Kredit Foto: Muchlis Jr - Biro Pers Sekretariat Presiden
Peneliti senior Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Mohamad Sobary, menilai keris menjadi simbol senjata politik Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka sekaligus Presiden ke-7 Joko Widodo (Jokowi).
Sobary mengibaratkan Gibran kini menaruh keris di pinggang, belum dicabut di hadapan Presiden Prabowo Subianto. Hal ini ia sampaikan saat membahas dugaan bahwa Jokowi menginstruksikan Gibran agar tidak duduk sejajar dengan Prabowo dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Senin (20/7/2026), melainkan sejajar dengan para Menteri Koordinator.
"Belum belum setajam itu. Kerisnya disengkelit ditaruh di bagian belakang ini diputar. Oh diputar ke depan. Belum dicabut keris itu, sudah di depan. Itu masa damai. Keris itu hiasan," ujar budayawan itu dalam Forum Keadilan TV, dikutip Jumat (24/7).
"Hiasan dan itu ya sebutannya tentu bukan hiasan itu penggunaan keris yang memang begitu cara Jawa, Kalau sekarang ada di samping. Sekarang kerisnya itu ada di samping," imbuhnya.
Menurutnya, posisi keris di pinggang adalah simbol kesiapan.
Baca Juga: Setelah Kursi Kabinet, Kini Posisi Gibran di Pelantikan Kepala BGN Jadi Perhatian
"Siap untuk siap untuk dicabut sewaktu-waktu. Siap pertempuran. Siap berani apa? karena begini Bung. Jokowi itu simbolnya lembut. Simbolnya lembut tapi itu dinyatakan blak-blakan," ujar Sobary.
Sobary juga menyinggung wacana Prabowo–Gibran 2029. Ia menduga Jokowi mulai menyadari bahwa Prabowo mungkin tidak menghendaki Gibran sebagai penerus.
"Ya karena enggak menghendaki anakku ya apa boleh buat. Ini suatu realitas yang memberikan tantangan. Jadi kalau anakku enggak boleh bersama dia, ya anakku kan bisa sendiri. Karena itu keris mesti sudah ada di samping," tandasnya.
Sementara itu, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi memberikan klarifikasi resmi terkait posisi duduk Gibran. Ia menegaskan bahwa perubahan tata letak meja sidang murni karena kebutuhan teknis operasional, bukan karena adanya keretakan politik.
"Kalau saudara-saudara kemarin perhatikan adalah bapak presiden berada di tengah-tengah. Dan kalau yang dipertanyakan adalah posisi dari bapak wakil presiden, kalau menurut kami ini hanya masalah kebutuhan teknis semata, tidak ada hal-hal lain yang mungkin perlu dikhawatirkan," ujar Prasetyo.
Baca Juga: 'Anak Dipaksa, Bapak Gila Kekuasaan': Gibran Jadi Korban
Sebelumnya, Ketua DPP PSI Bestari Barus menyebut Jokowi menginstruksikan PSI untuk mengawal Prabowo–Gibran hingga dua periode. Pesan itu disampaikan langsung Jokowi saat bertemu di Solo, Kamis (18/6/2026).
"Kepada kami beliau menyampaikan kok bahwa kita itu diminta untuk mengawal Pak Prabowo-Gibran ini, bahkan ya, bahkan, bahkan sampai dua periode. Jadi nggak ada itu fitnahan, fitnahan tentang bakal ada dua matahari. Matahari gimana bisa dua? ada-ada aja," kata Bestari kepada wartawan, Jumat (18/6).
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Editor: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Tag Terkait: