Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Bahlil Soal Proyek LNG Abadi Masela: Sudah Enam Presiden, Baru Prabowo yang Bisa Eksekusi

        Bahlil Soal Proyek LNG Abadi Masela: Sudah Enam Presiden, Baru Prabowo yang Bisa Eksekusi Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menyebut Presiden Prabowo Subianto menjadi kepala negara yang berhasil memulai pembangunan proyek LNG Abadi Masela di Kepulauan Tanimbar, Maluku, setelah proyek tersebut tertunda selama hampir tiga dekade.

        Menurut Bahlil, sejak cadangan gas Lapangan Abadi ditemukan pada 1998, proyek strategis tersebut belum juga terealisasi meski telah melewati enam periode pemerintahan.

        "Proyek Abadi Masela ini sudah dicanangkan 28 tahun lalu, sudah enam presiden. Presiden Prabowo Subianto lah yang bisa mengeksekusi hari ini," ujar Bahlil saat groundbreaking proyek LNG Abadi Masela di Tanimbar, Maluku, Kamis (16/7/2026).

        Ia menjelaskan, salah satu penyebab molornya proyek adalah perdebatan panjang mengenai konsep pengembangan, yakni apakah fasilitas pengolahan gas dibangun di laut (offshore) atau di darat (onshore).

        Bahlil mengatakan proyek akhirnya bergerak setelah Presiden Prabowo memerintahkan Kementerian ESDM mempercepat eksekusi seluruh perizinan yang telah rampung serta menegaskan komitmen pengembang.

        "Atas arahan dan perintah Bapak Presiden kepada kami untuk segera mengeksekusi, melakukan asistensi, dan memberikan penegasan kepada seluruh konsesi perizinan yang sudah selesai POD tapi tidak dilaksanakan," katanya.

        Proyek LNG Abadi Masela memiliki nilai investasi sekitar US$20,95 miliar atau setara Rp390 triliun. Fasilitas tersebut dirancang memiliki kapasitas produksi 9,5 juta ton LNG per tahun serta 35.000 barel kondensat per hari.

        Bahlil memastikan sekitar 60% produksi gas dari proyek tersebut akan dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan energi nasional.

        Selama tahap konstruksi, proyek diperkirakan menyerap sekitar 12.000 tenaga kerja. Karena itu, ia meminta pengembang mengutamakan masyarakat Maluku sebagai tenaga kerja, terutama untuk pekerjaan yang sesuai dengan kompetensi lokal.

        "Tenaga kerja yang profesional kita ambil dulu dari Tier 1 sama Tier 2. Selama ada di sini, pakai dulu di sini. Jangan sampai anak daerah menganggap investasi masuk tidak memprioritaskan mereka," ujarnya.

        Proyek LNG Abadi Masela berlokasi di Lapangan Abadi, Blok Masela, Laut Arafura, sekitar 750 kilometer di selatan Ambon.

        Pengembangannya mencakup fasilitas produksi bawah laut, Floating Production Storage and Offloading (FPSO), jaringan pipa gas, kilang LNG darat di Pulau Yamdena, serta fasilitas Carbon Capture and Storage (CCS) untuk menangkap dan menyimpan emisi karbon dioksida dari proses produksi gas.

        Proyek tersebut dikembangkan oleh konsorsium INPEX Masela Ltd. (65%), Pertamina Hulu Energi Masela (20%), dan PETRONAS Masela (15%).

        Baca Juga: Presiden Prabowo Apresiasi Sinergi Semua Pihak Wujudkan Proyek LNG Abadi Masela

        Baca Juga: Groundbreaking Kilang Gas Tandai Babak Baru Proyek LNG Abadi Masela

        Di lokasi yang sama, Presiden dan CEO Inpex Corporation, Takayuki Ueda, menegaskan proyek LNG Abadi memiliki arti strategis, bukan hanya bagi perusahaan, tetapi juga bagi Indonesia dan kawasan.

        "Proyek ini sangat, sangat penting—bukan untuk INPEX, melainkan untuk Indonesia, Provinsi Maluku, dan daerah setempat," kata Ueda.

        Ia mengatakan proyek tersebut akan menjadi fondasi pertumbuhan ekonomi jangka panjang sekaligus memperkuat ketahanan energi kawasan Indo-Pasifik.

        Menurutnya, Inpex juga berkomitmen mempercepat pengembangan proyek, meningkatkan penggunaan tenaga kerja lokal, serta membangun kemitraan jangka panjang dengan masyarakat sekitar selama masa operasi yang diperkirakan berlangsung lebih dari 40 tahun.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
        Editor: Dwi Aditya Putra

        Bagikan Artikel: