Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Wamenkomdigi Nezar: Humas Pemerintah Harus Kuasai Algoritma Media Sosial demi Jaga Kepercayaan Publik

        Wamenkomdigi Nezar: Humas Pemerintah Harus Kuasai Algoritma Media Sosial demi Jaga Kepercayaan Publik Kredit Foto: Yulisha Kirani Rizkya Pangestuti
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria menilai humas pemerintah perlu memahami cara kerja algoritma media sosial agar komunikasi kebijakan tetap efektif di tengah perubahan lanskap digital.

        Menurutnya, keberhasilan komunikasi pemerintah kini tidak lagi hanya bergantung pada penyampaian informasi, tetapi juga kemampuan membaca dinamika percakapan publik di berbagai platform digital.

        Nezar mengatakan tujuan utama komunikasi pemerintah adalah membangun sekaligus mempertahankan kepercayaan masyarakat. Untuk itu, pemerintah harus mampu menunjukkan kompetensi, kejujuran, keadilan, dan tanggung jawab dalam setiap penyampaian kebijakan.

        Goal government PR adalah maintaining the trust in the government. Bagaimana caranya memelihara trust itu? Kita harus bisa meyakinkan publik bahwa pemerintah itu kompeten, jujur, adil, dan bertanggung jawab dalam memperjuangkan kepentingan publik,” ujar Nezar dalam Diskusi Publik dan Bedah Buku Komunikasi Kebijakan di Kantor Komdigi, Jakarta Pusat, Rabu (15/7/2026).

        Ia menjelaskan, pola penyebaran informasi di media sosial sangat dipengaruhi oleh algoritma yang membentuk fenomena filter bubble dan echo chamber. Kondisi tersebut membuat pengguna lebih sering menerima informasi yang selaras dengan pandangan mereka, sehingga memengaruhi cara masyarakat memahami suatu isu.

        Karena itu, menurut Nezar, humas pemerintah tidak dapat hanya mengandalkan pendekatan komunikasi konvensional. Mereka perlu memahami logika media sosial agar mampu menyusun strategi komunikasi yang sesuai dengan karakter platform digital.

        “Yang namanya filter bubble dan echo chamber adalah hasil algoritma. Celakanya, kita tidak bisa mengubah algoritma karena bukan kita yang memilikinya. Yang bisa kita lakukan adalah membaca secara jeli bagaimana social media logic. Kalau kita sudah mempelajari social media logic, kita bisa memenangkan narasi itu, step by step,” katanya.

        Selain memahami algoritma, Nezar menilai keberhasilan komunikasi juga dipengaruhi kemampuan memilih komunikator yang tepat, menyusun pesan dengan diksi yang relevan, serta memanfaatkan momentum ketika isu berkembang di ruang digital.

        Menurutnya, kemampuan berpikir kritis dan mendengarkan percakapan publik menjadi modal penting untuk menghadirkan narasi yang berbasis fakta.

        Baca Juga: Strategi Wamenkomdigi Nezar Patria Bangun Ruang Digital Aman Bagi Anak

        Baca Juga: Wamen Nezar Patria: Festival Film Keluarga Bisa Jadi Model Baru Sosialisasi PP TUNAS

        Ia juga mendorong insan humas pemerintah meningkatkan kemampuan analisis data. Dengan memanfaatkan pendekatan data science, humas dinilai dapat memetakan aktor, pola penyebaran informasi, hingga perkembangan isu sebagai dasar penyusunan strategi komunikasi yang lebih efektif.

        “Yang penting sekarang adalah kemampuan kita membaca data. Data science sangat membantu pekerjaan teman-teman humas. Kalau kita tidak belajar, kita akan kalah terus dalam pertarungan. Jadi, penting untuk membekali diri dengan instrumen-instrumen yang bisa mempertajam kemampuan kita mewartakan pesan secara lebih scientific,” ujar Nezar.

        Menutup pemaparannya, Nezar menegaskan bahwa seluruh strategi komunikasi pemerintah pada akhirnya harus bermuara pada upaya menjaga kepercayaan publik. Menurutnya, kredibilitas pemerintah hanya dapat dipertahankan melalui penyampaian informasi yang jujur, adil, bertanggung jawab, serta berorientasi pada kepentingan masyarakat.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Yulisha Kirani Rizkya Pangestuti
        Editor: Fajar Sulaiman

        Bagikan Artikel: