AS Balas Iran Serang Selat Hormuz, Ledakan Mengguncang Qeshm hingga Bandar Abbas
Kredit Foto: Istimewa
Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan balasan di wilayah Selat Hormuz setelah Iran diduga menyerang sejumlah kapal komersial yang melintasi jalur pelayaran strategis tersebut. Washington menyebut operasi militer itu sebagai respons langsung atas aksi Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) yang dinilai melanggar kesepakatan gencatan senjata.
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menegaskan serangan tersebut ditujukan untuk memberikan konsekuensi atas tindakan Iran yang menyerang kapal-kapal komersial di Selat Hormuz.
"Serangan AS ini merupakan tanggapan atas serangan Iran terhadap tiga kapal komersial yang sedang melintasi Selat Hormuz dan bertujuan untuk memberikan konsekuensi berat atas tindakan menargetkan dan menyerang pelayaran komersial," bunyi pernyataan Komando Pusat AS, dikutip AFP, Rabu (8/7/2026).
Militer AS juga menilai aksi Iran tidak dapat dibenarkan karena terjadi saat kedua negara masih berada dalam masa gencatan senjata.
"Agresi yang ditunjukkan Iran tersebut tidak dapat dibenarkan, berbahaya, dan merupakan pelanggaran nyata terhadap gencatan senjata," lanjut pernyataan tersebut.
Serangan balasan Amerika terjadi pada Selasa (7/7) malam waktu setempat. Tak lama setelah pengumuman tersebut, media pemerintah Iran melaporkan serangkaian ledakan mengguncang sejumlah wilayah di sekitar Selat Hormuz.
Kantor berita IRIB menyebut enam ledakan terdengar di Pulau Qeshm, tujuh ledakan lainnya mengguncang Kota Sirik, sementara ledakan tambahan juga dilaporkan terjadi di Bandar Abbas, pelabuhan utama Iran yang berada di kawasan Teluk Persia.
Ketegangan terbaru ini terjadi ketika Washington dan Teheran sejatinya masih menjalani masa gencatan senjata setelah sebelumnya sepakat mengakhiri konflik bersenjata. Meski demikian, proses negosiasi kedua negara hingga kini belum menghasilkan kesepakatan akhir.
Sebelumnya, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dilaporkan menembakkan sedikitnya dua rudal ke arah kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz pada Senin (6/7) malam.
Laporan Reuters yang mengutip Axios menyebut dua kapal komersial mengalami kerusakan parah akibat serangan tersebut. Hingga kini belum ada laporan mengenai korban jiwa, sementara pemerintah Iran belum memberikan pernyataan resmi terkait tuduhan tersebut.
Salah satu kapal yang disebut menjadi sasaran adalah Al Rekayyat, kapal tanker gas alam cair (LNG) milik Nakilat, perusahaan transportasi gas asal Qatar. Berdasarkan laporan Wall Street Journal (WSJ), kapal itu terkena hantaman di sisi lambung kiri tepat di atas ruang mesin.
"Kebakaran di ruang mesin dan penuh asap. Tidak dapat menilai kerusakan lebih lanjut. Seluruh awak kapal selamat dan berkumpul di sisi lambung kanan," demikian laporan WSJ.
Di sisi lain, Badan Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) juga melaporkan sebuah kapal tanker mengalami kebakaran setelah dihantam proyektil tak dikenal di perairan sebelah timur Limah, Oman, pada Selasa (7/7) waktu setempat.
Baca Juga: Iran Balas Serangan Amerika, Tak Sudi Diintervensi Soal Kendali Selat Hormuz
Menurut UKMTO, proyektil tersebut menghantam sisi kiri kapal saat berlayar ke arah selatan sehingga memicu kebakaran. Meski demikian, tidak ada laporan korban jiwa maupun pencemaran lingkungan akibat insiden tersebut.
Rangkaian serangan ini kembali meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan pelayaran internasional di Selat Hormuz, jalur vital yang menjadi lintasan sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Christian Andy
Editor: Christian Andy
Tag Terkait: