Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Rupiah Ditutup Menguat ke Rp17.921, Didorong Sentimen Positif Survei BI

        Rupiah Ditutup Menguat ke Rp17.921, Didorong Sentimen Positif Survei BI Kredit Foto: Sufri Yuliardi
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat 65 poin pada perdagangan Jumat (17/7/2026) akhir pekan. Mata uang Garuda terparkir di level Rp17.921 dari penutupan sebelumnya Rp17.986 per USD.

        Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan penguatan rupiah dipicu oleh rilis hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) periode kuartal II-2026 di lakukan Bank Indonesia, di mana ktivitas dunia usaha terpantau meningkat.

        "BI melaporkan Saldo Bersih Tertimbang (SBT) pada kuartal II-2026 berada di 12,97%, meningkat dibandingkan kuartal sebelumnya yakni 10,11%," kata Ibrahim kepada wartawan.

        Meningkatnya kegiatan usaha tersebut didorong oleh kenaikan kinerja mayoritas Lapangan Usaha (LU) utama, antara lain LU Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan, LU Konstruksi, dan LU Pertambangan dan Penggalian sejalan dengan aktivitas usahanya, serta LU Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum sejalan dengan permintaan terjaga pada rangkaian periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) dan high season liburan sekolah pada triwulan II-2026.

        Sejalan dengan itu, lanjut Ibrahim, kapasitas produksi terpakai pada kuartal II-2026 tercatat sebesar 73,8%. Lebih tinggi ketimbang realisasi kuartal sebelumnya yang sebesar 73,33%.

        Peningkatan kapasitas produksi terpakai terutama ditopang oleh LU Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan, LU Pertambangan dan Penggalian, dan LU Pengadaan Listrik. Sementara itu, kondisi keuangan dunia usaha secara umum tetap baik pada aspek likuiditas maupun rentabilitas, dengan akses kredit yang tetap mudah.

        Untuk kuartal III-2026, responden memperkirakan aktivitas dunia usaha sedikit melambat dengan SBT di 11,75%. Kinerja lapangan usaha yang diperkirakan meningkat adalah LU Industri Pengolahan, LU Perdagangan Besar dan Eceran, serta Reparasi Mobil dan Motor sejalan dengan prakiraan terjaganya permintaan masyarakat, serta LU Konstruksi seiring dengan berlanjutnya pengerjaan sejumlah proyek pemerintah dan swasta. 

        Baca Juga: Rupiah Menguat ke Rp17.958 per dolar AS, Analis Waspadai Rebound Dolar AS

        Baca Juga: Perkuat Daya Saing UMKM, Bank Indonesia Kembali Gelar Karya Kreatif Sumatera Utara 2026

        Selain itu, kinerja kegiatan usaha pada LU Pertambangan dan Penggalian juga diprakirakan meningkat. Hal ini dipengaruhi oleh penurunan curah hujan sehingga mendorong kenaikan aktivitas pertambangan.

        Dalam survei lain, Prompt Manufacturing Index Bank Indonesia (PMI BI) mencatatkan kinerja industri pengolahan berada di level 51,43% pada kuartal II/2026, lebih rendah dari periode sebelumnya sebesar 52,03%. 

        BI mencatat bahwa PMI BI itu didorong oleh ekspansi (>50%) pada beberapa komponen, seperti Volume Produksi (53,81%), Volume Persediaan Barang Jadi (53,00%), serta Volume Total Pesanan (52,77%).

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Dwi Aditya Putra
        Editor: Dwi Aditya Putra

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: