza Mardian, menilai menumpuknya CBP lebih dari satu tahun tersebut sebaiknya tidak digunakan sebagai pakan ternak. Pasalnya, pemerintah bakal mengalami kerugian dikarenakan harga lelang pakan ternak jauh di bawah pengadaan.

        “Jika 1–1,5 juta ton beras Bulog akhirnya turun mutu signifikan dan dilelang sebagai pakan ternak yang mana ini harganya jauh di bawah biaya pengadaan ditambah holding, kerugiannya bisa mencapai puluhan triliun rupiah dalam satu siklus saja,” kata Eliza kepada Warta Ekonomi, Selasa (07/6/2026).

        Untuk diketahui, Pemerintah menyiapkan tambahan dana Operator Investasi Pemerintah (OIP) sebesar Rp 39,1 triliun untuk mendukung penyerapan beras Perum Bulog pada 2026. Menurut Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, nilai tambahan dana OIP yang dibahas mencapai Rp 39,1 triliun dengan skema pembiayaan berbunga rendah, yakni sebesar 2 persen.

        Lebih lanjut, Eliza menambahkan, dana penyerapan beras yang terlampau besar tersebut, apabila akhirnya CBP hanya untuk lelang pakan ternak, justru mengeluarkan opportunity cost yang sangat tinggi.

        “Dana sebesar itu bisa dialokasikan untuk irigasi modern, riset benih tahan iklim, infrastruktur logistik, atau program pemberdayaan masyarakat yang lebih tepat sasaran,” katanya.

        Di sisi lain, Eliza memandang CBP di gudang Perum Bulog diduga dipicu tidak optimalnya penerapan sistem First In, First Out (FIFO) dalam pengelolaan persediaan. Kondisi tersebut dinilai berisiko mengganggu rotasi stok, terlebih setelah muncul sorotan mengenai kualitas beras yang disinyalir mulai mengalami perubahan warna akibat terlalu lama tersimpan di gudang.

        Dia melanjutkan indikasi kegagalan sistem FIFO sangat mungkin terjadi apabila melihat kondisi manajemen persediaan Bulog di sejumlah divisi regional (Divre) yang selama ini mengalami penumpukan stok.

        “Kegagalan FIFO ini sangat mungkin terjadi. Kalau berkaca ke manajemen persediaan Bulog di berbagai divre seperti Makassar, Surakarta, dan lainnya itu secara konsisten ada penumpukan stok karena uncertain offtake,” terang Eliza.

        Diketahui sebelumnya, Titiek Soeharto dalam rapat dengar pendapat bersama Kementerian Pertanian pada 10 Juni 2026, menyebutkan sekitar 1,3 juta ton dari total 5 juta ton stok beras yang dikelola Bulog telah berusia lebih dari satu tahun.

        Untuk itu, Titiek bahkan mengatakan, sebaiknya stok CBP yang berusia lebih dari satu tahun, atau sudah berwarna putih tua, digunakan menjadi pakan ternak saja dibandingkan menjadi bantuan pangan karena tak layak konsumsi.

        Sebelumnya, Direktur Operasi Perum Bulog, Andi Afdal, menggelar forum dialog terbuka bersama perangkat desa dan warga pemukiman terdekat. Pertemuan ini difungsikan untuk mematangkan skema penanganan gangguan hama di lingkungan agar berjalan optimal dan kolaboratif.

        Baca Juga: Bulog Komitmen Percepat Penanganan Gangguan Hama di Gudang Karawang

        Baca Juga: Bulog Cabut Izin PT KMR Usai Temuan MinyaKita Berbau Solar

        “Kami mengapresiasi perhatian dan masukan dari masyarakat. Bulog berkomitmen memberikan respons cepat terhadap setiap permasalahan yang muncul di lapangan. Kehadiran kami di Karawang adalah untuk memastikan langkah penanganan berjalan dengan baik, sekaligus memperkuat koordinasi dengan seluruh pihak agar kondisi ini dapat segera ditangani secara optimal,” jelas Afdal dalam keterangan persnya, Selasa (7/7/2026).

        Sekedar infiormasi, warga di sekitar kawasan Gudang Genesis Tunggakjati, Karawang, mengeluhkan serangan hama kutu beras yang diduga berasal dari kompleks pergudangan.

        Dikutip dari akun Instagram @karawangrayamedia, hama jenis tribolium tersebut dilaporkan mulai keluar dari area perimeter luar gudang dan mengganggu kenyamanan warga, terutama di kawasan pemukiman yang berdekatan dengan komplek tersebut.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Muhammad Farhan Shatry
        Editor: Dwi Aditya Putra

        Bagikan Artikel: