Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Meningkatkan Nilai Ekonomi Biru Masyarakat Pesisir Lewat Energi Bersih

        Meningkatkan Nilai Ekonomi Biru Masyarakat Pesisir Lewat Energi Bersih Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Masyarakat pesisir dinilai memiliki peran strategis sebagai penggerak utama ekonomi biru Indonesia. Namun, besarnya potensi sektor perikanan, akuakultur, dan industri berbasis kelautan belum sepenuhnya berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat akibat berbagai kendala infrastruktur, energi, dan akses pasar.

        Berdasarkan data Kementerian Kelautan dan Perikanan, nilai ekspor perikanan Indonesia pada 2025 mencapai rekor tertinggi sebesar US$6,27 miliar. Indonesia juga memiliki cadangan karbon mangrove terbesar di dunia dengan sekitar 3,1 miliar ton karbon yang tersimpan di ekosistem pesisir.

        Meski demikian, keterbatasan fasilitas rantai dingin (cold storage), kapasitas pengolahan, infrastruktur logistik, serta akses pasar membuat sebagian besar nilai tambah ekonomi belum dinikmati masyarakat di daerah penghasil.

        Untuk menjawab tantangan tersebut, Global Energy Alliance for People and Planet (GEA Indonesia) bekerja sama dengan Konservasi Indonesia serta sejumlah mitra, termasuk International Pole and Line Foundation (IPNLF) dan GIZ, mengembangkan pendekatan terpadu bagi masyarakat pesisir di Maluku. Program ini bertujuan mengidentifikasi kebutuhan lokal sekaligus memperkuat mata pencaharian masyarakat, meningkatkan ketahanan ekonomi, dan menjaga kelestarian ekosistem laut.

        Indonesia Country Lead GEA Indonesia Rizky Fauzianto menilai masyarakat pesisir sebenarnya telah memiliki sumber daya, pengetahuan, dan potensi ekonomi yang memadai untuk berkembang. Menurutnya, tantangan utama terletak pada bagaimana investasi di bidang energi bersih, infrastruktur, akses pasar, dan pengelolaan ekosistem dapat diintegrasikan sehingga mampu menghasilkan nilai ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat.

        Di banyak desa nelayan, hasil tangkapan yang melimpah kerap harus segera dijual dengan harga rendah karena terbatasnya akses terhadap es, fasilitas penyimpanan dingin, dan transportasi yang memadai. Di sejumlah wilayah, kehilangan hasil pascapanen bahkan diperkirakan mencapai 30-50 persen.

        Permasalahan serupa juga terjadi pada komoditas rumput laut. Dari total produksi rumput laut Indonesia yang mencapai 10,8 juta ton pada 2024, sebagian besar masih diekspor dalam bentuk bahan baku kering, sehingga peluang menciptakan nilai tambah melalui industri pengolahan di dalam negeri belum dimanfaatkan secara optimal.

        Ketersediaan energi yang andal dinilai menjadi salah satu faktor penting untuk mengatasi persoalan tersebut. Di banyak pulau terpencil, khususnya di Indonesia Timur, masyarakat masih bergantung pada generator diesel dengan pasokan bahan bakar yang harus didatangkan melalui jalur laut, sehingga biaya listrik relatif tinggi dan rentan terhadap gangguan distribusi.

        Penerapan solusi energi bersih yang disesuaikan dengan kebutuhan lokal diyakini dapat mendukung operasional produksi es, fasilitas penyimpanan dingin, pengolahan hasil perikanan, sistem refrigerasi, konektivitas digital, layanan kesehatan, hingga pengembangan usaha kecil. Dengan dukungan energi yang lebih andal, produk perikanan dapat disimpan lebih lama dan dipasarkan ke segmen dengan nilai jual lebih tinggi.

        Upaya tersebut diwujudkan melalui pendekatan bertajuk "Sun to Sea", yang mengintegrasikan pemanfaatan energi bersih dengan penguatan mata pencaharian masyarakat dan pengelolaan ekosistem pesisir. Model ini diharapkan mampu mengurangi kehilangan hasil pascapanen, meningkatkan efisiensi rantai pasok, sekaligus mendukung keberlanjutan sumber daya perikanan.

        Selain infrastruktur energi, keberlanjutan ekosistem pesisir juga menjadi faktor penting dalam pengembangan ekonomi biru. Hutan mangrove, padang lamun, dan terumbu karang berperan menjaga produktivitas perikanan, melindungi kawasan pesisir dari abrasi dan cuaca ekstrem, serta menopang aktivitas ekonomi masyarakat. Peningkatan pendapatan masyarakat diharapkan dapat memperkuat kapasitas mereka dalam menjaga sumber daya alam yang menjadi fondasi perekonomian pesisir.

        "Peluang terbesar yang kita miliki adalah menghubungkan berbagai investasi tersebut di tingkat komunitas," tambah Rizky Fauzianto.

        Inisiatif tersebut sejalan dengan berbagai program prioritas pemerintah, antara lain Kampung Nelayan Merah Putih yang menargetkan pembangunan 5.000 kampung nelayan melalui penguatan infrastruktur dan ekonomi masyarakat, serta program 100GW Village Solarisation yang bertujuan memperluas akses energi surya dan mengurangi ketergantungan terhadap pembangkit listrik berbahan bakar diesel.

        Baca Juga: Pertamina Luncurkan Kapal Pintar Pembersih Sampah Laut Berbasis AI

        Sebagai tahap awal, para mitra akan mendampingi sejumlah komunitas percontohan untuk menguji model pembangunan yang dipimpin masyarakat lokal. Dukungan melalui pendanaan filantropi dan catalytic grants diharapkan mampu menghasilkan pembelajaran awal, menekan risiko implementasi, serta memperkuat kapasitas masyarakat. Setelah terbukti efektif, model tersebut diharapkan dapat direplikasi secara lebih luas dengan dukungan pemerintah, lembaga pembiayaan pembangunan, pelaku usaha, dan investor.

        Melalui integrasi antara energi bersih, peningkatan nilai tambah ekonomi, dan pelestarian ekosistem, Indonesia dinilai memiliki peluang untuk memastikan manfaat ekonomi biru dapat dirasakan lebih merata oleh masyarakat pesisir yang selama ini menjadi penggerak utama sektor kelautan nasional.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Amry Nur Hidayat
        Editor: Amry Nur Hidayat

        Bagikan Artikel: