Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
PT PLN (Persero) mencatat surplus produksi hidrogen hijau mencapai 128 ton per tahun. Kelebihan pasokan tersebut berasal dari 24 pembangkit yang tersebar di 21 lokasi di Jawa, satu lokasi di Bali, dan dua lokasi di Sumatra.
Secara keseluruhan, produksi hidrogen hijau PLN mencapai 203,6 ton per tahun. Dari jumlah itu, sekitar 75 ton dimanfaatkan untuk kebutuhan pendinginan generator pembangkit.
Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, mengatakan produksi hidrogen selama ini telah menjadi bagian dari operasional pembangkit. Namun, volume yang dimanfaatkan masih jauh lebih rendah dibandingkan kapasitas produksinya.
“Sebenarnya, untuk sistem pendinginnya pembangkit menggunakan hidrogen, maka produksi hidrogen kita itu setahun ada 203 ton. Nah, dari 203 ton per tahun, hanya 75 ton yang dimanfaatkan. Sisanya 130 ton, itu surplus,” kata Darmawan dalam gelaran Green Hydrogen Ecosystem Summit (GHES) di Jakarta, Selasa (21/7/2026).
Surplus hidrogen tersebut diproyeksikan dapat melayani sekitar 438 kendaraan berbahan bakar hidrogen. Pemanfaatannya juga berpotensi menghemat konsumsi bahan bakar minyak hingga 1,59 juta liter per tahun serta mengurangi emisi karbon sekitar 4,15 juta kilogram CO2 per tahun.
Untuk memanfaatkan kelebihan produksi tersebut, PLN menggandeng PT Pertamina (Persero) dalam membangun rantai pasok hidrogen. Dengan skema itu, pasokan untuk sektor transportasi tidak membutuhkan tambahan produksi baru.
“Jadi kita tidak menambah produksi hidrogen. Kita produksi 200 ton yang dipakai 75 ton, sisanya 125 ton itu menganggur. Maka dijadikan rantai pasok di sini,” katanya.
Salah satu tujuan pemanfaatan surplus tersebut ialah memasok Hydrogen Refueling Station atau HRS PLN di Senayan, Jakarta. Infrastruktur pengisian dan pasokan hidrogennya telah tersedia, tetapi belum dimanfaatkan secara optimal karena belum ada kendaraan yang menggunakannya.
“Jadi kalau hydrogen refueling station itu sudah ada dan siap pakai, tapi mobilnya belum ada,” ujar Darmawan.
PLN juga telah berdiskusi dengan sejumlah produsen untuk menghadirkan bus berbasis hidrogen. Menurut Darmawan, pilihan kendaraan tersedia dari produsen asal Jepang, Jerman, dan China.
Baca Juga: HRS Senayan Sudah Siap, Bos PLN: Mobil Hidrogennya Belum Ada
Baca Juga: Butuh 152 Juta Ton, Kontrak Batu Bara PLN Belum Rampung
“Tinggal kita mencari mobil bus hidrogen. Tadi juga sudah diskusi dengan Toyota, ada Toyota Sora, itu bus sudah siap. Kemudian dari Jerman juga ada, dari China juga ada,” sambungnya.
Selain untuk transportasi, hidrogen turut diarahkan untuk mendukung program dedieselisasi pembangkit listrik tenaga diesel. Ke depan, teknologi tersebut diproyeksikan menjadi salah satu pilihan penyimpanan energi dalam sistem kelistrikan.
“Hidrogen menjadi salah satu moda energy storage yang insyaallah nanti ke depannya is only one way forward, tapi multi ways to move forward, yaitu salah satunya menggunakan hidrogen,” tutup Darmawan.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: