Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Soroti Program Kedaulatan Pangan Nasional, Amien Rais Beri Warning Keras untuk Zulkifli Hasan

        Soroti Program Kedaulatan Pangan Nasional, Amien Rais Beri Warning Keras untuk Zulkifli Hasan Kredit Foto: Instagram/Amien Rais
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Ketua Dewan Pembina Partai Ummat Amien Rais menyampaikan pandangannya terkait kondisi ekonomi dan pembangunan nasional, mulai dari nilai tukar rupiah hingga proyek cetak sawah di Papua.

        Melalui unggahan video di kanal YouTube pribadinya, mantan Ketua MPR RI itu menyoroti pelemahan rupiah yang disebut telah mencapai Rp18.000 per dolar AS serta memberikan kritik terhadap pelaksanaan proyek ketahanan pangan di Papua.

        Amien juga menyampaikan pesan kepada Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan (Zulhas), yang mendapat tugas dari Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuat kedaulatan pangan nasional.

        Amien menilai pelemahan nilai tukar rupiah berpotensi meningkatkan beban biaya impor berbagai komoditas pangan yang masih didatangkan dari luar negeri.

        "Setiap komoditas yang kita impor dari luar negeri harus kita bayar dengan dolar. Jadi mudah dimengerti belanja negara untuk memenuhi kebutuhan gandum, kedelai, gula, garam, hingga daging membuat ekonomi Indonesia megap-megap," ujar Amien Rais.

        Menurutnya, kondisi tersebut menjadi pengingat pentingnya mewujudkan kemandirian pangan dan energi sebagaimana menjadi salah satu agenda pemerintahan Prabowo Subianto.

        Selain menyoroti kondisi ekonomi, Amien juga mengkritisi proyek cetak sawah yang tengah dikembangkan di Merauke dan sejumlah wilayah di Papua. Ia menilai pelaksanaan proyek tersebut perlu melibatkan masyarakat adat secara lebih aktif.

        Menurut Amien, pemerintah sebaiknya memastikan adanya dialog dan musyawarah dengan para tokoh serta kepala suku sebelum proyek berskala besar dijalankan.

        "Pesan moral dari film "Pesta Babi" salah satunya adalah kesan kuat bahwa cetak sawah seluas puluhan atau ratusan ribu hektar merupakan aksi sepihak dari pemerintah pusat. Apalagi ribuan prajurit TNI menanam patok sawah di tanah Papua tanpa bermusyawarah dulu dengan tokoh-tokoh setempat," katanya.

        Amien juga mengingatkan agar pelaksanaan proyek strategis nasional tetap memperhatikan aspirasi masyarakat setempat guna menghindari munculnya konflik sosial.

        Dalam pernyataannya, Amien mengusulkan dua hal yang menurutnya perlu menjadi perhatian pemerintah dalam menjalankan proyek cetak sawah di Papua.

        Pertama, memastikan masyarakat asli Papua menjadi prioritas dalam penyerapan tenaga kerja sehingga manfaat ekonomi dapat dirasakan langsung oleh warga setempat.

        Kedua, menjaga keberadaan pangan lokal seperti sagu agar tetap dilestarikan dan tidak tergeser oleh pengembangan lahan pertanian baru.

        "Kalau cetak sawah ini berhasil dan dilakukan dengan cara yang benar, maka yang mendapatkan manfaat paling dekat dan paling besar tentu harus saudara-saudara kita di Papua sendiri," ujar Amien.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Ferry Hidayat
        Editor: Ferry Hidayat

        Bagikan Artikel: