Analis Sebut Valuasi Saham TUGU Belum Mencerminkan Fundamental Perusahaan
Kredit Foto: Istimewa
PT Asuransi Tugu Pratama Indonesia Tbk (TUGU) kembali memperoleh sentimen positif dari kalangan analis. Semesta Indovest Sekuritas memulai cakupan riset terhadap emiten asuransi umum tersebut dengan rekomendasi beli dan target harga Rp1.725 per saham.
Analis Semesta Indovest Sekuritas Nicholas Dharmawan menilai valuasi TUGU saat ini belum mencerminkan kualitas fundamental perusahaan. Menurutnya, saham TUGU masih diperdagangkan pada kisaran 0,4 kali price-to-book value (PBV), jauh lebih rendah dibandingkan rata-rata perusahaan asuransi umum, meskipun memiliki permodalan yang solid, profitabilitas yang terus membaik, dan prospek pertumbuhan yang menarik.
"Kami menginisiasi riset TUGU dengan rekomendasi BUY dan target harga Rp1.725 per saham. Kami melihat valuasi TUGU saat ini masih terlalu murah dibandingkan prospek pertumbuhan laba dan kualitas fundamentalnya," ujar Nicholas yang dikutip di Jakarta, Kamis (16/7/2026).
Menurut Nicholas, terdapat dua faktor utama yang akan menopang pertumbuhan kinerja TUGU dalam beberapa tahun ke depan. Pertama adalah meningkatnya disiplin underwriting yang mendorong perbaikan rasio operasional perusahaan.
Kedua adalah kenaikan pendapatan investasi seiring membesarnya portofolio investasi dan masih tingginya tingkat suku bunga. Kedua faktor tersebut diperkirakan mampu mendorong laba bersih TUGU tumbuh dari Rp711 miliar pada 2025 menjadi sekitar Rp942 miliar pada 2027.
Selain prospek pertumbuhan laba, TUGU juga dinilai memiliki sejumlah keunggulan kompetitif yang sulit ditandingi. Dari sisi keuangan, TUGU juga memiliki posisi permodalan yang kuat. TUGU mampu mempertahankan rating global dari pemberi rating asuransi terkemuka AM Best Financial Strength Rating A- dari AM Best selama 10 tahun berturut-turut.
Menurut Nicholas, rekam jejak tersebut menunjukkan kekuatan modal, kualitas manajemen risiko, serta kredibilitas TUGU dalam memperoleh kapasitas reasuransi untuk menangani proyek-proyek bernilai besar.
Prospek industri juga dinilai masih mendukung. Penetrasi asuransi di Indonesia memang masih tergolong rendah, namun segmen asuransi umum justru menunjukkan pertumbuhan yang lebih baik dibandingkan industri secara keseluruhan. Kondisi tersebut memberikan ruang ekspansi yang masih sangat besar bagi perusahaan dengan kapasitas underwriting dan modal yang kuat seperti TUGU.
Baca Juga: Tugure Fasilitasi Kolaborasi Industri Asuransi di Tengah Dinamika Bisnis
Baca Juga: AAUI Ingatkan Tantangan Integrasi dalam Rencana Merger Asuransi BUMN
Di luar faktor fundamental, perhatian investor juga tertuju pada wacana konsolidasi perusahaan asuransi umum BUMN di bawah ekosistem Danantara. Nicholas menilai perkembangan tersebut merupakan katalis yang layak diperhatikan, meski hingga saat ini prosesnya masih berada pada tahap awal sehingga belum dapat disimpulkan bagaimana bentuk maupun dampaknya terhadap nilai perusahaan.
Ia menjelaskan bahwa konsolidasi di industri asuransi memiliki kompleksitas yang berbeda dibandingkan sektor perbankan. Dalam transaksi asuransi, perusahaan tidak hanya menggabungkan aset dan modal, tetapi juga mengambil alih portofolio risiko, kewajiban klaim, serta kecukupan cadangan dari entitas yang bergabung. Karena itu, proses integrasi biasanya membutuhkan waktu lebih panjang dan analisis yang lebih mendalam.
Meski demikian, Nicholas berpandangan TUGU berada dalam posisi yang menguntungkan apabila konsolidasi tersebut benar-benar terealisasi. TUGU memasuki periode tersebut dengan modal yang kuat, disiplin underwriting yang telah teruji, serta hubungan bisnis yang telah dibangun selama puluhan tahun sehingga berpotensi memperoleh tambahan pangsa pasar tanpa menghadapi risiko integrasi sebesar perusahaan lain.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Fajar Sulaiman
Editor: Fajar Sulaiman
Tag Terkait: