Rupiah Menguat Tipis ke Rp17.991 per Dolar AS, Dibayangi Defisit Perdagangan dan Risiko Geopolitik
Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka menguat tipis pada perdagangan Selasa (7/7/2026). Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 09.06 WIB, rupiah berada di level Rp17.991 per dolar AS.
Posisi tersebut menunjukkan rupiah menguat 4 poin atau 0,02 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp17.995 per dolar AS.
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan pergerakan rupiah pada perdagangan hari ini berada di kisaran Rp17.990 hingga Rp18.050 per dolar AS.
"Sedangkan untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp.17.990- Rp.18.050," kata Ibrahim kepada wartawan dalam keterangannya, Jakarta, Senin (6/7/2026).
Menurut Ibrahim, sentimen eksternal masih menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan rupiah. Salah satunya adalah memanasnya tensi geopolitik setelah Rusia kembali melancarkan serangan rudal dan drone ke ibu kota Ukraina, Kyiv, menjelang pelaksanaan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) NATO di Turki yang dijadwalkan dihadiri Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Selain itu, pasar juga masih mencermati perkembangan di Selat Hormuz. Meskipun pasokan minyak dunia mulai pulih, ketidakpastian terkait keamanan dan tata kelola jalur pelayaran strategis tersebut masih tinggi akibat perbedaan pandangan antara Washington dan Teheran.
Pelaku pasar juga menantikan risalah rapat The Fed bulan Juni yang akan dirilis pekan ini untuk mencari petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga selanjutnya.
Baca Juga: Rupiah Ambles ke Rp17.995 per USD, Tertekan Laporan Fitch Ratings dan Defisit Dagang
Baca Juga: Rupiah Menguat ke Level Rp17.963 Meksi Setoran Pajak Korporasi Melambat
Dari dalam negeri, pasar merespons negatif laporan terbaru Fitch Ratings yang menyoroti rapuhnya kondisi ekonomi makro Indonesia, mulai dari pelemahan rupiah, penurunan cadangan devisa, hingga derasnya arus modal keluar.
Fitch juga menilai kepercayaan investor terhadap tata kelola ekonomi Indonesia terus melemah. Pada Maret 2026, Fitch mempertahankan peringkat utang Indonesia di level BBB, tetapi merevisi prospeknya menjadi negatif.
Sentimen domestik lainnya datang dari neraca perdagangan Indonesia yang kembali mencatat defisit. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit sebesar US$1,61 miliar pada Mei 2026, mengakhiri tren surplus yang telah berlangsung selama 72 bulan berturut-turut.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Cita Auliana
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: