Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Rupiah Dekati Rp18.000 per Dolar AS, BI Soroti Sinyal Hawkish The Fed

        Rupiah Dekati Rp18.000 per Dolar AS, BI Soroti Sinyal Hawkish The Fed Kredit Foto: Cita Auliana
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (8/7/2026). Berdasarkan data Bloomberg, rupiah spot berada di level Rp17.993 per dolar AS, melemah 13 poin atau 0,07 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di Rp17.980 per dolar AS.

        Bank Indonesia (BI) menilai tekanan terhadap rupiah dipicu oleh menguatnya dolar AS setelah hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC) Federal Reserve (The Fed) pada 17 Juni 2026.

        Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, mengatakan meskipun The Fed mempertahankan suku bunga acuannya di kisaran 3,5-3,75 persen, pelaku pasar lebih menyoroti pernyataan sejumlah pejabat bank sentral AS yang mengindikasikan kebijakan moneter akan tetap ketat atau hawkish.

        Menurut Denny, sinyal tersebut mendorong penguatan indeks dolar AS (DXY). Dari posisi sekitar 95 pada Januari 2026, DXY naik hingga menyentuh level 101 pada akhir Juni, yang menjadi level tertinggi dalam satu tahun terakhir.

        "Kombinasi adalah sinyal hawkish pejabat The Fed dan juga diikut dengan naiknya DXY pada level tertinggi dalam satu tahun terakhir inilah yang membuat nilai tukar sejumlah negara itu melemah terhadap USD," kata Denny kepada wartawan di Kompleks Parlemen RI, Jakarta, Selasa (7/7/2026).

        Denny menjelaskan, berdasarkan data Bloomberg selama periode 17 Juni hingga 6 Juli 2026, rubel Rusia menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam terhadap dolar AS, yakni sebesar 5,5 persen. Selanjutnya peso Chile melemah sekitar 4 persen, baht Thailand 2,3 persen, sementara rupiah terkoreksi sekitar 1,4 persen.

        Selain itu, mata uang negara berkembang lainnya seperti won Korea Selatan, peso Filipina, rupee India, hingga yuan China juga tercatat mengalami depresiasi terhadap mata uang Negeri Paman Sam.

        Meski demikian, BI menilai pelemahan rupiah masih relatif lebih baik dibandingkan sejumlah mata uang negara berkembang lainnya.

        Untuk menjaga stabilitas nilai tukar, Denny menegaskan BI akan terus melakukan intervensi di berbagai instrumen pasar, baik di pasar domestik maupun internasional. Upaya tersebut dilakukan melalui intervensi di pasar spot, Domestic Non Deliverable Forward (DNDF), Non Deliverable Forward (NDF), serta memperkuat komunikasi dengan pelaku pasar.

        "Bank Indonesia tidak akan tinggal diam. Bank Indonesia seperti biasa akan all out untuk bagaimana menjaga rupiah itu tetap stabil dengan kecenderungan menguat," jelasnya.

        Baca Juga: OJK Beri Lampu Hijau Model Bisnis Stablecoin Rupiah

        Baca Juga: Rupiah Menguat Tipis ke Rp17.991 per Dolar AS, Dibayangi Defisit Perdagangan dan Risiko Geopolitik

        Denny juga menanggapi pernyataan Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo yang sebelumnya memperkirakan rupiah akan menguat pada Juli. Menurutnya, pergerakan nilai tukar sangat dinamis dan sangat dipengaruhi perkembangan ekonomi global, terutama perubahan ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan suku bunga The Fed.

        "Satu bulan, dua bulan, tiga bulan bahkan perkembangannya tidak statis, perkembangannya dinamis," ucapnya.

        Ke depan, BI berharap tekanan terhadap rupiah akan mulai mereda seiring stabilisasi pasar keuangan global. Bank sentral memastikan akan terus hadir di pasar untuk menjaga kepercayaan pelaku pasar terhadap rupiah.

        "Bank Indonesia all out akan terus berada di pasar untuk memberikan jaminan bahwa rupiah itu tetap akan stabil dan secara perlahan kita akan menguat, rupiah itu menguat," pungkasnya.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Cita Auliana
        Editor: Dwi Aditya Putra

        Bagikan Artikel: