Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Berawal dari Trader Retail hingga Tapaki Trader Institusi, Begini Perjalanan Ardy CEO Trader

        Berawal dari Trader Retail hingga Tapaki Trader Institusi, Begini Perjalanan Ardy CEO Trader Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Pelaku pasar di dunia trading tidak hanya berasal dari kalangan trader retail. Di balik pergerakan pasar keuangan global, terdapat trader institusi yang bertugas mengelola dana perusahaan untuk berbagai kepentingan, termasuk lindung nilai (hedging) terhadap risiko fluktuasi nilai tukar.

        Trader institusi umumnya mengelola dana perusahaan yang ditempatkan pada berbagai instrumen keuangan seperti saham, obligasi, valuta asing (forex), maupun aset kripto. Aktivitas tersebut bertujuan membantu perusahaan menjaga stabilitas arus kas, terutama bagi perusahaan yang menjalankan bisnis ekspor dan impor sehingga rentan terhadap pelemahan maupun penguatan mata uang.

        Profesi inilah yang pernah dijalani Ahmad Darowardy, yang lebih dikenal dengan nama Ardy CEO Trader.

        Ardy merupakan trader profesional, edukator finansial, sekaligus pendiri Sigma Sniper Trader Community. Dengan pengalaman lebih dari 17 tahun di industri perdagangan berjangka, ia aktif membagikan edukasi mengenai pasar keuangan, ekonomi, serta kebijakan moneter global kepada sekitar 65.000 pengikut di akun TikTok @ardy_ceo_trader.

        Ardy mengaku mulai mengenal dunia trading pada 2009 saat masih duduk di bangku kuliah. Saat itu ia justru memandang perdagangan forex sebagai sesuatu yang tidak meyakinkan.

        Namun setelah mempelajari mekanisme pasar lebih dalam, pandangannya berubah. Ia menyadari bahwa aktivitas perdagangan valuta asing tidak hanya dilakukan oleh trader retail, tetapi juga dimanfaatkan oleh perusahaan keuangan, pelaku usaha, perbankan hingga pemerintah sebagai bagian dari strategi pengelolaan risiko.

        Perjalanan tersebut tidak berjalan mulus. Ardy mengaku sempat mengalami kerugian besar pada masa awal belajar. Meski demikian, ia terus mengevaluasi strategi yang digunakan hingga akhirnya menemukan metode yang mampu menghasilkan keuntungan secara konsisten.

        Pada usia 25 tahun, Ardy berhasil membukukan keuntungan sebesar Rp1 miliar dari aktivitas trading. Pencapaian itu kemudian membawanya berkarier di sebuah institusi keuangan global.

        Sebelum menjadi trader institusi, Ardy mengaku menjalani keseharian layaknya trader retail pada umumnya.

        "Dulu saya trading di kafe-kafe, nongkrong sampai malam cari Wi-Fi gratis, trading menggunakan MetaTrader 4 melalui laptop sambil ngopi," ujar Ardy.

        Ia mengatakan portofolio awal yang dikelolanya memiliki modal sekitar 3.000 dolar AS. Strategi yang diterapkan saat itu adalah hanya melakukan transaksi ketika terdapat rilis data ekonomi penting (news trading), sehingga tidak perlu melakukan transaksi setiap hari.

        Menurutnya, pendekatan tersebut membantu menghindari overtrading sekaligus menjaga tingkat penurunan nilai portofolio (drawdown) tetap di bawah 10%.

        Dalam kurun waktu satu tahun, Ardy mengklaim mampu membukukan keuntungan sekitar 12.000 dolar AS atau setara imbal hasil sekitar 400% dari modal awal.

        Kinerja tersebut kemudian menarik perhatian sebuah perusahaan keuangan setelah portofolionya direkomendasikan oleh seorang rekan.

        Meski demikian, perusahaan tidak langsung merekrutnya. Ardy terlebih dahulu mengikuti proses seleksi melalui pengelolaan akun riil senilai 10.000 dolar AS selama satu bulan. Setelah dinilai memenuhi kriteria, ia dipercaya menangani dana perusahaan senilai sekitar 400.000 dolar AS sebagai corporate FX trader.

        Selama bekerja sebagai trader institusi, Ardy bertugas mengelola eksposur valuta asing perusahaan, terutama pada pasangan mata uang utama (major pairs) seperti euro, pound sterling, dan yen Jepang.

        Berbeda dengan trader retail yang umumnya mengandalkan analisis teknikal maupun fundamental, Ardy mengatakan trader institusi lebih banyak menggunakan pendekatan global macro.

        Menurutnya, analisis global makro digunakan untuk mengidentifikasi potensi penguatan maupun pelemahan mata uang dalam jangka panjang melalui kondisi ekonomi suatu negara.

        Ia mencontohkan, hedge fund global seperti Ray Dalio juga dikenal menggunakan pendekatan tersebut dalam menyusun strategi investasi.

        Selain menganalisis kondisi ekonomi makro, Ardy juga memperhatikan kebijakan bank sentral, seperti hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC) di Amerika Serikat maupun European Central Bank (ECB) di kawasan Eropa.

        Ardy menilai perbedaan paling mencolok antara trader retail dan trader institusi terletak pada perangkat kerja yang digunakan.

        Trader retail umumnya menggunakan platform MetaTrader, sedangkan trader institusi memanfaatkan Bloomberg Terminal yang menyediakan data pasar secara real time, analisis ekonomi, hingga fasilitas transaksi langsung ke pasar valuta asing melalui sistem FXGO.

        Ia menjelaskan, sebelum dapat menggunakan Bloomberg Terminal, seorang trader harus terlebih dahulu mempelajari Bloomberg Market Concepts (BMC) dan dinyatakan lulus.

        Baca Juga: OJK Dorong Digitalisasi Jadi Penggerak Produktivitas Nasional

        Menutup kisahnya, Ardy mengingatkan bahwa menjadi trader profesional memerlukan proses panjang sebagaimana profesi lain, seperti dokter, pengacara, pilot, atlet, maupun musisi.

        Menurutnya, kesuksesan di dunia trading tidak dapat diraih secara instan karena membutuhkan pengalaman, disiplin, serta kemampuan mengelola risiko yang terus diasah selama bertahun-tahun.

        Karena itu, ia mengimbau masyarakat agar berhati-hati terhadap pihak-pihak yang menawarkan keuntungan cepat atau menjanjikan kesuksesan instan melalui aktivitas trading.

        "Kalau ada yang tiba-tiba mengajak menjadi trader dan menjanjikan bisa sukses secara instan atau cepat kaya, biasanya itu patut diwaspadai," kata Ardy.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Amry Nur Hidayat

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: